
-- Selamat membaca --💖💖
Emira dan Bunda Daniah berganti baju steril dan masuk ke dalam ruanga ICU khusus. Melihat tubuh rentan nenek yang di penuhi oleh selang dan alat bantu pernafasan membuat dada Emira terasa sesak. Hingga pada akhirnya dia tidak sadarkan diri.
Emira di pindahkan ke ruang rawat vvip, masih di lantai yang sama dengan nenek.
"Bun." Panggil Emir memasukin ruangan Emira.
Emir baru saja tiba di Rumah sakit dan langsung menuju lantai 8 dimana ruang rawat keluarga nya berada. Emir mendekat ke ranjang rawat dan melihat Emira berbaring disana dalam kondisi yang memprihatinkan.
"Emir, kamu sudah sampai nak ?" tanya bunda Daniah.
"Iya bun. bagaimana kondisi Emira ?" tanya Emir yang saat ini sudah duduk di sebelah ranjang sang istri, mengusap kening Emira dan menautkan jarinya di tangan Emira yang sudah terpasang inpus.
"Kata Azam, Emira hanya kelelahan dan syok, sebentar lagi pasti bangun."
"Syukurlah, terimakasih bu." ucap Emir yang hanya di tanggapi senyuman oleh bunda Daniah.
"Lalu bagaimana kondisi Nenek?" tanya Emir lagi.
Raut wajah bunda Daniah langsung berubah sendu, dia menggeleng tanda tidak baik.
"Bunda istirahatlah, biar Emir yang menemani Emira."
Tidak beberapa lama, Emira mulai mengerjapkan matanya, saat pencahayaan dari lampu mulai menerobos indra penglihatan nya. Dia melihat ke sekeliling, mengamati ruangan, dan pandangannya terhenti pada sosok pria yang sangat dia rindukan dan butuhkan kehadirannya.
"Mas." Panggil Emira dengan suara yang sangat lirih. Suaminya tengah mengenakan pakaian, sepertinya baru saja mandi karena rambutnya masih basah dan sedikit membasahi wajahnya.
Emir yang mendengar panggilan sang istri lantas menghampiri Emira.
"Kamu sudah sadar?." tanya Emir memastikan keadaan istrinya, mengecek nadi dan infus yang menancap pada tangan istrinya.
Emira hanya mengangguk, raut wajahnya jelas menampilkan kerinduan mendalam, begitu juga dengan Emir.
Mungkin benar pepatah itu, Cinta akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu, meskipun pernikahan mereka baru terhitung beberapa minggu, namun Emira tidak bisa berbohong, hatinya bergetar jika dekat dengan suaminya, bahkan dirinya masih terlihat sangat gugup mesti dalam keadaan sakit.
Emir duduk di dekat ranjang sang istri, membelai pucuk kepala Emira dan mengusap wajahnya dengan sayang. Memandang lekat wajah Emira. Emira yang di pandang intens oleh Emir benar - benar tidak bisa berkutik, jantung nya sudah berdetak sangat cepat dan Emira rasa Emir dapat mendengarnya.
"Nenek bagaimana mas ?." Tanya Emira.
"Masih sama seperti yang kau lihat sebelumnya." Jawab Emir sambil mengusap tangan Emira.
"Apakah nenek bisa sembuh mas ?"
"Kita berdoa saja, saat ini dokter sedang melakukan yang terbaik untuk kondisi nenek." Terang Emir.
__ADS_1
"Tolong sembuhkan nenek mas." pinta Emira dengan suara yang menahan tangis.
"Hemm." Emir mengangguk, mengiyakan permintaan istrinya, dia tidak ingin Emira terlalu banyak pikiran, apalagi sampai stres.
Emir tau hanya nenek yang selama ini menjadi sandaran hidup istrinya, dia juga tidak ingin melihat istrinya bersedih.
**
2 hari sudah berlalu, Emira sudah tidak mendapatkan perawatan, dan dia juga sudah mulai masuk sekolah kembali,
Di Rumah Sakit
Di ruangan dasar, tepatnya ruang resepsionis perawat, beberapa suster tengah membicarakan perihal kedatangan keluarga dokter Emir, dan seseorang yang sedang di rawat di lantai 8 sana.
Memang hanya dokter dan suster pilihan yang bisa memasuki lantai 8, dan orang - orang itu juga tidak di izinkan untuk memberikan informasi apapun pada yang lain nya, tentang apa yang terjadi di sana.
Beberapa suster yang kepo terus membicarakan keluarga Dokter Emir, tanpa mereka sadari seseorang sudah berdiri di belakang mereka, berpura pura mengecek data medis pasien.
"Siapa yang sedang di rawat, kenapa kakek tidak memberitahu tentang ini padaku." Batin Dokter Fera.
"Aku harus mencari tahunya." gumam dokter Fera kemudian berlalu dari tempat itu.
Dokter Fera mendatangi orang yang sudah pasti mengetahui ini semua.
tok tok tok
"Dokter Fera, Ada perlu apa anda menemui saya ?" tanya Dokter Azam.
"Siapa yang di rawat dok?"
"Siapa yang anda maksud Dokter Fera ?" Bukan menjawab, Dokter Azam malah balik bertanya.
Dokter Fera mendengus kesal, percuma memang bertanya pada Dokter Azam, dia kan sebelas dua belas dengan Dokter Emir.
"Apa keluarga Emir sedang ada yang sakit? aku dengar ada yang di rawat di lantai 8, bukan kah lantai 8 itu khusus untuk keluarga Emir saja ?"
Dokter Azam tidak langsung menjawab, dia kembali mengecek berkas data pasien yang tadi sedang di bacanya, namun harus berhenti karena tiba tiba pintu dibuka.
"Anda tidak perlu tau Dokter Fera, dan anda juga tidak perlu mencari tau." Jawab Dokter Azam tegas.
"Jika tidak ada yang ingin anda katakan lagi, sebaiknya anda keluar Dokter Fera, maaf, saya sedang sibuk." Sambung Dokter Azam.
"Jangan terlalu sombong Dokter Azam, jangan mentang - mentang Dokter Barra sangat menyayangi mu, menjadikan mu besar kepala."
Dokter Azam tersenyum menyeringai, dia meletakan kembali berkas yang tengah di periksa, dan memandang Dokter Fera dengan tatapan intens.
__ADS_1
"Apa yang salah dokter Fera ?' Tanya Dokter Azam
"Sebaiknya anda mengurusi diri anda sendiri!, berhentilah mengurusi hidup orang lain!, dan berhentilah menjadi penguntit.!" Sindir Dokter Azam.
Dokter Fera mengepalkan tangannya kuat-kuat, berbicara dengan Azam memang lebih menguras Emosinya. Dia pergi dengan membanting pintu ruangan Dokter Azam.
Tidak berapa lama setelah Dokter Fera keluar tiba tiba terdengar bunyi alarm peringatan.
code blue for the eighth floor, code blue for the eighth floor, code blue for the eighth floor
Azam berlari tergesa gesa menuju lift untuk naik ke lantai 8, saat akan memasuki lift beberapa suster dan dokter yang membantu Dokter Azam juga terlihat tengah berlari ke arahnya.
"Apa yang terjadi dok?" tanya salah satu suster disana.
"Sepertinya kondisi nenek menurun." Mereka semua sudah ada di dalam lift.
Lift berhenti di lantai 5, dan saat lift terbuka di sana sudah ada Dokter Emir yang hendak naik juga ke lantai 8.
"Dokter Emir." sapa para perawat dan dokter di dalam lift tersebut. Mereka memberikan ruang yang cukup untuk Dokter Emir memasuki lift..
"Apa kau sudah menemukan pendonornya ?." tanya Emir pada Dokter Azam tanpa menatapnya, pandangannya lurus ke depan pintu lift yang masih tertutup.
"Belum ada yang cocok dengan nenek. Kebanyakan kondisi mereka tidak baik." Jawab jujur Dokter Azam.
Emir menghela nafasnya kasar.
Lift terbuka di lantai 8 dan mereka semua berlari menuju ruangan nenek, di sana ada 2 suster jaga yang sedang melakukan CPR pada nenek.
"Gantian sus." Dokter Azam mengambil alih dan melakukan pertolongan pertama pada nenek karena tiba tiba jantung nenek berhenti berdetak.
Emir mengamati Azam yang masih berusaha menyelamatkan nenek, perlahan garis denyut jantung berwarna hijau pada monitor mulai kembali normal, Emir dan semua yang ada di sana bernafas lega.
Bahkan nenek mulai membuka matanya, tatapan nya langsung tertuju pada Emir.
Emir yang seolah mengerti akan tatapan sang nenek mendekat ke ranjang nenek.
Pandangan nenek tertuju pada tangan Emir, kemudian Emir perlahan menggenggam tangan nenek dan di respon dengan menggerakan jadi jempolnya.
"To long ... ja ga Emira...." ucap nenek dengan sangat lirih sambil menggenggam tangan Emir. dan tidak lama, Tuuuuuuttttttt..... suara monitor berbunyi sangat nyaring dengan menampak kan garis lurus berwarna hijau pada layar monitor ICU.
Genggaman tangan nenek sudah terlepas, matanya sudah tertutup dan kulitnya juga sudah pucat, Emir terduduk lemas, memejamkan matanya dan meraup wajahnya.
"Emir." panggil Dokter Barra yang baru masuk ke ruangan nenek, tadi beliau sedang ada operasi, sehingga tidak bisa langsung pergi meninggalkan tugasnya.
Emir menggeleng, tanda tidak baik, dan ayah Barra sudah paham akan kondisi ini, dia mengelus pundak anaknya.
__ADS_1
**Bersambung**