Istri Kecil Tuan Muda Xavier

Istri Kecil Tuan Muda Xavier
Bab 36


__ADS_3

Kediaman Chester, ruang kerja. 


Keadaan di ruang kerja sangat berantakan dan kacau, banyak pecahan kaca yang berserakan di lantai, kertas-kertas robek yang berhamburan di mana saja. Terlihat seperti kapal pecah. 


"Arghh… Xavier sialan! Kenapa, kenapa kau menggagalkan rencanaku." Alaric menjambak rambutnya kesal, lalu menghancurkan semua barang yang ada di meja. 


"Kenapa tidak lumpuh saja selamanya!"


Bella yang ingin mengunjungi putranya, sangat terkejut saat mendengar suara ribut di ruang kerja. Dia segera membuka pintu, takut sesuatu terjadi pada putranya. Namun yang dia lihat, anaknya tengah mengamuk dalam keadaan yang kacau. 


"Astaga! Nak, apa yang kamu lakukan." Bella buru-buru berlari ke arah putranya untuk menghentikan aksinya. 


"Kenapa sampai begini? Ada apa?"tanyanya sambil mengamati ruang di sekelilingnya yang terlihat berantakan. 


"Semua, semua rencanaku hancur Bu!"


"Apa, apa maksudmu? Siapa yang menghancurkan rencanamu?" Bella menuntun anaknya untuk duduk di sofa.


"Xavier,"ucapnya penuh kebencian. 


Mendengar nama yang disebutkan Alaric, matanya membelalak tak percaya. Bukankah pria itu tidak pernah peduli dengan perusahaannya. 


"Bagaimana bisa, bukankah kakinya lumpuh, dia juga tidak pernah mengurus perusahaan. Selama ini kamu yang mengurusnyakan."


Alaric hanya menggeleng frustasi, tubuhnya yang lelah bersandar di sofa. 


"Tidak Bu, kakinya tidak lumpuh, dia bisa berdiri,"ucapnya lemah. 


"Apa! Bukankah kakinya tidak bisa sembuh?"


"Aku tidak tau."


"Lalu apa rencana kita selanjutnya, untuk bisa merebut alih perusahaan itu,"ucapnya cemas sambil mondar-mandir menggigit kukunya. 


Alaric hanya terdiam lesu, dia juga bingung, apalagi yang harus dia lakukan untuk merebut kekuasaan Xavier.


Alaric tahu kekuatannya sendiri dan kekuatan Xavier sangat berbeda jauh, membuat dia sangat membencinya. Dia juga keturunan keluarga Chester, tapi kenapa hanya Xavier saja yang bisa mengambil alih perusahaan. 


***


Karina yang menguping semuanya di luar, sangat terkejut dengan berita yang dia dengar. 


Jadi, Xavier sudah sembuh, dan bisa berjalan lagi. Aku harus menemuinya, untuk memastikan apa semua itu benar. 

__ADS_1


Dengan raut wajah bahagia dan bersemangat, dia langsung meninggalkan kediaman Chester. Tapi dihentikan oleh satpam yang berjaga di luar. 


"Apa yang kamu lakukan, cepat buka gerbangnya!"teriaknya marah sambil menekan klakson beberapa kali. 


"Maaf Nona Karina, Tuan James menyuruh kami untuk melarang siapa saja yang keluar di malam hari,"ucap satpam itu sopan. 


"Dasar sialan!"rutuknya kesal, dia tidak punya pilihan selain putar balik lagi ke garasi dan masuk ke dalam rumah. Dia tidak bisa menentang peraturan yang dibuat oleh ayah mertuanya. 


Masuk ke dalam kamarnya, Karina langsung mengecek hpnya yang terdapat pesan dari nomer yang tidak dikenal. Mengerutkan keningnya bingung, Karina membuka pesan itu. 


Rahangnya langsung mengeras, tangan yang memegang ponsel mengencang erat, Giginya bergelatuk keras, saat melihat foto yang dikirim oleh nomor tak dikenal. 


"Sialan dasar tidak berguna! Menghabisi satu orang saja tidak becus."


Foto itu tidak lain adalah para preman yang terbaring tak berdaya, yang dia sewa untuk menghabisi keira. 


"Tunggu, tapi siapa yang mengirimkan foto ini padaku! Apa dia? Tidak, tidak mungkin, bagaimana dia tau kalau aku… pasti bukan dia!"gumam Karina rendah sambil menggigit jarinya dengan panik. 


Karina langsung memblokir nomor itu, dan menghapusnya dari daftar kontak hpnya. 


°°°


Melihat pesannya hanya dibaca dan nomornya diblokir, Keira tersenyum miring, matanya yang berwarna coklat penuh perhitungan. 


Aku bukan vegetarian, mata dibalas mata, gigi diganti gigi, darah dibalas dengan darah.  


"Sayang…." Xavier mendorong Keira hingga terjatuh di atas kasur, dia menyambar ponsel di tangannya, lalu membuangnya ke sisi lain tempat tidur dan menindihnya. 


"A-apa yang kamu lakukan, minggir. Kamu sangat berat,"ucap Keira gugup mendorong Xavier dengan satu tangan, karena tangan lainnya terluka. 


"Oke." Xavier dengan patuh turun dari tubuh Keira, lalu berbaring di sisinya dan menjeratnya ke dalam pelukannya. 


"Sayang… ayo kita buat anak,"bisik Xavier serak di telinga Keira. 


Tubuh Keira langsung merinding, ketika mendengar suara serak suaminya yang terdengar magnetis, apalagi mendengar perkataan Xavier yang membuatnya sangat gugup. 


"A-aku… bukankah ada Shaka, dia saja sudah cukup,"ujar Keira sambil mendorog wajah Xavier dari telinganya. 


Memikirkan bocah licik itu, membuat mood Xavier langsung runtuh. Untungnya dengan segala bujukannya, bocah itu mau tidur sendiri. Sehingga dia bisa berduaan dengan istrinya. 


"Tidak cukup, aku mau bayi yang lahir dari perutmu. Sekaligus buat adik untuk Shaka, agar dia tidak mengganggu kita lagi." Xavier mengelus perut rata dan mulus Keira dari balik bajunya, lalu mencium leher rampingnya. 


"A-aku, aku belum siap,"cicit Keira pelan, matanya tidak berani menatap Xavier. 

__ADS_1


Mendengar ucapan Keira, mata Xavier langsung menggelap. Tangan yang berada di pinggangnya mencubit pelan. 


"Kenapa?"tanya Xavier rendah dengan aura berbahaya. 


Keira tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Bagaimanapun mereka sekarang sudah menjadi pasangan yang sah, tapi dia belum siap jika harus melakukan hubungan seperti itu, apalagi harus mengandung.


Tidak mendapat jawaban dari istrinya dan melihat ekspresinya yang linglung, Xavier langsung mencium pipi Keira berkali-kali untuk menyadarkannya. 


"Hm?"


"Ti-tidak papa, bisakah kita tunda dulu,"ucap Keira hati-hati. 


Mendengar penolakan dari Keira, mata Xavier langsung meredup, dia berhenti mencium pipi istrinya, lalu bangkit dari tempat tidur. 


"Oke." Dia tidak akan memaksa istrinya, hanya untuk keinginannya sendiri. Dia akan menunggunya jika Keira sudah siap. 


Melihat kekecewaan di matanya, Keira merasa bersalah. Dia langsung mencekal pergelangan Xavier yang akan pergi. 


"Mau kemana?"


"Kamar mandi." 


Melihat punggungnya yang tegap  perlahan menjauh, hatinya merasa bersalah. Ini adalah kewajibannya sebagai istri, tapi dia menolaknya. Mengepalkan tinjunya erat, dia akan mengambil keputusan yang berani. 


"Mas."


"Hm." Xavier menoleh ke arahnya, yang terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi ragu-ragu. 


Seolah tau apa yang ingin dikatakan, Xavier tersenyum lembut, dan berkata, "Tidak papa, jangan dipaksakan. Mas akan menyelesaikan permasalahan Mas sendiri."


Dengan wajah yang memerah seperti tomat, Keira buru-buru berkata dengan panik, "Tidak, a-aku… aku setuju!"


Xavier tercengang melihat perubahan yang terlalu cepat seperti ini. Meskipun hatinya sangat bersemangat, tapi dia tetap menolaknya dengan lembut. Dia tidak akan memaksa istrinya, jika keira tidak mau, dia akan menghargai keputusannya. 


"Tidak papa, tidak perlu."


Keira langsung panik, saat melihatnya akan masuk ke kamar mandi. Dia segera turun dari kasur, berlari ke arahnya dan menerjang kepelukannya. 


"Aku bilang, aku setuju!"tegasnya dengan wajah yang memerah,  lalu menciumnya dengan agresif. 


Setelah waktu yang lama, Keira melepaskan ciumannya dan bersandar di pundak Xavier dengan lemah. 


"Kamu dengar, aku setuju."

__ADS_1


"Ya Mas dengar, terima kasih. Mas akan melakukannya dengan lembut,"ucapnya lembut lalu mencium keningnya, dan membawa Keira ke tempat tidur. 


__ADS_2