Istri Kecil Tuan Muda Xavier

Istri Kecil Tuan Muda Xavier
Bab 47


__ADS_3

Setelah beberapa penjelasan akhirnya hubungan mereka sedikit membaik. Walaupun Keira masih bersikap dingin padanya, namun dia tidak menghindari pendekatannya. 


"Sebenarnya pengganti yang dikatakan Clara itu tidak benar. Aku tidak pernah menjadikanmu sebagai penggantinya, justru dia yang aku jadikan sebagai penggantimu." 


Xavier mempererat pelukannya sehingga tidak ada jarak di antara mereka. Dagunya bertumpu di atas kepala Keira sesekali dia akan mengggesekannya dengan rambut halus istrinya. 


Xavier akui kalau dirinya adalah pria brengsek, pria yang menghancurkan hati wanita. Namun walaupun begitu tidak ada rasa bersalah ataupun menyesal di dalam hatinya yang sudah mati. 


"Apa maksudmu?"tanya Keira sedikit tertarik dengan perkataan Xavier. Dia mengubah posisi tidurnya menjadi berhadapan langsung dengan suaminya. 


 


Melihat bagaimana Keira jatuh ke dalam jebakannya, bibirnya menyeringai licik. Xavier kemudian menundukkan kepalanya dan mematuk bibir merah mudanya yang terlihat menggoda.


"Apa kamu percaya cinta pandangan pertama, hm?"


Walaupun Keira sedikit tidak mempercayai cinta yang dibilang Xavier, Namun dia tetap mengangguk dengan koperatif. 


"Seperti itulah yang aku rasakan ketika pertama kali kita bertemu." 


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"tanya Keira heran. Karena seingatnya dia tidak pernah bertemu dengan Xavier, kecuali waktu mereka akan mendapat sertifikat nikah. 


"Ya."


"Kapan dan di mana?"tanya Keira dengan tidak sabar. 


"Mungkin sekitar 5 tahun lalu di tempat pemakaman, saat aku berkunjung ke kuburan Ibu. Dan aku secara tidak sengaja bertemu denganmu yang pada saat itu juga sedang jiarah tidak jauh dari posisi Mas,"jelas Xavier dengan sabar. 


Dia ingat, sebelum dia pergi ke luar negeri, Keira terlebih dahulu berkunjung ke makam ibunya untuk berpamitan. Namun pada saat itu perhatiannya hanya tertuju pada kuburan ibunya dan tidak memperhatikan yang lainnya. 


"Karena itulah kamu jatuh cinta padaku?"


"Hm." Xavier menjatuhkan kecupan penuh kasih sayang di kening Keira. 


"Namun sebelum aku bisa mendapatkanmu, kamu sudah pergi terlebih dahulu, menghilang tanpa jejak seolah ditelan bumi. Walaupun aku sudah mengerahkan semua bawahanku untuk mencarimu, aku tidak pernah menemukanmu." 


Memikirkan bagaimana dia mencari wanita dipelukannya dengan gila-gilaan membuat dia frustasi. 


"Dan sekarang aku tidak akan pernah melepaskanmu sampai kapanpun!" Dengan cahaya gelap di matanya, Xavier merengkuh pinggang Keira dengan posesif. 


Keira tidak menyangka akan dicari seperti itu oleh orang yang sama sekali belum pernah dia temui. Dan itu membuat dia sedikit merinding. 


"Lalu apa maksudmu dengan Clara sebagai penggantiku?"


"Pada saat itu, aku sangat frustasi karena tidak menemukanmu, dan aku dengan terpaksa menerima pengejaran wanita itu. Namun meskipun wajahnya sedikit mirip denganmu, aku tidak pernah merasakan perasaan berdebar dan senang seperti saat pertama kali bertemu denganmu." 

__ADS_1


"Jadi Keira, aku mohon jangan pernah meninggalkanku atau kabur dariku. Karena itu membuatku sangat gila,"ucapnya dengan nada serak. 


Xavier mengungkung Keira di bawah tubuhnya, matanya yang gelap dan tanpa dasar menyembunyikan sifat posesif yang ekstrim. 


"Aku sangat menyukaimu."


"Aku jatuh cinta padamu."


"Dan itu membuatku gila."


Setiap kata yang diucapkan akan dibarengi dengan kecupan singkat di bibir merah muda istrinya. 


Xavier menenggelamkan wajahnya di leher Keira dan sesekali akan mengecupnya memberi tanda kepemilikan. 


"Kenapa jatuh cinta padamu membuatku gila."


Keira tidak tau harus berkata apa ketika mendapatkan pernyataan cinta yang tiba-tiba seperti ini, tubuhnya terasa membeku dengan jantung yang terus berdetak kencang seperti akan copot. 


"Apa kamu juga menyukaiku, hm?"bisik Xavier di telinganya seraya mengelus perut rata Keira. 


Keira sangat terkejut karena mendapat pertanyaan seperti ini. Dia juga tidak tau bagaimana perasaannya terhadap Xavier. Perasaannya sangat campur aduk dan tidak karuan ketika berdekatan dengan Xavier. 


"A-aku, aku tidak tau,"jawab Keira malu sekaligus bingung. 


Xavier tertawa rendah melihat wajah bingung keira, dia dengan gemas mengecup pipi Keira yang terlihat merah merona. 


Keira mengangguk dengan wajah malu-malu. Dia memang merasakan perasaan itu, namun dia bingung karena tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya. 


Melihat Keira mengiyakan ucapannya, Xavier tersenyum bahagia. Dengan perasaan yang membuncah, Xavier mencium Keira dengan penuh gairah. 


"Yah aku juga menyukaimu,"ucapnya disela-sela ciuman mereka. 


Malam itu dibawah cahaya rembulan, bayangan kedua sosok yang saling tumpang tindih itu terlihat indah dan mempesona. 


°°°°


Keesokan paginya, di sebuah gedung tinggi pencakar langit. 


Suasana kantor terlihat cerah dan bahagia, tidak ada lagi awan hitam yang menyelimuti seluruh kantor. Dan tidak ada lagi bos suram yang membuat mereka gemetar ketakutan. 


Karena hari ini, entah angin apa yang mengubah sosok bosnya menjadi lebih baik memberikan mereka bonus. Meskipun mereka bingung dengan perubahan bosnya, namun mereka berharap angin seperti ini menerpa bosnya setiap hari agar mereka mendapatkan bonus. 


Pada saat ini, seorang presdir tertentu sedang memproses semua dokumen yang menumpuk di atas meja dengan senyum bahagia di wajah tampannya. 


Dan David yang melihat ekspresi bahagia di wajah bosnya tidak perlu bertanya lagi. Dia sudah tau alasan kenapa hari ini awan cerah menerpa kantor mereka. Karena ini ada sangkut pautnya dengan nyonya Keira yang sudah ditemukan. 

__ADS_1


"Bos ada undangan makan malam yang diadakan oleh Tuan Baron di villanya." David menyerahkan undangan mewah itu di depan Xavier. 


"Waktunya seminggu lagi."


Cahaya dingin melintas di mata gelapnya ketika melihat undangan itu dan dengan main-main memutar pulpen di jarinya. 


"Seminggu lagi ya, oke katakan padanya aku akan datang,"ucapnya dengan seringai licik di bibir tipisnya. 


"Baik Bos." David tau apa yang akan direncanakan tuannya dan mereka harus bersiap-siap menunggu intruksi dari bosnya. 


Sementara mereka sedang berdiskusi tentang rencana yang akan dilakukan, terdengar suara keributan di luar ruangannya. 


"Sebentar Bos saya akan memeriksanya." 


Sebelum David melangkah, suara pintu yang dibanting dari luar terbuka. Dan sosok wanita glamor berjalan ke arah mereka dengan wajah marah. 


"Xavier kenapa karyawanmu melarangku masuk menemuimu?"keluh Clara dengan wajah menyedihkan. 


"Aku mau kamu pecat mereka sekarang juga!"perintahnya dengan mendominasi sambil menunjuk kedua wanita yang mengikutinya. 


"Maaf Bos kami tidak bisa menghentikannya,"ucap kedua wanita itu sambil menundukkan kepalanya. 


"Lihat, benarkan mereka ingin menahanku. Memang apa salahnya aku menemuimu." Clara hendak berjalan menuju Xavier namun segera dihalangi oleh David.


"Apa yang kamu lakukan, minggir! Ada yang ingin aku bicarakan dengan Bosmu"ujar Clara tidak puas. 


"Maaf Nona, jika ingin berbicara tolong dari sini, jangan terlalu dekat karena Bos kami sudah mempunyai Istri." David merentangkan tangannya, mencegah wanita itu mendekat ke arah bosnya. Dia tidak ingin perang Dunia ke dua terjadi lagi dan membuat mereka harus kerja lembur. 


"Kamu!" Clara menunjuk wajah David dengan  marah lalu menatap Xavier dengan menyedihkan. 


Namun perhatian Xavier hanya tertuju pada ponselnya yang menampilkan chatan romantis antara dirinya dan Keira.. 


"Xavier!" 


Mendengar teriakan yang melengking Xavier menjawab dengan acuh tak acuh, " Jika kamu ingin berbicara, katakan saja jangan membuang-buang waktuku."


Meskipun kesal dengan jawaban cueknya, Clara tetap mengatakan apa yang akan dia katakan sambil menggertakkan giginya. 


"Perjamuan makan malam nanti aku akan menjadi pendamping wanitamu,"ucapnya tidak tahu malu. 


"Tidak perlu, saya akan bersama Istri saya." 


"Kami! Dia hanya wanita jal-" Sebelum perkataannya selesai dia sudah diseret oleh beberapa pengawal yang datang dari luar. 


"Sialan! Lepas beraninya orang rendahan sepertimu menyentuhku!"

__ADS_1


"Lepas!"


__ADS_2