
Melihat istrinya yang lelah tengah tertidur pulas, dengan sisa air mata di wajahnya, Xavier merasa bersalah. Dia sudah berjanji akan lembut, tapi hasratnya yang tak terbendung, membuatnya kehilangan akal.
"Maaf sayang."
Sebelum beranjak, Xavier mencium kening dan bibir istrinya sekilas. Dan tanpa sengaja, tatapannya melirik tanda merah di tubuh istrinya. Ini adalah hasil karyanya tadi malam, dan dia sangat puas.
"Sekarang kamu sepenuhnya telah menjadi milikku."
Setelah puas memandangi wajah cantik istrinya, Xavier kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Beberapa menit kemudian, Xavier sudah siap dengan kemeja putih yang ia lipat sampai ke siku, yang memperlihatkan tangannya yang kekar dengan urat yang menonjol dan celana hitam yang menutupi kaki panjangnya.
Tok… Tok… Tok
"Tuan."
Mendengar suara ketukan di luar, Xavier segera berjalan ke pintu dan membukanya. Dia takut suara itu akan mengganggu tidur istrinya.
"Ada apa?"tanya Xavier datar saat melihat Bi Eli berdiri di luar.
"Itu Tuan, ada Nona Karina di bawah, dia ingin bertemu dengan Tuan,"jawab bi Eli sopan.
Mendengar nama wanita itu, Xavier mengerutkan kening tidak suka. Dia tidak ingin wanita acak memasuki rumahnya dan mengotorinya. Terutama dia takut Keira marah lagi dan mengabaikannya seharian.
"Usir dia,"perintah Xavier dingin, kemudian langsung masuk ke kamar.
Setelah mendapat perintah dari Xavier, bi Eli segera turun ke bawah dan menemui wanita itu.
"Maaf Nona, Tuan tidak ingin bertemu denganmu dan menyuruhmu untuk kembali."
"Tidak mungkin"
Karina sengaja berdandan cantik dan berpakaian menggoda untuk membuat Xavier terpikat. Tapi apa, Xavier tidak ingin bertemu dengannya dan usaha yang dia lakukan berjam-jam pada akhirnya sia-sia. Dia sangat tidak mau, apapun caranya, hari ini dia akan membuat Xavier melihat dirinya.
"Aku adalah sahabatnya, bagaimana mungkin dia tidak mau bertemu denganku."
"Minggir, aku akan menemuinya langsung." Karina mendorong bi Eli yang menghalangi jalannya ke samping, dan berjalan ke atas.
Melihat wanita itu akan menaiki tangga, bi Eli buru-buru menghalanginya.
"Nona, mohon jangan mempersulit saya, Tuan benar-benar tidak ingin bertemu denganmu. Dan tolong, jangan seenaknya di rumah orang."
__ADS_1
"Beraninya pelayan rendahan sepertimu mengajariku! Pergi, aku bebas melakukan apapun di sini. Karena aku adalah teman masa kecilnya." Karina langsung mendorong tubuh bi Eli hingga terjatuh ke samping, dan berlari ke lantai atas mencari kamar Xavier.
Melihat pintu kamar yang berbeda dengan pintu lainnya dan terletak di ujung, Karina yakin itu pasti kamar Xavier. Dia berlari ke pintu itu dan membukanya tanpa permisi.
"Xavier! Kenapa pelayan itu mengu-" Sebelum ucapannya selesai, tubuhnya langsung kaku saat melihat pria yang disukainya tengah mencium seorang wanita yang tengah tertidur.
Melihat orang lain masuk tanpa izin, matanya langsung menggelap dengan niat membunuh yang kental. Xavier dengan hati-hati menyelimuti tubuh Keira, lalu berjalan ke arah wanita itu dengan tatapan tajam dan aura dingin yang menyelimuti tubuhnya.
"Siapa yang mengizinkan kamu masuk ke kamar saya." Suaranya yang berat dan rendah, membuat siapa saja merinding mendengarnya.
Merasakan tekanan dingin dari Xavier, Karina gemetar ketakutan. Dia mengepalkan tinjunya erat, mencoba menghilangkan rasa ketakutannya.
"A-aku, aku hanya ing-" Sebelum menanyakan kabarnya, Karina sudah diseret oleh kekuatan besar dan dibuang keluar.
"Akhh…."ringis Karina kesakitan saat tubuhnya membentur lantai.
Tak lama kemudian, bi Eli datang bersama dengan beberapa pengawal.
"Tuan maaf saya tidak bisa menghentikannya,"ucap bi Eli sambil membungkuk meminta maaf.
Xavier hanya mengangguk acuh tak acuh, lalu memerintahkan para pengawal itu.
"Baik Tuan." Para pengawal itu segera memegang Karina dan menyeretnya untuk keluar.
"Tidak! Lepaskan aku! Xavier bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku, aku sahabatmu!"
"Aku hanya ingin mengunjungimu."
"Lepas! Siapa yang mengizinkan pengawal rendahan sepertimu menyentuhku."
Mendengar dia sangat berisik, Xavier langsung memerintahkan pengawal itu untuk menyumpal mulutnya.
Karina yang memberontak dan sangat berisik, langsung disumpal kaos kaki oleh salah satu pengawal. Membuat dia ingin memuntahkan seluruh makanan yang ada di perutnya. Dia tidak pernah diperlakukan seperti ini.
°°°
Di dalam kamar.
"Berhenti! Apa kamu masih belum puas." Suaranya sangat serak dan parau saat Keira berbicara.
__ADS_1
Manik matanya yang berwarna coklat menatap Xavier dengan tidak puas, karena ulahnya, dia jadi terbangun. Keira baru saja tertidur selama 3 jam, dia masih belum cukup tidur. Tapi pria tua bajingan ini mengganggunya.
Melihat Keira bangun, Xavier langsung menghentikan kegiatan mencium Keira. Dia merasa bersalah saat melihat mata sayu istrinya yang terlihat lelah, tapi mau bagaimana lagi, dari kemarin perutnya belum diisi. Dia takut istrinya akan sakit.
"Maaf sayang, tapi kamu harus makan dulu oke. Perutmu dari kemarin belum diisi,"bujuk Xavier lembut sambil mencium kelopak mata Keira.
Perilakunya yang lembut saat berhadapan dengan pawangnya, sangat berbeda saat mengusir Karina pergi. Sangat kasar dan kejam.
"Setelah makan, kamu bisa tidur lagi sepuasnya,"lanjutnya.
"Aku tidak mau! Aku mau tidur, aku gak mau bangun!"ucap Keira keras kepala.
Dia tidak mau bangun, karena badannya sakit semua,terutama bagian bawah. Memikirkan bagaimana tadi malam Xavier menggertaknya hingga nangis, Keira sangat membencinya. Dia seperti binatang buas yang belum pernah mencicipi daging, hingga memakannya sampai habis.
"Sayang makan dulu oke, Mas suapin." Xavier masih membujuk Keira dengan sabar dan penuh perhatian.
"Gak mau, ini semua gara-gara kamu, badanku sakit semua,"rajuk Keira cemberut, dia sekarang hanya ingin tidur.
Melihat Keira yang keras kepala, Xavier menghela nafas tak berdaya. Ini juga salahnya sih, membuat tubuh istrinya kesakitan.
"Oke nanti Mas pijitin, tapi makan dulu, ya?"tawar Xavier sambil menatap istrinya lembut.
Melihat tatapan lembut Xavier yang meluluhkan hatinya, Keira dengan enggan menyetujuinya. Perutnya juga terasa lapar, jadi untuk sementara dia akan memaafkan suaminya.
"En."
Mendengar persetujuan Keira, Xavier langsung membantu Keira bersandar di kasur dan menyuapi makanan yang telah disiapkan oleh pelayan lain.
"Nanti malam kamu tidur di luar!"
Seperti suara kutukan di siang hari, sendok yang dipegang Xavier langsung jatuh ke mangkuk, hingga menimbulkan bunyi yang nyaring. Matanya yang hitam, membelalak tak percaya.
"Kenapa, apa salah Mas?" Xavier menatap Keira dengan menyedihkan.
Bagaimana bisa dia tidur tanpa memeluk tubuh istrinya yang harum dan lembut.
"Pikir saja sendiri,"ketus Keira.
"Sayang!"ratap Xavier frustasi.
__ADS_1