Istri Kecil Tuan Muda Xavier

Istri Kecil Tuan Muda Xavier
Bab 20


__ADS_3

"Setelah itu saya tidak tau apa yang terjadi, tetapi setelah kejadian itu beritanya sudah menyebar ke mana-mana dan sejak itu nyonya Karina tidak pernah terlihat lagi di depan publik ataupun pergi mengunjungi tuan Xavier. Tapi beberapa bulan kemudian nyonya Karina dan orang tuannya datang ke kediaman keluarga Chester, mereka ingin meminta pertanggung jawaban tuan Alaric untuk menikah nyonya Karina, karena telah menghamili nyonya Karina. Namun pada saat itu tuan Alaric menolak permintaan itu karena dia merasa itu bukan tanggung jawabnya dan juga kejadian itu jebakan seseorang untuk mengkambing hitamkannya." Ungkap Mila panjang lebar.


"Lalu sekarang, kenapa dia bisa menjadi nyonya di sini?" Keira menatap Mila ingin tau bagaimana kelanjutannya.


Menghela nafas panjang Mila melihat ke depan sambil mengayun ayunkan kakinya.


"Karena orang tua nyonya Karina mengancam jika tuan Alaric tidak mau menikahi anaknya, mereka akan mengumumkannya pada awak media kalau tuan Alaric tidak mau bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Dan tuan Alaric yang mendengar itu terpaksa harus menikah dengan nyonya Karina jika tidak mungkin orang tua nyonya Karina akan menyebarkannya dan membuat reputasi yang tuan Alaric bangun menjadi pria yang baik dan lembut mungkin akan tercoreng." lanjut Mila.


Mila tau semua kebusukan orang orang di kediaman ini, karena sejak kecil sampai sekarang dia selalu berada di sini mungkin bisa di bilang ini adalah rumah kedua selain kontrakannya bersama ibu. Karena setiap pekerja juga di sediakan tempat tidur di sini untuk berehat.


"Ternyata seperti itu, itu adalah hasil dari perbuatannya sendiri. Dia yang menggali lubang dia juga yang masuk sendiri ke lubang itu."


Kedua tangan Keira menopang sisi tubuhnya, sembari mengangkat kepalanya dan melihat daun daun yang berjatuhan sambil menghela nafas panjang. Melirik ke bawah Keira berpikir, mungkin jika Xavier berhasil masuk keperangkap Karina dia tidak bisa berada di sini dan bertemu dengan pria kecil di hadapannya.


"Kenapa ibu menatapku seperti itu?" tanya Shaka bingung sembari mengerutkan keningnya saat melihat tatapan ibu menuju padanya.


Melengkungkan bibirnya ke atas Keira mencubit hidung kecil Shaka, sambil terkekeh dia menjawab.


"Karena ibu bahagia bisa bertemu Shaka dan menjadi orang tua mu."


Mendengar perkataan ibu wajah Shaka tersipu malu,dia memalingkan mukanya yang memerah ke samping sambil menautkan jari-jarinya.


"Aku juga senang ibu menjadi orang tuaku." gumam Shaka rendah.


"Hah apa ibu gak dengar." Keira mendekatkan telinganya ke muka Shaka sambil mengulum senyumnya, dia sebenarnya tau apa yang di bicarakan Shaka tapi Keira hanya ingin mendengarnya secara jelas.


Melihat wajah samping ibu yang terlalu dekat membuat wajah Shaka kembali tersipu.


"A-ku a-ku aku juga senang ibu menjadi orang tuaku." setelah berteriak Shaka langsung mengalungkan lengan kecilnya di leher ibu dan membenamkan wajahnya di leher ibunya yang harum.

__ADS_1


Keira tertawa sangat puas, dia kemudian berdiri dan membawa Shaka kepelukannya.


"Ayo sekarang kita kembali."


"Baik nyonya." Mila berjalan terlebih dahulu untuk membimbingnya takut tersesat karena taman ini sangat luas.


Keira berjalan perlahan di belakang Mila sambil menggendong Shaka, dia mengamati sekelilingnya yang di tumbuhi bunga-bunga yang sangat cantik. Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di dalam rumah.


Keadaan ruang tamu itu sudah kosong, hanya tersisa William yang tengah duduk sendiri di sofa sambil tertunduk lesu, berjalan mendekat Keira mendudukan dirinya di samping William dengan Shaka yang berada dipangkuannya.


"Apa semuanya berjalan lancar?" tanya Keira khawatir karena melihat William yang sangat lesu.


Mendengar suara kakak iparnya William mengangkat wajahnya dan melihat iparnya sudah duduk di samping dia. Seolah melihat penyelamat mata William berbinar kemudian dia menyandarkan kepalanya dibahu Keira berpura pura menyedihkan.


"Ya semuanya sangat lancar karena kakak, mereka tidak bisa melawan kakak yang sangat kuat." ucap William sangat bangga, wajahnya tersenyum sumringah saat memuji muji kakaknya.


"Yah kakakmu sangat hebat." Keira mengulum senyumnya, dia menggosok kepala berbulu williamwilliam dengan sayang.


"Bukannya kakak menyusul kak kei ke taman, kenapa kakak pulang sendiri?" william mengangkat kepalanya dengan raut wajah bingung dari bahu Keira dan melihat sekeliling, tapi dia tidak melihat kakaknya yang seharusnya sudah kembali.


"Tapi kakak tidak bertemu dengannya."


"Apa mungkin tersesat."panik Keira.


"Mana mungkin tersesat, kakak tau kok tata letak semua taman. Mungkin dia sedang berjalan jalan." jawab william enteng.


"Syukur deh." Keira menghela nafas lega lalu menyandarkan punggungnya di sofa.


...----------------...

__ADS_1


Selain itu di sisi lain taman.


"Kenapa…kenapa kamu menikahi perempuan itu! kenapa kamu tidak melihatku sekali saja kenapa, apa kamu pernah menyukaiku sedikit saja Xavier."


"Tidak."


Jawaban yang sangat dingin dan tak berperasaan membuat perasaan Karina hancur berkeping-keping, dia tidak menyangka kebersamaannya bersama Xavier tidak juga meluluhkan hati pria itu yang dingin.


"Kenapa! apa pertemanan kita juga tidak ada artinya bagimu."


"Sejak kapan kita berteman."


Seperti tersambar petir di siang bolong kaki Karina melemas dia tidak bisa menopang tubuhnya dan langsung terduduk lesu di hadapan Xavier. Mengangkat kepalanya, Karina menatap Xavier dengan wajah pucat dan tatapan putus asa.


"A-pa a-pa maksudmu, bukankah sejak kecil kita berteman aku selalu mengikutimu dari belakang."gumamnya rendah.


"Itu hanya anggapanmu sendiri, karena aku tidak pernah menganggapmu ada." ucap Xavier sangat dingin dan kejam tanpa memperdulikan persaan wanita di depannya.


Mendengar pernyataannya yang kejam dan tak berperasaan, wajahnya langsung pucat dan cairan bening mulai luruh dari netranya hingga membasahi pipinya. Karina kemudian mencengkram dadanya yang berdenyut nyeri lalu memukul mukulnya untuk menghilangkan rasa sakit yang dirasanya.


"Kenapa! apa kamu sangat membenciku Karena aku mendorong wanita kesayanganmu ke tangga hingga menyebabkannya koma hah!" jerit Karina putus asa.


Karina mengangkat wajahnya yang berderai air mata dia menatap mata hitam Xavier yang dingin dengan niat membunuh yang membuat hati Karina bergetar ketakutan. Mencengkram tanah di tangannya erat Karina mencoba menahan rasa takutnya.


"Apa karena itu juga kamu menyetujui pernikahan yang di lakukan ayahmu, karena dia sangat mirip dengan wanita yang sangat kau cintai. Bagaimana Jika aku memberitahunya seperti apa ya reaksi dia kalau suami yang selama ini berbagi bantal dengannya hanya menganggapnya sebagai peganti." ucapnya gila dengan senyuman seringai disudut mulutnya.


"Diam! jangan ikut campur dengan urusan ku." desis Xavier tajam dengan aura membunuh menyelimutinya.


Selain itu di balik pohon besar seseorang berdiri dengan tubuh yang bergetar.

__ADS_1


"Apa maksudnya…"


__ADS_2