Istri Kecil Tuan Muda Xavier

Istri Kecil Tuan Muda Xavier
Bab 28


__ADS_3

"Kenapa Kakak bisa sakit? Bagaimana keadaannya Kakak sekarang?"


Setelah Asher tau, kabar kalau Kakaknya sakit, dia langsung bolos dari sekolah dan pergi ke rumah Kakaknya bersama William. 


Karena pernikahan kakaknya, Asher sedikit lebih akrab dengan William. Meskipun mereka satu kelas, tapi mereka tidak terlalu begitu akrab hanya sekedar tau namanya saja. Kepribadian mereka terlalu bertolak belakang,  Asher yang sangat aktif dan suka bergaul sedangkan William terlalu pendiam dan penyendiri suka menarik diri dari semua orang yang ingin mendekatinya. 


"Mungkin karena Kakak kecapean jadi sakit, tapi sekarang Kakak udah mendingan kok, jadi jangan khawatir," jawab Keira tersenyum lemah.  


Seolah ada yang salah, Keira memicingkan matanya tajam menelisik tubuh Asher dan William yang masih dibalut dengan seragam sekolahnya. Lalu melirik jam weaker di meja samping yang menunjukan pukul 14.00 siang. 


"Bukannya sekolah bubar jam 15.00 Sore ya, kenapa kalian pulang jam segini. Atau jangan-jangan kalian… bolos ya." Keira menatap mereka berdua dengan tajam, meski dia terlihat lembut tapi, dia sangat tegas terhadap adiknya. 


Meneguk ludahnya kasar, Asher memalingkan wajahnya ke samping menghindari tatapan tajam Kakaknya. Dia paling takut Jika sudah ditatap tajam seperti ini. Meski dia laki-laki bertubuh tinggi, jika sudah dihadapan kakaknya Asher langsung menciut seperti seekor kelinci yang ketakutan. 


Sedangkan William dia hanya terdiam kaku tidak bergerak, baru kali ini dia ditatap tajam oleh kakak iparnya. Yang membuatnya merasa gugup dan bingung karena telah melakukan kesalahan. 


Dia tidak pernah merasa gugup ataupun takut meski telah berbuat salah, karena kakaknya tidak pernah peduli. Dia hanya membereskan semua kekacauan yang telah diperbuat adiknya, tanpa menanyakan sebab dan akibat dari perbuatannya. 


Melihat reaksi mereka berdua yang terlihat bersalah, Keira sudah menduganya saat mereka sudah pulang terlebih dahulu. Setaunya hari ini sekolah mereka tidak ada acara yang mengharuskan semua siswa/siswinya pulang cepat. 


Kenapa dia tahu, karena setiap ada hal yang harus diberitahukan dari pihak sekolah, wali kelas tiap masing-masing kelas akan menelpon setiap orang tua atau wali siswa. 


"Ternyata benar kalian membolos, bagus… sangat bagus… mau jadi apa kalian nanti jika sekolah saja bolos. Memang kalian sudah sepintar apa hingga sudah berani bolos dari sekolah," ucap Keira dengan nada dingin. 


Iris matanya yang berwarna coklat menatap mereka berdua dingin. Asher dan William hanya menunduk takut melihat mata tajamnya. 


Sedangkan Xavier dia hanya menonton mereka dari samping. Tanpa berniat membantu adiknya yang sedang dimarahi. 


"Maaf Kakak kami salah,"cicit Asher pelan. 


"Aku janji gak akan melakukan hal itu lagi."Asher mengangkat kepalanya menatap Keira dengan sangat meyakinkan. Seakan dia benar-benar berjanji tidak akan melakukan itu lagi. 


Aku hanya ingin tau kondisi kakak saja, kenapa harus berujung menjadi aku yang dimarahi sih. Gerutunya kesal di dalam hati. 


William hanya diam saja menundukan kepalanya, tidak mengeluarkan satu patah kata pun. Dia hanya mengangguk membenarkan perkataan Asher. 

__ADS_1


Melihat William yang hanya diam saja, tidak membantu membujuk kakaknya. Membuat Asher sangat kesal. 


Apa-apaan dia, hanya menganggukan kepala saja. Emangnya itu membantu, bukannya bantu aku membujuk kakak. 


Asher menyenggol lengan William yang duduk di sebelahnya. Mengkodenya untuk membantu membujuk kakaknya. 


Melihat petunjuk dari Asher, William mau tidak mau membantunya. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Keira yang kebetulan juga sedang melihatnya. 


Menekan rasa gugupnya, William langsung mengakui kesalahannya tanpa basa-basi. 


"Maaf Kakak ipar kami salah, kami seharusnya tidak bolos sekolah. Apapun keadaannya, bolos sekolah adalah perbuatan yang tidak terpuji." 


"Ya Kakak aku minta maaf,"timpal Asher melanjuti. 


Melihat mereka mengakui kesalahan dengan jujur, hati Keira langsung lembut. Tatapannya menatap mereka berdua dengan hangat. 


Itu bukan karena mereka mengakui kesalahan, tapi cara mereka untuk bekerja sama mengakui perbuatan salah mereka. 


Terutama William yang akhirnya mau berdekatan dengan orang yang sebaya dengannya. Tidak lagi menutup diri terhadap orang lain, ini adalah suatu kemajuan yang pesat untuk membuatnya bisa berbaur dengan orang lain. 


"Kakak maafin kalian, tapi jika ada sesuatu seperti ini lagi kalian harus meminta izin bukan malah bolos, paham."


"Paham."


"Em."


...*********...


Setelah acara permintaan maaf itu selesai, kini hanya tinggal mereka berdua saja yang berada di kamar. 


Xavier membawa mangkuk berisi bubur hangat untuk memberi makan Keira. Karena tubuh istrinya masih sakit, dia memerintahkan bi Eli untuk membuatkan bubur yang cocok dimakan dan mudah dicerna oleh orang sakit. 


Melihat Xavier yang akan menyuapinya, Keira buru-buru menutup mulutnya lalu menggelengkan kepalanya. 


"Biar aku saja Mas, aku bisa sendiri," tolak Keira halus ingin mengambil alih mangkuk itu.

__ADS_1


Melihat niatnya, Xavier dengan cepat langsung menghindari tangannya.


"Tidak! Keira patuh, biar Mas yang suapin kamu," peringatnya dingin tidak ingin dibantah.


Mendengar nada dingin suaminya, Keira mencebikkan bibirnya kesal. Dia hanya demam, bukan lumpuh yang tidak bisa menggerakan anggota tubuhnya sendiri.


"Iya-iya." pasrah Keira.


Dengan senyum kemenangan, Xavier menyuapi Keira dengan hati-hati dan penuh perhatian. Keira yang disuapi hanya pasrah dan patuh membuka mulutnya, menerima suapan dari suaminya.


"Sejak kapan Mas dan Dr. Keenan saling kenal?" tanya Keira penasaran. 


Sambil menatap Xavier dengan tatapan polosnya yang penuh rasa ingin tahu. Melihat matanya yang berbinar membuat Xavier merasa gemas. 


Ini sangat berbeda dengan tatapannya yang tadi dengan yang sekarang, penuh rasa ingin tahu seperti anak kecil. 


Dengan seulas senyum tipis yang tersemat di sudut bibirnya yang tipis dan seksi. Xavier berkata dengan suara rendah dan magnetis. 


"Sejak aku tidak sengaja membantunya." 


"Hah, membantunya… maksudnya apa?" Keira melihat Xavier dengan penuh tanda tanya. 


"Ya, Mas membantunya saat dia sedang putus asa. Karena sebelum menjadi Dokter yang terkenal, dia pernah menjadi Dokter di rumah sakit kecil tempat dia bekerja. Namun, karena kesalahan salah satu Dokter yang tidak menyukainya, membuat pasien yang sedang ditangani Keenan meninggal," jelas Xavier.


Dia menyuapi istrinya dengan hati-hati dan telaten penuh kelembutan.


"Lalu?" tanya Keira semakin penasaran, sambil menerima suapan dari suaminya.


Bisa-bisanya ada Dokter seperti itu. Gumam Keira tak habis pikir.


"Lalu... Dokter itu menyalahkan semua kesalahannya kepada Keenan. Sehingga membuat opini publik pun percaya kalau Keenan adalah penyebab semua ini. Karena fitnah dan tuduhan semua orang padanya, membuat dia merasa terpuruk dan tidak pernah lagi melakukan operasi pada pasien. Tidak hanya itu saja, saat dia pulang ke rumah dalam keadaan kacau, Keenan melihat istrinya tengah menyiksa putranya yang masih kecil..." lanjutnya menjeda ucapanya.


Keira tidak menyangka akan semenyedihkan ini kehidupan Keenan.


"Lalu apa yang terjadi?"

__ADS_1


__ADS_2