
Pada saat ini, sebuah iring-iringan mobil hitam memenuhi jalanan sibuk di Ibu Kota Jakarta, dipimpin oleh mobil mewah lainnya yang berada di garda terdepan.
Sementara itu atmosfer di dalam mobil sangat rendah dan sesak, membuat mereka tidak berani berbicara. Setelah mengetahui wanita bosnya menghilang mereka hampir membalikan seluruh Ibu Kota untuk mencari Keira.
"Bos menurut titik merah ini, Nyonya seharusnya berada di daerah terpencil di sisi hutan,"lapor Kenzo setelah berhasil melacak posisi Keira.
Mendengar laporan dari Kenzo wajah Xavier langsung suram dengan aura kuat yang menyelimuti seluruh mobil.
"Pergi!"
Dengan satu kalimat perintah David segera menginjak pedal gasnya pada kecepatan yang tinggi dan melesat menuju daerah terpencil.
Setelah menyadari Keira menghilang dari pesta tadi, Xavier hampir menghancurkan villa Baron untuk mencari keberadaan Keira di setiap sudut rumah.
Saat Xavier akan memejamkan mata untuk meredam emosinya, sebuah getaran ponsel mengganggunya. Dia dengan tidak sabar langsung membukanya dan seketika emosi yang dia pendam langsung memuncak tak terkendali saat melihat foto yang dikirim seseorang.
"Beraninya kau melakukan itu!" Xavier mencengkram ponsel di tangannya hingga pecah berkeping-keping, kekuatannya benar-benar di luar nalar manusia. Tekanan rendah yang dikeluarkan Xavier membuat Kenzo dan David gemetar ketakutan.
••••
Sementara itu, setelah pertarungan berakhir Keira melihat semua musuhnya terkapar lemah di lantai dengan luka yang tak lebih darinya. Dengan ekspresi lega Keira langsung berlutut di tanah tanpa kekuatan yang tersisa dan luka di sekujur tubuhnya. Kemenangan ini sangat sepadan dengan luka yang dia dapat.
"Huh… uhuk… uhuk." Cairan kental yang berwarna merah keluar dari mulutnya menodai gaunnya yang kotor.
"Akh… sial."
Keira kemudian merobek sedikit gaunnya untuk membalut perutnya yang banyak mengeluarkan darah, setelah itu dia ikut terbaring sembari memejamkan matanya.
"Xavier aku lelah."
Sedangkan itu, Alaric yang menonton semuanya di pinggir hanya bisa duduk termangu melihat semua bawahan yang dia kerahkan untuk melawan Keira terbaring lemah.
"Ba-bagaimana bisa?"ujar Alaric dengan mata yang membelalak tak percaya.
"Bagaimana bisa wanita sialan itu mengalahkan semua bawahanku!"teriaknya tidak terima dengan semua kekalahannya.
__ADS_1
Dengan amarah yang membara Alaric berjalan menuju Keira sambil membawa pistol yang diambil dari bawahannya.
Dia mengarahkan moncong itu ke
Keira yang terbaring tak berdaya.
"Dasar wanita sialan! Sebelum pria itu datang aku akan membunuhmu terlebih dahulu,"ucap Alaric tersenyum devil belum sempat dia menarik pelatuknya tiba-tiba pintu gudang itu hancur menjadi bubur.
Ketika Xavier masuk kebetulan dia melihat pemandangan seperti ini, seketika amarah dan kekerasan di dalam hatinya keluar tak terkendali. Pupil matanya langsung menggelap dengan aura suram dan niat membunuh, dalam benaknya hanya ada kata hancurkan dan bunuh semuanya.
Dengan mata merah Xavier berjalan ke arah mereka dengan tekanan yang kuat.
Melihat pria itu berjalan ke arahnya, pupil matanya menyusut ketakutan. Rasa dingin di dalam mata itu membuat dia merasa seekor hewan buas akan mencabik-cabik tubuhnya.
"Be-berhenti! Sedikit lagi kamu melangkah aku akan menembak Istrimu,"ancam Alaric pada pria itu untuk berhenti sambil mengarahkan pistol pada Keira dengan tangan yang gemetar ketakutan.
Namun Xavier tak menghiraukan ancaman itu karean dalam pikirannya dia harus mengahancurkan pria yang berani menyakiti Keira.
Melihat Xavier mengabaikan ancamannya, dia menggertakkan giginya sangat cemas dan ketakutan.
"Karena kamu tidak mendengarkanku, maka jangan salahkan aku!"
"Arghhh… sialan breng-" Sebelum umpatannya selesai pukulan lainnya datang menghampiri.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Beraninya kamu menyakitinya! Lihat baik-baik bagaimana aku mengirimmu mati!"
Dengan itu pukulan demi pukulan Xavier layangkan pada pria di bawahnya tanpa memberinya kesempatan untuk melawan.
__ADS_1
Setelah tidak ada lagi ancaman, Keenan segera berlari menuju Keira dengan peralatan medis dan melakukan pertolongan pertama sebelum dibawa ke rumah sakit.
"Ada masalah?"tanya Khenet saat melihat raut wajah temannya yang sangat cemas.
"Ya, dia terlalu banyak mengeluarkan darah kita harus segera mengirimnya ke rumah sakit,"ucap Keenan setelah mengecek kondisi dan membantu merawat luka Keira.
"Aku akan bawa mobil ke sini." Tanpa menunggu balasan Keenan, Khenet segera pergi membawa mobil.
Sementara itu Kenzo dan Felix mencoba memisahkan Xavier yang akan membuat Alaric sekarat.
"Bos tenang Bos!"
"Ya Bos, kalau memukulnya lagi dia akan mati Bos!"
Mau berapa kali pun mereka membujuknya Xavier tidak pernah mendengarkan mereka. Pada saat ini semua pikirannya hanya dipenuhi dengan niat membunuh.
Arthur yang sedang mengarahkan semua bawahannya untuk membawa semua pria yang terkapar di lantai, tidak sengaja melihat ke arah mereka berdua yang kewalahan memisahkan Xavier.
Dia segera membantu kedua temannya menyeret Xavier menjauh dari tubuh Alaric yang sudah sekarat, lalu tanpa segan melayangkan tinjunya untuk menyadarkan Xavier. Dia tidak peduli jika perilakunya tidak sopan, karena hanya dengan ini satu-satunya cara untuk menyadarkannya.
"Xavier cukup, kita harus membawa Keira ke rumah sakit."
Mendengar nama Keira sifat kekerasan dan niat membunuh di hatinya hilang seketika. Xavier buru- buru mendorong Arthur menjauh dan berlari menuju Keira yang hendak diangkat ke dalam mobil.
"Pergi." Xavier menggantikan Khenet yang hendak membawa Keira. Dia dengan hati-hati membawa Keira masuk ke dalam mobil diikuti oleh Keenan dan Khenet. Meninggalkan mereka bertiga untuk membereskan semua kekacauan di gudang itu.
Di dalam mobil yang melaju kencang, perhatian Xavier tidak pernah lepas dari wanita di pelukannya yang penuh dengan luka. Dia dengan lembut membersihkan darah yang menempel di wajah cantiknya.
"Mas mohon jangan tinggalin Mas sendiri."
"Kamu kuat, demi Mas dan Shaka kamu harus bertahan sayang kita akan segera sampai di rumah sakit,"ucap Xavier dengan bibir dan bahu yang bergetar hebat sambil menggenggam tangan Keira erat.
"Maaf, Mas tidak datang tepat waktu untuk menemukanmu."
"Maaf, gara-gara Mas kamu terluka lagi."
__ADS_1
"Maaf." Xavier mencium kedua kelopak mata Keira yang terpejam lalu bibirnya yang pucat dengan lembut.
Dan tanpa Xavier sadari setetes cairan bening jatuh dari pelupuk matanya membasahi pipi halus Keira.