
"Istri…."
Keira sangat jengah dengan kelakuan Xavier yang kekanak-kanakan. Kemana pun dia pergi, Xavier selalu mengekori di belakangnya. Dan memanggilnya seperti anak kecil yang merengek.
"Sayang jangan cuekin Mas." Xavier memeluk Keira dari belakang dan mendusel kepalanya di leher Keira.
"Jangan marah, Mas minta maaf karena membuatmu nunggu lama."
"Siapa yang marah,aku tidak marah tuh,"ucap Keira malas, tangannya sibuk membuat jus alpukat untuk dirinya sendiri.
"Lalu kenapa kamu diam mulu dari tadi." Xavier menyandarkan kepalanya di pundak Keira, sambil memperhatikan wajah samping istrinya yang sangat cantik.
Setelah mereka kembali dari rumah sakit, apapun yang dia katakan, Keira tidak pernah menanggapinya dan malah menghindarinya. Membuat dia sangat frustasi dan kesal, dia tidak tau alasan kenapa Keira mengabaikannya.
Seolah menyadari sesuatu, Xavier langsung menegakkan tubuhnya. Dengan senyum licik, dia membisikkan sesuatu di telinga Keira.
"Mas tau alasan kamu hindari Mas, kamu pasti cemburukan." Suaranya sangat rendah dan terdengar genit.
Keira hampir menjatuhkan jus di tangannya, jika dia tidak memegang gelasnya erat, saat mendengar bisikan di telinganya.
"Si-siapa yang cemburu!"bantah Keira gugup, wajahnya sangat panas.
"Kamu, lihat saja wajahmu sangat merah." Goda Xavier mencolek-colek wajah Keira yang memerah terlihat sangat imut.
"Aku tidak cemburu, minggir!" Keira langsung mendorong tubuh Xavier untuk menjauh, lalu membawa minumannya ke ruang keluarga.
Xavier langsung mengikuti istrinya di belakang, wajahnya yang tampan terlihat bahagia dengan senyum tipis di bibirnya.
Ternyata istri kecilnya sangat cemburu.
"Sayang dengar, wanita itu bukan siapa-siapaku. Dia hanya orang yang tidak penting. Jadi, kamu jangan cemburu dan abaikan Mas, ya." Xavier mendudukkan dirinya di sebelah Keira, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Keira dan membawanya ke pelukannya.
Mendengar penjelasan Xavier yang terdengar jujur, Keira hanya mendengus kesal. Dia mencari posisi nyaman dipelukan Xavier, lalu menonton kartun yang ditayangkan di depannya.
Tidak mendapat jawaban dari Keira, Xavier tidak merasa keberatan. Dia mengusap dagunya di kepala Keira, lalu membuka mulutnya untuk menjelaskan.
"Sebenarnya wanita itu mantan pacar Mas. Kami berpacaran hanya sebentar, Mas tidak pernah menyukainya ataupun mencintainya…"
"Mas terpaksa menerimanya, karena dia selalu menjerat dan mengejar Mas kemanapun Mas pergi. Dan selama berpacaran Mas tidak pernah memegang ataupun melakukan skinship dengannya."
"Benarkah?" Keira tidak percaya, bagaimana mungkin orang yang berpacaran tidak melakukan hubungan intim seperti, berpegangan tangan atau berpelukan.
__ADS_1
"Tentu saja, kenapa kamu gak percaya sama Mas."
"Nggak, kamu kan pria tua bajingan yang suka nyosor-nyosor,"cibir Keira.
Mendengar cibiran Keira, Xavier tidak hanya marah tapi tersenyum seperti bajingan.
"Aku hanya melakukan itu kepadamu saja kok." Setelah mengucapkan itu, Xavier langsung membuktikannya dengan mencium pipi kiri berkali-kali.
"Kamu! Menjauh bagaimana kalau ada orang lihat." Keira mendorong kepala Xavier dari wajahnya.
"Biarkan saja, kitakan sudah menikah."
"Tak tahu malu!"sindir Keira dengan wajah yang dihiasi rona merah.
Xavier hanya tersenyum mendengar sindiran Keira. Dia menyembunyikan wajahnya yang tampan di leher istrinya, dan menghirup rakus wangi di tubuhnya, sesekali Xavier akan mencium lehernya.
Meskipun merasa terganggu, tapi Keira hanya mengabaikannya. Tangannya yang menganggur mengusap rambut Xavier yang terasa halus.
Dan depresi yang mengganggu di hatinya, menghilang setelah mendengar penjelasan Xavier, digantikan oleh perasaan senang dan puas.
Meski wajahnya terkubur di leher Keira, tapi matanya yang tajam sekilas melihat senyum bahagia di wajah istrinya.
"Apa kamu bahagia?" Suaranya sangat rendah dan serak, membuat telinga Keira gatal.
Xavier hanya terkekeh lucu, saat melihat pergantian ekspresi wajah istrinya seperti bunglon.
Kedua tangannya yang besar menangkap wajah Keira untuk melihat dirinya. Matanya langsung menggelap saat melihat sisa minuman di sudut bibir istrinya.
Melihat wajah Xavier yang mendekat, Keira langsung gugup.
"A-apa yang ingin kamu laku-" Sebelum ucapannya selesai, bibirnya sudah diblokir oleh Xavier.
Xavier dengan hati-hati mencium istrinya dengan lembut dan sabar. Seolah Keira adalah permata yang rapuh dan bisa hancur kapan saja, jika dia menggunakan sedikit kekuatan.
Entah sudah berapa lama, tapi Keira sudah merasa kehabisan napas. Namun Xavier belum melepaskannya.
"Ayah, Ibu!"
Mata Keira langsung membelalak terkejut saat mendengar teriakan Shaka. Dia segera mendorong Xavier menjauh, lalu meminum jus buah untuk menutupi kegugupannya.
Meskipun masih belum puas, tapi Xavier tidak memaksa istrinya lagi.
__ADS_1
Shaka berlari ke arah orang tuanya, dia ingin melemparkan tubuhnya kepelukan ibu. Tapi, sebelum dia menyentuh Keira, Shaka sudah ditangkap oleh tangan besar ayahnya dan didudukan dipangkuannya.
"Ayah lepas, aku mau ibu!"protes Shaka tidak puas, dia memberontak ingin dilepaskan. Namun, tenaga ayahnya sangat kuat. Beberapa kali pun dia memberontak, dia yang akan lelah sendiri.
"Tidak Boy, dia wanitaku kamu tidak bisa menyentuhnya."
"Dia juga wanitaku!"ucap Shaka tak mau kalah.
"Kamu… mimpi! Cari saja wanita lain sana. Dia sudah menjadi milikku." Setelah menyatakan kepemilikannya, Xavier langsung mencium pipi Keira di depan Shaka dengan sombong.
"Ka-kamu!"tunjuk Shaka marah, wajahnya yang imut sudah merah dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya yang bulat.
"Ibu…,"rengek Shaka menyedihkan, terlihat sangat dianiaya.
Keira tidak tega melihat wajah putranya yang sangat sedih. Dia langsung membawa Shaka ke pangkuannya, tidak lupa memelototi pelaku yang membuat putranya menangis.
"Bagus! Tidak bisakah kamu tidak membuatnya menangis sehari saja, hah!"
"Sayang, aku hanya bercanda. Aku tidak ada niatan untuk buatnya nangis." Xavier buru-buru menjelaskan, takut istrinya akan marah lagi.
Melihat ayahnya yang dimarahi, Shaka tersenyum puas. Dia mengusap bekas ciuman ayah di pipi ibunya, lalu digantikan oleh ciumannya sendiri.
"Ibu jangan marah pada Ayah, Ayah tidak sengaja melakukannya dan aku juga yang terlalu cengeng,"ucap Shaka berpura-pura menyedihkan.
"Tidak papa, itu salah Ayah dia pantas dimarahi." Keira mengusap punggung Shaka, lalu menatap tajam suaminya.
Xavier tidak menyangka akan melihat wajah putranya yang berpura-pura sedih di depan keira, untuk mendapatkan perhatian istrinya.
"Sayang lihat, dia…" Dia ingin memberitahu istrinya, tapi sudah dipotong dengan kejam olehnya.
"Diam!"
Shaka yang melihat ayahnya langsung ciut saat dimarahi oleh ibu, langsung tersenyum penuh kemenangan. Tanpa dilihat oleh Keira, Shaka menjulurkan lidahnya meledek Xavier.
"Kamu! lihat saja nanti!" ancamnya dengan nada rendah, saat melihat putranya sendiri mengejek dirinya.
Shaka tidak takut dengan ancaman ayahnya, karena ada ibu yang melindunginya. Dia tau ayah paling takut kepada ibunya, seperti suami takut istri.
"Ibu ayo pergi dari sini."
"Oke."
__ADS_1
Melihat istrinya dibawa oleh pria kecil licik itu, Xavier langsung mengikutinya. Dia tidak akan membiarkan mereka berduaan.