
Setelah tahu Keira sadar Xavier bergegas pergi ke rumah sakit tanpa mempedulikan penampilannya yang berantakan. Wajahnya tampak tegang, tangan yang tergantung di sisi tubuhnya mengepal erat dan langkah kakinya tidak melambat sedikitpun.
Tidak butuh waktu lama Xavier sudah sampai di depan pintu namun dia tidak segera masuk. Dia mendengar suara ribut di dalam terutama saat mendengar suara lembut yang selalu dia nantikan. Kenzo tidak berbohong, istrinya benar-benar bangun!
Pada saat ini suasana hatinya terasa campur aduk antara senang, gugup, takut dan khawatir. Xavier dengan ragu-ragu memegang kenop pintu lalu menarik nafas panjang menenangkan hatinya yang sangat kacau dan membukanya.
Seketika ruangan yang tadi ribut langsung hening sejak pintu terbuka, Xavier bisa merasakan pandangan aneh semua orang tertuju padanya.
Tanpa memperhatikan mereka Xavier berjalan ke arah wanita yang duduk di tempat tidur dengan penuh kerinduan di wajah tampannya.
"Berhenti! Ayah kamu tidak bisa mendekati Ibu." Shaka merentangkan tangannya yang gemuk di depan ayahnya. Menghalangi Xavier yang akan bergegas memeluk ibunya.
Xavier menatap makhluk kecil yang menghalangi jalannya dengan tidak puas, saat dia akan memperingatinya mendadak semua orang di ruangan itu menegurnya.
"Ya jangan dekati putriku dengan penampilanmu yang seperti itu."
"Kakak ipar kenapa kamu tidak membersihkan diri sebelum bertemu dengan kakakku."
"Benar, bagaimana kalau Kak Kei sakit lagi."
Mendengar semua orang mencemooh penampilannya Xavier mengerutkan bibirnya lalu melihat ke bawah, kemeja yang dia pakai saat ini terdapat banyak bercak darah yang terpampang jelas. Mungkin karena terlalu senang dia lupa untuk membersihkan dirinya.
"Pergi bersihkan dirimu!"
Sebelum keluar Xavier terlebih dahulu menatap Keira yang juga tengah memandangnya lalu berjalan keluar. Setelah kepergian Xavier suasana di dalam riuh kembali.
"Bos kenapa pulang lagi?"tanya David heran ketika melihat bosnya keluar dari rumah sakit.
"Apa berita itu bohong dan Nyonya masih belum sadar? Tapi dilihat dari raut wajahnya tidak ada tanda-tanda kemarahan."
"Tidak papa, pergi ke hotel terdekat."
Meski sedikit penasaran David tidak berkata apa-apa lagi, dia segera menjalankan mobil Rolls-Royce menuju hotel mewah terdekat.
Setelah membersihkan tubuhnya Xavier keluar dari ruangan president suite mewahnya dan berjalan menuju garasi bawah tanah.
Hari ini dia memakai setelan simpel, kaos hitam dan celana hitam yang tidak mengurangi pesona maskulinnya.
"Kita langsung pergi ke rumah sakit Bos?"
"Tidak, pergi ke toko bunga."
"Baik Bos."
__ADS_1
Sesampainya di toko bunga Xavier memilih berbagai varietas bunga di toko ini dengan penuh perhatian, dia ingin memberikan bunga terindah untuk istrinya.
Setelah menghabiskan waktu yang sedikit lama, Xavier akhirnya memilih bunga mawar merah yang paling cantik dan indah.
Penjual itu menatap pemuda tampan di depannya dengan senyum hangat.
"Apa ini untuk pacarmu?"
"Bukan, ini untuk istriku."
"Ah… ternyata begitu, semoga pernikahan kalian diliputi kebahagia,"ucap penjual itu memberi berkat.
"Terima kasih." Setelah menyelesaikan transaksi Xavier bergegas ke dalam mobil, ini sudah satu jam sejak dia meninggalkan Keira.
"Pergi ke rumah sakit."
"Ya Bos."
Hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai di rumah sakit, dan kali ini Xavier tanpa ragu langsung membuka pintu dan suasana hening segera menyambutnya. Tidak ada seorang pun di sini hanya menyisakan seorang wanita yang berbaring di ranjang dalam keadaan tidur.
Xavier berjalan sangat pelan tanpa menimbulkan suara sedikit pun karena takut membangun wanitanya.
Keira sebenarnya tidak benar-benar tidur, dia hanya berpura-pura tidur untuk mengusir semua orang yang terlalu berisik. Namun dia tidak berharap seseorang akan menyelinap masuk ke dalam ruangannya.
Tapi mencium bau familiar di dekatnya Keira langsung membuka matanya dan secara kebetulan bertemu dengan tatapan dalam pria di hadapannya.
"Mas?" Keira segera bangun dan duduk bersandar di kasur.
Xavier memandang wanita itu yang benar-benar bangun dan dia tidak sedang berhalusinasi. Meski hatinya sangat gembira tapi dia tidak menimbulkannya dipermukaan pengendalian terhadap dirinya sangat kuat.
Dia menyerahkan seikat bunga mawar yang dibungkus dengan rapih ke tangannya lalu mencium keningnya dengan penuh kerinduan.
"Akhirnya kamu bangun, sweety."
Tiba-tiba dijejalkan seikat bunga mawar, Keira sedikit bingung. Dia mencium wangi mawar yang sangat menyegarkan.
.
"Kamu suka?"
Keira menoleh ke samping lalu mengangguk seraya tersenyum manis.
"Em, terima kasih,"
__ADS_1
"Apa ada sesuatu di wajahku?"tanya Keira bingung lantaran Xavier terus menatapnya sedari tadi.
"Tidak ada." Xavier naik ke ranjang dan berbaring di samping Keira sambil memeluk pinggangnya.
Karena ranjangnya sedikit luas jadi muat untuk tidur dua orang tanpa merasa kesempitan. Keira membelai rambut pendek Xavier yang ditata rapi, dia sangat suka mengelusnha karena rambutnya terasa halus dan lembut.
"Mas kenapa?"
"Gak papa."
"Mas."
"Hm."
"Gak jadi."
Xavier perlahan bangun dan duduk bersila berhadapan dengan Keira, matanya yang gelap memandang Keira dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Mas kenapa sih?"tanya Keira jengkel. Bagaimana tidak jengkel kalau ditatap seperti itu tanpa penjelasan, dikira dia punya salah apa.
Xavier merengkuh pinggang Keira dan menundukkan kepala di pundaknya sebagai sandaran.
"Mas pikir kamu bakal ninggalin Mas sendiri, Mas kira kamu gak akan bangun lagi. Sayang aku takut, aku takut kamu benar-benar tinggalin Mas waktu itu."
Kecemasan, ketakutan dan kekhawatiran yang Xavier rasakan saat itu membuat pikiran dan perasaannya sangat kalut dan kacau. Pikiran-pikiran buruk terus menghantuinya mengakibatkan dia tidak bisa beristirahat dengan tenang, dan karena itulah Xavier terus berada di samping Keira menjaganya dan menunggunya bangun.
Keira tidak mengira Xavier akan sangat ketakutan akan kepergiannya, seandainya dia memilih tidak kembali apa yang akan terjadi pada Xavier.
"Maaf, Mas."
"Maaf aku membuatmu cemas."
"Maaf karena telah membuatmu menungguku."
"Maaf." Hanya permintaan maaf yang bisa Keira ucapkan pada suaminya.
Xavier malah menguatkan pelukannya tanpa menanggapi ucapan maaf dari Keira, dia masih belum bisa memaafkan Keira yang hampir meninggalkannya sendiri meskipun itu bukan keinginan istrinya.
"Apa yang kamu impikan sampai tidak ingin bangun, hm?" Suaranya terdengar serak dan rendah di telinga Keira membuat bulu kuduknya meremang.
Sebelum menjawab Keira terlebih dahulu menjauhkan kepala Xavier di dekat telinganya agar dia bisa fokus.
"Aku bertemu Ibu."
__ADS_1