
Lucas merasa ada yang aneh dengan teman sebangkunya, Shaka. Biasanya Shaka yang paling aktif di kelas, menjawab semua pertanyaan guru dan bermain dengan teman sekelas lainnya. Tapi hari ini sangat berbeda seolah seluruh dunia akan runtuh.
Semua temen sekelasnya juga menyadari ada yang salah dengan Shaka, dan sekelompok laki-laki kecil yang berteman baik dengannya berbondong-bondong pergi ke mejanya untuk menanyakan apa yang terjadi.
"Shaka, kamu kenapa?"
"Apa seseorang menggertakmu? Kalau iya ayo kita beritahu guru, guru pasti akan menghukum mereka."
"Ya kita harus melaporkannya pada orang dewasa. Shaka jangan takut kami akan melindungimu."
"Ya ayo kita laporkan pada guru."
"Apa kalian pengecut kenapa beritahu guru, kita bisa menghajarnya bersama-sama."
Tak terima dikatakan pengecut, mereka mulai melawan bocah itu.
"Kamu yang pengecut!"
"Akh… dasar beraninya memukulku!"
Pada akhirnya kelas yang tadinya tenang kembali ribut, dan guru yang baru saja kembali dari kantor menghela nafas berat melihat keadaan kelas yang kacau. Tidak mudah menjadi guru TK apalagi mengajar bocah kecil seperti ini, tapi apa boleh buat gaji di sini sangat besar.
Shaka melihat pemandangan kacau di depannya dengan acuh tak acuh. Biasanya dia akan membantu meleraikan mereka, tapi hari ini dia tidak berminat. Dia dengan lesu menelungkupkan kepalanya di meja, menghiraukan tatapan bertanya dari teman sebangkunya.
Lucas diam-diam menulis sesuatu di bukunya, menyodok lengan Shaka dan menyerahkan padanya.
Shaka melirik sekilas catatan itu, walaupun tulisannya tampak berantakan tapi masih mudah dipahami dan dibaca.
"Apa sesuatu terjadi padamu?"
"Ibu akan mempunyai anak dan aku takut ibu akan meninggalkanku dan mengabaikanku,"lirih Shaka sendu.
"Tante Keira kan ibumu juga kenapa kamu takut di tinggalkan?"
"Karena…" Shaka menggigit bibirnya pelan lalu menundukkan kepalanya rendah dan berkata ringan, " Aku bukan anak kandungnya."
°°°°
__ADS_1
Sudah setengah jam bel pulang sekolah berdering, tapi orang tuanya belum juga datang. Sambil menunggu orang tuanya Shaka berjongkok di tanah menggambar lingkaran menggunakan ranting kayu. Hanya tinggal dia sendiri yang ada di sekolah, karena semua temannya sudah pulang lebih dulu.
Pak satpam yang melihat anak kecil sendirian buru-buru menghampirinya, takut jika sekelompok orang yang tidak dikenal akan menculiknya.
"Nak apa yang kamu lakukan di sini, apa orang tuamu belum datang?"
Melihat sepatu bot hitam di depannya Shaka mendongak ke atas, menatap pak satpam yang selalu berjaga di gerbang sekolah.
"Belum."
"Kalau begitu kita pindah dulu ke pos satpam ya, tidak baik kalau nunggu di sini takut ada orang jahat." Pak satpam ikut berjongkok di tanah sambil mengelus kepalanya, membujuknya dengan lembut agar mau pindah.
Shaka mengerutkan bibirnya lalu menggelengkan kepalanya, dan terus melanjutkan kegiatan menggambar lingkaran di tanah.
"Apa ibu lupa menjemputku."
"Nak… " Pak satpam merasa tak berdaya dengan kekeras kepalaan anak ini, dia mau tak mau menemaninya di sini, " Kalau begitu pak satpam akan menemanimu di sini."
Shaka tidak menjawab, dia terus melakukan kegiatannya tanpa terganggu dengan orang tambahan.
Tidak jauh dari posisi mereka, seorang pria dan wanita yang berpakaian mewah berjalan menuju gerbang sekolah.
"Ck keberuntungan anak itu benar-benar bagus untuk diadopsi orang kaya."
"Menurut alamat yang diberikan wanita itu memang di sini, tapi sepertinya sekolahan sudah bubar,"ucap Tommy sedikit menyesal saat melihat sekolahan itu sudah sepi.
"Kalau begitu apa kita akan kembali lagi besok?"
"Ya."
Ketika mereka akan berbalik maya tidak sengaja melihat seorang anak yang dikenalnya.
"Tunggu…" Maya mencengkram lengan Tommy lalu menunjuk ke arah tempat shaka, "Bukankah itu Shaka!"
"Shaka!"
Ketika shaka mendengar suara akrab memanggilnya tubuhnya tiba-tiba menegang, dia dengan kaku menoleh ke belakang, tepat pada waktunya untuk melihat kedua orang yang tega meninggalkannya berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Shaka akhirnya kami menemukanmu, ayo sayang kita pulang." Seperti seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya, Maya berjalan menuju Shaka dengan senyum lembut sambil mengulurkan tangannya ingin menarik anak itu ke sisinya.
Namun, dengan cepat Shaka menghindarinya dan bersembunyi di belakang pak satpam, dan mencengkram lengan bajunya erat. Tubuh kecilnya gemetar tak terkendali, wajahnya penuh ketakutan.
Pak satpam yang memperhatikan reaksi bocah itu segera melindunginya, tatapan tajamnya menyapu dua orang asing di hadapannya.
"Mohon maaf kalian siapa?"
"Kami adalah orang tuanya, kami datang untuk menjemputnya,"ucap Tommy tersenyum sopan.
"Nak datang ke Ayah, ayo kita pulang." Tommy mengulurkan tangannya ke depan ingin meraih anak itu yang bersembunyi di belakang satpam.
"Tunggu…" Pak satpam mencekal pergelangan tangan Tommy mencegahnya untuk tidak menyentuh tubuh anak itu, dia melirik ke bawah dan berkata, " Apa mereka orang tuamu?"
Shaka menggeleng ribut lalu mengangguk dan menggeleng lagi. Pada akhirnya matanya memerah, mulut kecilnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi tertutup lagi.
"Nak tenang oke, rileks. Pak satpam sekarang tanya, apa mereka orang tuamu?"ucap satpam itu melembutkan nadanya.
"Me-mereka… mereka…."
"Pak satpam kami benar-benar orang tuanya. Lihat, wajah kami sangat mirip dengannya,"ucap Maya langsung menyela ucapan anak itu.
Pak satpam tidak langsung percaya, pertama-tama dia mengamati wajah mereka memang benar wajah anak ini sedikit mirip dengan wanita di depannya, tapi melihat anak itu sangat ketakutan.
Shaka menggegam tangan pak satpam dengan erat dan menggelengkan kepalanya, bibirnya ditarik menjadi garis lurus, wajahnya penuh kepanikan, matanya yang merah hampir menangis.
Maya memutar bola matanya malas, ekspresinya sudah sangat tidak sabar, dia mengkode suaminya untuk melakukan sesuatu.
"Nak kita tidak punya banyak waktu, mari kita pulang, Ayah janji tidak akan meninggalkan mu lagi."
Tepat saat Tommy hendak membawa Shaka, beberapa pengawal mencul entah dari mana dan menendangnya hingga tersungkur kebelakang.
"Uhuk… uhuk… uhuk." Tommy memegang dadanya yang sakit, seteguk darah tua menyembur dari mulutnya. Tendangan pria itu bukan main-main. Maya buru-buru membantu suaminya berdiri.
"Tuan kecil maafkan kami, kami terlambat." Beberapa pengawal berbaju hitam membungkuk ke arah Shaka.
Melihat para pengawal itu sangat menghormati anak kecil ini, pak satpam sangat terkejut. Apa identitas anak ini sampai-sampai ada penjaga bayangan yang menjaganya.
__ADS_1
"Kalian…." Sebelum ucapan satpam itu selesai, sebuah mobil mewah edisi terbatas berhenti tepat di hadapan mereka, seorang wanita cantik turun dari mobil dan berlari ke arah mereka, tepatnya Shaka dengan raut wajah cemas dan diikuti oleh pria dingin namun sangat tampan.
"Sayang!"