
Ternyata saat dirinya sedang bertengkar dengan Xavier, secara tidak sengaja dilihat oleh Shaka yang lagi mencarinya.
"Bu mari kita abaikan Ayah, jangan kembali biarkan Ayah mencari kita,"ucap Shaka lembut sambil mengusap kedua pipi Keira dengan tangan kecilnya.
Pada saat itu, ketika dia mencari Keira, Shaka secara tidak sengaja melihat ayah dengan raut wajah panik, mencegah ibunya untuk pergi. Namun ibu dengan sekuat tenaga, lepas dari cengkraman ayah dan berlari ke arahnya lalu membawa dirinya pergi.
Meskipun wajah ibu terlihat dingin dan acuh tak acuh saat bertengkar dengan ayah seolah tidak peduli. Tapi matanya tidak bisa berbohong, ada rasa kecewa, marah dan sedih yang disembunyikannya.
Melihat bagaimana anak ini terlihat masuk akal dan perhatian, Keira merasa terharu. Dia kemudian mencium pipi gembulnya bertubi-tubi membuat Shaka cekikikan.
"Oke dengarkan Shaka, biarkan Ayah mencari kita." Setelah mengatakan itu, Keira menurunkan Shaka dari pangkuannya lalu menempatkan di kursi.
"Shaka tunggu di sini dengan patuh, Ibu mau masak."
"Oke."
Keira melanjutkan masaknya yang tertunda, untuk makan malam hari ini, dia akan membuat masakan rumahan, yaitu sup ayam, tumis kangkung, dan ayam goreng, tak lupa makanan penutupnya.
Melihat ibunya sangat sibuk, Shaka tidak bisa duduk diam, dia ingin turun untuk membantunya. Tapi, melihat kaki dan tangan pendeknya yang tidak bisa membantu, Shaka merasa sedih. Dia ingin segera tumbuh besar supaya bisa menolong ibu.
Wajahnya yang tampan dan imut terbaring di atas meja, matanya yang bulat terus memperhatikan Keira memasak dengan bibir yang dimajukan ke depan, terlihat sedih seperti kucing kecil yang ditinggalkan.
Keira yang kebetulan melihat ini, sangat geli sekaligus lucu ketika melihat wajah cemberut putranya.
"Ada apa dengan bayinya? Kenapa sedih?"
Mendengar pertanyaan dari ibunya, Shaka menjadi lebih sedih.
"Shaka ingin bantu Ibu, tapi tubuh Shaka terlalu kecil,"ujar Shaka sedih sambil memperlihatkan tangan gemuknya yang pendek pada Keira.
Keira langsung tertawa melihat tingkah konyol putranya, membuat sebagian besar kesedihan dan rasa kecewanya terhapus ketika melihat perilaku putranya yang manis dan penuh perhatian.
"Shaka bisa bantu Ibu kok."
"Benarkah?"ucap Shaka penuh energik tampang sedihnya langsung terganti menjadi bersemangat. Matanya yang polos menatap Keira dengan berbinar dan penuh harap.
Dibawah tatapan mata penuh harap Shaka, Keira dengan santai berkata, " Ya, kamu cukup tonton Ibu dari sana, itu cukup membantu Ibu."
__ADS_1
"Ibu!"ratap Shaka menyedihkan.
"Hahaha."
°°°°
Setelah makan malam, sekarang mereka berdua tengah duduk santai di sofa dengan Shaka yang masih mendiaminya.
"Shaka masih marah sama Ibu?" Keira mencolek-colek pipi tembem putranya yang tengah merajuk.
"Huh." Shaka hanya mendengus marah, lalu menjauhkan tangan Keira dari pipinya kemudian membelakangi ibunya.
Melihat punggung kecil putranya yang terlihat marah, Keira menghela nafas tak berdaya. Anak ini sangat mudah marah, dan mau tidak mau dia harus membujuknya, kalau tidak Shaka akan tambah marah.
"Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau Ibu ajak Shaka ke taman bermain, pergi ke taman Safari, makan ice cream,"bujuk Keira dengan penuh kelicikan.
Meskipun tidak menerima tanggapan dari Shaka, tapi Keira tau anak ini mendengarkan bujukannya. Lihat saja telinga kecilnya yang bergerak, terlihat sangat lucu.
"Bagaiamana, Shaka mau tidak? Kalau gak mau, yaudah gak papa." Setelah Keira mengatakan itu, dia hendak bangun namun langsung diterjang oleh tubuh kecil Shaka hingga duduk kembali.
"Lalu Shaka maafin Ibu?"tanya Keira lembut sambil mencubit pipi gendut putranya pelan.
"Emm…oke, dengan enggan Shaka maafin Ibu,"ucap Shaka berpura-pura terpaksa.
"Dasar penjahat kecil." Keira menggelitiki perut lembut Shaka hingga membuatnya tertawa terbahak-bahak.
••••
Berbeda dengan suasana harmonis antara ibu dan anak itu. Pada saat ini, di sebuah gedung tinggi pencakar langit, suasana di ruangan eksekutif tinggi sangat mencekam, dengan aura dingin seperti di Kutub Utara yang terpancar dari pria tampan yang duduk di kursi bos.
Seorang wanita dengan pakaian profesional tengah berdiri gemetar di depan pria tampan berwajah dingin itu. Tidak ada waktu untuk mengagumi wajah tampannya, wanita itu hanya ingin segera pergi dari ruangan bosnya.
"Pergi, perbaiki semua proposalnya."
"Ba-baik Tuan." Wanita itu buru-buru mengambil proposal dengan tangan gemetar dan berlari keluar secepat mungkin, seolah takut pria Hades di belakang akan membunuhnya.
Setelah wanita itu pergi, hanya pria tampan itu yang tersisa di ruangan besar yang terlihat sunyi dan sepi.
__ADS_1
"Hah." Xavier membuka kancing kemeja atasnya yang terasa sesak, memperlihatkan setengah dadanya yang kekar dan kuat.
Perlahan dia bangun dan berjalan dengan kaki panjangnya menuju jendela prancis, melihat pemandangan malam di Ibu Kota yang terlihat ramai dengan gemerlap lampu dan gedung-gedung tinggi.
Saat ini David masuk ke dalam dan melihat punggung bosnya yang terlihat kesepian dan terasing. Setelah nyonya Keira kabur, bosnya kembali lagi menjadi dingin, kejam, dan acuh tak acuh.
Tanpa menunggu David berbicara, Xavier langsung bertanya, "Kamu sudah menemukannya."
David merasa bersalah saat mendengar perkataan bosnya, mereka sama sekali belum menemukan jejak nyonya Keira sedikit pun.
"Maaf Bos, kami belum menemukannya. Nyonya Keira terlalu cerdik, agar tidak ditemukan oleh kami, Nyonya Keira mencari jalan yang tidak terpasang oleh CCTV."
Mendengar penjelasan dari David, kedua tangan yang tergantung di sisi tubuhnya mengepal kuat. Aura membunuh yang kental menguar dari tubuhnya yang suram.
"Kenapa cari wanita saja kalian tidak becus!"bentak Xavier, matanya memerah seperti binatang buas.
"Maaf Bos." David menundukkan kepalanya meminta maaf.
"Pergi, dapatkan wanita itu kembali."
"Baik Bos."
Setelah keluar dari ruangan yang menyesakkan itu, akhirnya David bisa menghela nafas lega. Bosnya benar-benar kembali ke kepribadian suramnya, dan itu karena nyonya Keira kabur dari bosnya. Ternyata nyonya Keira sangat penting dihati bosnya.
Dia harus menemukan nyonya Keira, dia tidak tahan jika harus menghadapi bosnya yang seperti Hades. Tanpa menunggu lama David segera pergi menemui semua rekannya.
Setelah David pergi, Xavier menatap foto wanita cantik di tanganya dengan penuh kerinduan. Jarinya mengusap wajah tersenyum wanitanya, seolah dia ada di hadapannya.
"Sayang kamu ada di mana, Mas minta maaf."
"Mas rindu sama kamu, segera kembali honey." Xavier mendekatkan foto itu ke bibirnya, mencium dengan penuh kerinduan.
"Mas sungguh minta maaf."
"Kamu bukan pengganti, sayang."
"Aku mencintaimu." Ini adalah ungkapan tulus dari dalam hatinya yang telah dia simpan sejak lama.
__ADS_1