Istri Kecil Tuan Muda Xavier

Istri Kecil Tuan Muda Xavier
Bab 68


__ADS_3

Keira segera membawa Shaka kedekapannya, hatinya yang cemas akhirnya sedikit tenang.


"Maaf sayang Ibu terlambat menjemputmu, maaf, maaf." Keira menjatuhkan ciuman bertubi-tubi di kepala Shaka, wajahnya masih  dipenuh dengan kepanikan dan rasa cemas. 


Mencium wangi familiar di tubuh ibunya Shaka melingkarkan tangan pendeknya di leher Keira, wajah kecilnya ia sembunyikan di pundak ibunya, air mata yang dia tahan perlahan jatuh tak terkendali membasahi baju ibunya. Tangisannya yang pelan seperti kucing kecil yang ditinggalkan sangat menyayat hati, membuat Keira merasa sakit. 


Ketakutan, kecemasan, dan kepanikan yang dia rasakan membuat emosi negatifnya meledak. Shaka berpikir untuk kedua kalinya dia akan ditinggalkan sendiri di dunia ini. Anak pembawa sial yang tidak diinginkan oleh siapapun. 


"Jangan nangis sayang, jangan takut Ibu ada di sini,"bujuk Keira merasa sedih sambil mengelus punggung Shaka yang bergetar hebat. 


Ini semua salahnya seharusnya mereka menjemput Shaka terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah sakit. Jika selangkah saja mereka terlambat dan tidak ada para pengawal mungkin Shaka akan dibawa pergi oleh mereka. Memikirkan adegan tadi hatinya sangat tegang, untung saja pengawal yang diperintahkan Xavier sangat sigap. 


Xavier berdiri di samping ibu dan anak itu seperti naga kuat yang melindungi harta karunnya. Wajahnya yang dingin dan tanpa ekspresi membuat mereka takut apalagi  aura kuat yang terpancar dari tubuhnya menekan mereka. 


"Tuan, Nyonya." Para pengawal itu membungkuk dengan hormat. 


"Apa yang terjadi." Suaranya yang rendah dan dingin penuh penekanan. 


Salah satu pengawal berjalan ke depan dan membungkuk hormat. 


"Lapor Tuan, kedua orang itu ingin membawa Tuan kecil pergi."


Mendengar hal ini seketika wajahnya menjadi suram tatapan dinginnya menyapu dua orang itu. 


"Ingin membawanya?"


Ditatap seperti itu mereka seperti ditatap oleh binatang buas yang akan memangsa mereka, membuat mereka menyusut ketakutan. 


"A-anu… i-itu… kami tidak bermaksud membawanya, ka-kami hanya ingin bertemu dengan Shaka."   


"Ya, ya, ya kami hanya ingin bertemu shaka hahaha…."ucap Maya tertawa canggung sambil menyenggol lengan Tommy mengisyaratkan untuk segera pergi dari sini. 


"Hahaha… karena tidak ada urusan lagi, kami pergi dulu." Tommy buru-buru membawa istrinya kabur dari sini sebelum pria itu menghentikan mereka. 


"Bos apa kita perlu menghentikannya."


"Tidak perlu, awasi saja pergerakan mereka." 


"Baik Bos."


Xavier menatap punggung mereka dengan penuh arti lalu melirik Shaka yang meringkuk di pelukan Keira seperti binatang kecil yang tidak aman. Dia kemudian mengulurkan tangannya dan mengambil alih Shaka, menggendongnya dengan satu tangan lalu meraih tangan Keira untuk digenggamnya. 


"Ayo kembali."


Pak satpam yang masih mematung, menatap kepergian mereka dengan linglung sampai dia sadar kembali mereka sudah menghilang dari pandangannya. 


"Siapa laki-laki itu auranya sangat mencekam."   


°°°°

__ADS_1


"Akh sial apa yang harus kita lakukan?!"


"Jika kita datang lebih awal mungkin rencana kita tidak akan gagal."


Tommy menendang kerikil-kerikil di tanah dengan suasana hati yang dongkol sambil mengacak-acak rambutnya karena frustasi. 


"Apa lagi, tentu saja kita harus datang ke sekolahannya lagi."


"Tapi bocah itu dikawal oleh beberapa pria kuat." 


"Kalau begitu bagaimana kalau kita susun rencananya lagi."


"Rencana?"


Maya mendekati telinga Tommy dan membisikkan rencananya. Cahaya licik melintas di dalam matanya yang penuh dengan niat jahat. 


°°°


Setelah mereka kembali Shaka langsung mengurung diri di kamar. Suasana hatinya juga tampak sangat rendah dan sensitif, mungkin karena anak itu bertemu dengan mereka. 


"Bi apa Shaka masih belum juga keluar dari kamar?"


"Belum Nyonya."


"Hah…." Keira menghembuskan nafas berat, kelopak matanya terkulai sedih. 


"Ini salahku."


Di dalam kamar bernuansa anak-anak sesosok kecil tengah berbaring di kasur dengan mata terpejam, namun mulut kecilnya terus mengoceh. 


"Tidak ibu jangan buang Shaka."


"Shaka bukan anak pembawa sial."


"Jangan pukul lagi."


"Ibu sakit."


Tubuh kecilnya terlihat tegang, Wajah imutnya sangat pucat, keningnya berkerut erat dengan keringat yang terus bercucuran dan air mata  yang terus keluar membasahi pipi gembulnya. Kenangan buruk itu datang lagi ke mimpinya. 


Di rumah kecil yang bobrok umpatan-umpatan kasar terus terdengar, seorang wanita tengah mencambuk anak kecil kurus, kerempeng yang berlutut di lantai dengan tubuh telanjang tanpa belas kasihan, meski punggung kecilnya sudah terluka karena cambukannya. 


"Sialan! Dasar anak tidak berguna! Bukankah saya menyuruhmu untuk masak sebelum saya kembali hah! Kenapa malah tidur-tiduran!"


"Maaf Ibu, Shaka tidak malas Shaka… Shaka lagi sakit."


Ctas! 


"Alasan! Dasar anak tidak tau diri! Apa ini caramu balas budi kepadaku hah! Berpura-pura sakit agar kau tidak bisa bekerja, hah! "

__ADS_1


Ctas! 


"Ibu aku mohon berhenti, Shaka kesakitan. Shaka benar-benar sakit, seluruh badan Shaka sakit." 


"Ibu, sakit."


Maya menutup telinga terhadap rintihan bocah itu. Dia dengan kejam terus mengayunkan sabuk di tangannya pada tubuh Shaka, tidak mempedulikan ratapannya. 


"Ini yang pantas kamu dapatkan!"


"Dasar anak pembawa sial!" 


Ctas!  


"Seharusnya dulu saya membunuhmu sebelum kamu lahir! Brengsek!" 


Ctas! 


Shaka kecil meringkuk di lantai melindungi kepalanya dengan kedua tangan mungilnya. Tubuhnya terus bergetar kesakitan karena pukulan yang dilayangkan ibunya, matanya terpejam erat dengan air mata yang terus mengalir menahan rasa sakit di punggungnya, mulut kecilnya tertutup rapat mencoba menahan tangisannya agar tidak keluar. 


"Apa aku akan mati seperti ini? kenapa aku harus dilahirkan jika akan diperlakukan seperti ini. Kenapa ibu dan ayah tidak menyanyangiku? Apa salahku?" 


Terkadang dia selalu berharap mungkin jika orang tuanya memberikan kasih sayang walau sekecil apapun dia akan merasa bahagia. Shaka sangat iri dengan anak-anak seusianya yang memiliki keluarga  bahagia dan harmonis. Jika keluarganya seperti itu mungkin dia adalah anak paling bahagia di dunia. 


Tepat ketika Shaka berpikir ibu akan memukulinya sampai mati, tiba-tiba suara bariton seorang pria yang dikenalnya menghentikan kegiatan ibunya. 


"Cukup! Apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin anak ini mati hah!" 


"Kalau iya kenapa? Sialan!"


"Dasar gila jika anak ini mati kita tidak akan mendapatkan uang!"


"Apa maksudmu?"


"Seseorang akan membeli anak ini dengan harga tinggi!"


"Apa!"


Ketika Shaka mendengar mereka akan menjualnya, wajah kecilnya seketika pucat, tubuhnya gemetar tak terkendali. Dia perlahan bangun tertatih-tatih dan berjalan ke arah mereka sambil menyeret tubuhnya yang terluka. 


"Ayah Shaka mohon jangan buang Shaka, jangan jual Shaka." 


"Shaka… Shaka janji akan jadi anak baik. Jadi Shaka mohon jangan buang Shaka, Ayah." Jari-jari kecilnya memegang celana panjang milik ayahnya, berlutut di kakinya dan memohon dengan sangat menyedihkan. 


Melihat anak itu memegang celananya rasa jijik muncul di hatinya, dia dengan keras menendang tubuh anak itu menjauh. 


"Akh sialan! Siapa yang menyuruhmu menyentuh celanaku dengan tangan kotormu hah!"


"Ukh… uhuk… uhuk… uhuk." Cairan merah tua keluar dari mulutnya mengotori lantai, Shaka memegang perutnya yang sakit, meringkuk  seperti bayi dalam kandungan. 

__ADS_1


Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, samar-samar dia melihat beberapa pria masuk dan berbicara dengan ayahnya. Senyum miris menghiasi wajahnya dan perlahan kesadarannya mulai menghilang. 


"A-ayah…."


__ADS_2