Istri Kecil Tuan Muda Xavier

Istri Kecil Tuan Muda Xavier
Bab 52


__ADS_3

Di rumah sakit. 


Di ruang ICU, Keenan dan beberapa dokter lainnya sedang berjuang membantu pasien yang dalam keadaan kritis. 


Sedangkan di luar ruang ICU, beberapa orang sedang menunggu kabar baik dari mereka tentang kondisi Keira. 


Saat mereka menunggu dengan tenang, mendadak seorang pria paruh baya berlari ke arah pria lemah yang kehilangan jiwanya. 


"Ini semua salahmu! Kenapa menjaga putriku saja kamu tidak becus,hah!" Adam berteriak di depan wajah Xavier tanpa pandang bulu dengan muka yang merah padam. 


"Kenapa kamu tidak melindungi putriku, kenapa!" Adam mengguncang tubuh Xavier yang terlihat lunglai. Wajahnya yang sudah tua penuh kesedihan dengan air mata yang mulai berjatuhan, perlahan tubuh tuanya tidak bisa lagi menopang berat badannya dan jatuh ke lantai. 


"Ayah!" Sebelum Asher menyelamatkan ayahnya, Xavier dengan sigap menahan tubuh rapuh ayah mertuanya sebelum jatuh ke lantai lalu mendudukkannya di kursi. 


"Maaf." Hanya kata maaf yang bisa dia ucapkan saat ini. 


Adam langsung menutup mata dan mengabaikan ucapan maaf dari Xavier. Meskipun dia tau ini bukan sepenuhnya salah Xavier, tapi orang yang menculik dan membuat putrinya terluka adalah musuh Xavier. 


Xavier juga tahu ini adalah salahnya, jadi melihat ayah mertuanya mengabaikan ucapan maafnya dia tidak berkata apa-apa. 


Dengan tubuh yang lelah Xavier berjalan menuju kursi di seberangnya dan duduk di samping William. 


"Kakak, tidak papa." William mengusap punggung tegap Xavier yang tampak lemah. Dia harus berpura-pura kuat dan tidak terlihat rapuh di depan kakaknya. Bagaimanapun dia harus menenangkan kakak dan keponakannya. 


Xavier melirik William yang wajahnya masih tampak dingin dan acuh tak acuh. Meskipun begitu, Xavier bisa melihat sorot mata yang dipancarkan olehnya adalah kesedihan dan kekhawatiran. 


Melihat tatapan kakaknya William langsung membuang muka ke samping dengan malu, seakan emosi yang dia sembunyikan dapat dilihat oleh kakaknya sendiri. 


 


Saat ini perhatiannya tidak lagi pada William yang menghindari tatapannya, tapi pada anak kecil yang meringkuk di pelukan adiknya. Perlahan tangannya terulur dan mengambil tubuh kecil Shaka dengan lembut ke dalam pelukannya. 


"Ayah?"panggil Shaka bingung ketika tubuhnya berpindah. Karena terlalu banyak menangis Shaka langsung tertidur lelap, namun saat merasa tubuhnya berpindah tanpa sadar dia terbangun. 

__ADS_1


"Hm." Xavier bisa melihat mata bengkak putranya yang habis menangis. Waktu dia mengabarkan tentang kondisi Keira, Shaka adalah yang paling emosional. Dia terus menangis dan meracau ingin bertemu Keira tapi untungnya Shaka mudah dibujuk dan ditenagkan. 


Melihat itu benar-benar ayahnya Shaka langsung memeluk lehernya erat dan menangis lagi di pundak Xavier. 


"Ayah, Shaka gak mau Ibu pergi,"ucap Shaka tersedu-sedu di tengah tangisannya. 


"Yah, Ayah tidak akan membiarkan Ibu pergi. Ibu akan tetap bersama kita,"bisik Xavier kesakitan seraya memeluk tubuh putranya erat. Ayah dan anak itu saling menguatkan satu sama lain dengan berpelukan saat wanita yang mereka sayangi tengah berjuang di ruang operasi. 


Di luar ruang operasi suasananya sangat stagnan, semua orang terdiam dengan pikiran masing-masing sambil menunggu pintu ruang operasi terbuka dengan harap-harap cemas. 


Pada saat ini pintu operasi terbuka dan seorang perawat keluar dari dalam dengan ekspresi serius. 


"Keluarga korban?"


Adam segera berdiri dan berlari ke depan diikuti oleh Asher dan yang lainnya. 


"Sa-saya orang tuanya, bagaimana kondisi putriku?"tanya Adam pada perawat itu dengan penuh harap. 


"Maaf kondisi pasien saat ini masih kritis, kami membutuhkan transfusi darah golongan  O- dan kebetulan stok darah di rumah sakit sudah habis. Jika pasien tidak segera mendapatkan darah, mungkin…." 


"Ti-tidak bagaimana mungkin," Adam langsung terduduk lemas di lantai dengan wajah pucat dan tak percaya. 


Dia harus mencari ke mana untuk mendapatkan golongan darah itu. Walaupun dia punya kekuasaan dia tidak bisa mencari orang satu persatu dengan golongan darah yang sama dengan putrinya. Kalau saja golongan darahnya O- dia akan segera memberikan kepada putrinya. 


Ketika mendengar ucapan perawat itu wajah Xavier langsung menggelap dengan ekspresi suram dan cahaya ganas di mata gelapnya. 


"Cepat cari orang dengan golongan darah O-!" 


"Ya Tuan." 


"Tidak perlu."  


Mereka semua langsung menoleh ke asal suara dan melihat Asher berjalan menuju perawat. 

__ADS_1


"Saya akan mendonorkan darah saya pada Kakak saya,"ucap Asher dengan mantap. 


"Golongan darah kamu?"


"Golongan darah saya sama dengan Kakak saya."


"Kalau begitu mari ikut saya untuk diperiksa." Saat mereka hendak pergi ke ruangan lain sebuah suara menghentikan langkah mereka. 


"Tunggu, bisakah saya ikut mendonorkan darah juga?" 


Meskipun bahasa Indonesia nya sedikit buruk tapi perawat itu tahu apa yang diucapkan pria tampan di depannya. 


"Apa kamu keluarganya?"


"Ya." 


"Ikut saya."


Asher menatap pria tampan yang berjalan di sampingnya dengan heran sekaligus bingung. 


"Perché sei qui?"ucap Asher dengan bahasa Italia yang lancar. 


(Kenapa kamu ada di sini) 


"Sono venuto a conoscere tua sorella,"ucap pria itu pada Asher. 


(Aku datang untuk bertemu dengan Kakakmu) 


Sementara itu, setelah mereka pergi ketegangan yang ditimbulkan oleh berita itu sedikit mereda dan akhirnya mereka bisa menghela nafas lega. 


Berbeda dengan Xavier, ekspresinya saat ini tampak muram begitu  pria asing itu muncul, seolah  pria itu akan merebut barang berharga miliknya. Dan perasaan kritis dan waspada di hatinya langsung diaktifkan. . 


"Cari tahu siapa pria itu,"perintah Xavier kepada David. 

__ADS_1


"Baik Bos." 


__ADS_2