
Xavier yang sedang fokus bekerja, sangat terganggu dengan suara ketukan di luar. Dia dengan tidak sabar langsung berkata dingin,
"Masuk."
Pintu ruangan itu langsung terbuka, dua sosok kecil berlari masuk ke dalam, diikuti oleh seorang wanita cantik yang terlihat mempesona dan menawan.
"Ayah! Kami datang mengunjungimu." Setelah menyapa Xavier, Shaka tidak lagi peduli pada ayahnya, dia berlari menuju lemari es yang disiapkan ayahnya. Dan tanpa ragu Shaka langsung mengambil cemilan di dalamnya dan membawanya ke sofa.
"Lucas ayo kita makan,"ajak Shaka sambil menuntun Lucas untuk duduk.
Xavier tidak mempedulikan apa yang tengah dilakukan putranya, perhatiannya hanya tertuju pada wanita cantik yang berjalan ke arahnya.
"Ini dokumennya." Keira menaruh dokumen itu di atas meja.
"Tidak ada lagikan, aku akan pergi." Sebelum Keira berbalik, tangan besar seseorang merengkuh pinggang rampingnya dan duduk di pangkuan Xavier.
"Kenapa buru-buru, hm. Mas kangen,"ucap Xavier dengan nada rendah dan serak, sambil mengecup leher harum istrinya.
"Mas lepas! Apa kamu tidak lihat, masih ada anak-anak di sini,"bisik Keira tajam seraya mendorong kepala Xavier dari lehernya.
"Mereka sedang sibuk sendiri sayang, lihat." Xavier menyenderkan kepalanya di bahu Keira yang terbuka lalu menunjuk ke arah dua anak itu.
Keira mengikuti arah tunjuk Xavier dan melihat kedua anak itu tengah fokus menonton kartun di laptop dan camilan di tangannya.
Melihat kedua anak itu tidak memperhatikannya, Xavier dengan cepat mencium bibir Keira yang sedari tadi terlihat menggoda.
Keira yang dicium secara tiba-tiba sangat terkejut, dia kemudian memelototi pelaku yang melakukan hal yang kurang ajar.
"Mas!"tegur Keira.
Xavier yang dipelototi Keira hanya cengengesan tidak jelas. Tangan kekarnya memeluk tubuh kecil Keira erat.
"Kamu habis dari mana?"
"Rumah sakit, menjenguk Ayah."
"Kenapa gak ajak Mas?"rajuk Xavier cemberut, lalu menggigit lehernya pelan sebagai hukuman
"Kamu kan lagi sibuk,"ucap Keira tak berdaya.
"Oh ya, ini ada hadiah." Keira mengambil kotak kado di tasnya dan menaruhnya ke atas meja.
Mata Xavier langsung berbinar ketika melihat kotak itu, tangannya terulur dengan cepat dan mengambilnya.
"Apa ini hadiah dari kamu? Wow jam tangan, pilihan kamu sangat bagus sesuai seleraku. Tapi kenapa kamu bisa tau kesukaanku apalagi sampai detail warna. " Xavier menatap jam mewah di tangannya lalu melirik Keira yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.
Dia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.
__ADS_1
"Sayang, ada apa?"tanya Xavier gugup sambil meremas tangan Keira.
Keira hanya menggelengkan kepalanya lalu tersenyum lembut.
"Bukan apa-apa, kenapa tidak dipakai, bukannya itu seleramu,"ucap Keira lembut, matanya yang indah menatap Xavier dengan hangat.
Meskipun tatapan dan senyumnya seperti biasa. Tapi entah kenapa, Xavier merasa tidak enak dan perasaannya menyatakan sesuatu yang berbahaya akan datang.
"Baby…."
"Kenapa, cepat pakai,"desak Keira.
"A-aku…." Xavier merasa gugup dan takut entah kenapa.
"Kalau begitu aku yang pakaikan." Keira mengambil alih jam tangan itu lalu memakaikan di pergelangan tangan Xavier.
"Nahkan bagus sangat cocok denganmu, tapi jangan berterima kasih kepadaku."
"Kenapa?"tanya Xavier bingung.
"Karena aku tidak tau seleramu, dan yang memberikan ini mantan pacarmu." Setelah mengatakan itu, Keira langsung bangkit dan berjalan keluar dengan sepatu hak tingginya.
"Boy ayo kita pulang."
"Oke."
Ini benar-benar sesuatu yang buruk.
"Sayang!"
°°°
Pada saat ini, seorang bos besar rela bolos kerja demi membujuk istrinya. Dan David yang menghandel semua pekerjaan bosnya, hanya menghela nafas pasrah menerima nasibnya sebagai asisten Xavier.
Entah sudah berapa kali Keira menghembuskan nafasnya saat melihat tingkah kekanakan Xavier.
"Mas kamu gak cape apa, dari tadi ngikutin aku terus. Aku aja cape lihatnya,"ujar Keira kesal sambil melepaskan tangan Xavier yang memegang bajunya.
Namun Xavier tidak melonggarkan pegangannya, dia malah semakin erat mencengkeramnya.
"Lepas Mas, aku mau masak."
"Ikut"ucap Xavier dengan nada manja.
"Mas! Mending kamu pergi aja deh, kerja sana cari uang, kenapa malah ikut pulang,"usir Keira dengan tidak berperasaan.
"Aku akan kerja tapi kamu jangan marah,"bujuk Xavier lembut, tangan kekarnya melingkar di pinggang Keira.
__ADS_1
"Astaga Mas, berapa kali aku bilang, aku gak marah."
"Bohong, kenapa tadi kamu pulang?"rajuk Xavier, wajahnya yang tampan dia sembunyikan di pundak Keira.
"Jangan marah, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak tau kalau kado itu bukan dari kamu, aku juga gak tau bagaimana wanita itu tahu kesukaanku." Setelah Xavier mengatakan itu, suasananya langsung hening, dia tidak mendapatkan jawaban dari Keira.
"Sayang…."
"Iya, iya aku tau, sana cepat pergi,"usir Keira mendorong Xavier keluar dari dapur. Untuk saja dapurnya sepi dan tidak ada yang melihat bos dingin ini lagi manja.
"Oke." Sebelum pergi, Xavier terlebih dahulu mengusap rambut halus Keira dan mencium keningnya dengan lembut.
"Jangan marah sama Mas."
"Iya, sana pergi."
Xavier berjalan keluar dari dapur dengan kaki panjangnya yang kuat dan punggungnya yang tegap. Wajahnya yang tampan kembali menjadi tanpa ekspresi dengan aura dingin di seluruh tubuhnya, seolah pria yang merengek di hadapan istrinya bukan dia.
Dan Shaka yang melihatnya sudah terbiasa, ketika melihat ekspresi ayahnya kembali menjadi acuh tak acuh dan dingin. Hanya di depan ibu, Shaka melihat perilaku ayahnya seperi anak-anak yang manja melebihi dia putranya sendiri.
"Ayah mau pergi lagi?"tanya Shaka saat ayah melewatinya.
"Hm, kamu jaga Ibu." Xavier mengacak-acak rambut Shaka pelan.
"Iya."
°°°
Di dalam mobil menuju perusahaan, Xavier duduk dengan tenang di kursi belakang dengan laptop yang dia letakan di pangkuannya, yang menampilkan 6 sosok pemuda tampan. Jari-jarinya yang panjang mengetuk sandaran jendela sambil mendengarkan mereka berbicara di earphone.
"Bos, meskipun kami punya bukti. Tapi bukti itu tidak cukup untuk menjebloskan Baron ke penjara."
"Lalu bawa dia ke markas untuk mengaku." Suaranya sangat dingin dan datar dengan aura membunuh.
"Bos, kami sekarang adalah masyarakat hukum, kami tidak bisa seperti dulu lagi membunuh tanpa berkedip."
"Bos, kami tidak bisa menemukan bukti kejahatan perusahaannya yang ilegal untuk membuatnya bangkrut."
"Pria tua itu terlalu pandai dalam menyembunyikan kejahatannya."
"Kami tidak punya cara lain, selain menyamar masuk ke perusahaannya."
"Bagaimana Bos?"
"Aku akan menghubungi kalian nanti." Mobil yang dinaikinya sudah sampai di depan gedung perusahaannya.
"Ngomong-ngomong, Keenan Lucas ada di rumahku." Setelah mengucapkan itu, Xavier langsung mengakhiri panggilan telepon lalu melangkah keluar dari mobil dan masuk kedalam gedung.
__ADS_1