
Di luar pintu kamar mandi bi Eli terus mengetuk pintu tanpa putus asa, tidak memedulikan tangannya yang sudah merah akibat mengetuk terlalu kuat. Ini sudah terlalu lama sejak nyonyanya berada di kamar mandi dan tidak pernah keluar, yang membuat bi Eli merasa cemas takut sesuatu terjadi padanya.
"Nyonya! Apa Nyonya baik-baik saja."
"Nyonya tolong buka pintunya!"
"Nyonya!"
Karena tidak ada pergerakan di dalam bi Eli mondar-mandir di depan pintu dengan perasaan cemas sambil memikirkan bagaimana cara mengeluarkan nyonyanya.
"Ah kenapa aku tidak ingat bukannya masih ada kunci cadangan, ck dasar bodoh." Bi Eli merutuki dirinya sendiri, memukul kepalanya pelan dan mencari letak kunci cadangan itu disimpan.
Setelah mendapat apa yang diinginkan bi Eli buru-buru ke kamar mandi di lantai bawah dan hampir menabrak tuannya yang baru saja pulang bersama tuan muda Shaka.
"Astaga Tuan maafkan saya, saya tidak berhati-hati."
Xavier tidak memperdulikan permintaan maafnya, melihat bi Eli sangat tergesa-gesa dan gelisah. Sebagai tuannya Xavier peduli terhadap bawahannya dan bertanya padanya, "Ada apa?"
"I-itu… Nyonya tidak mau keluar dari kamar mandi walau saya sudah memanggilnya berkali-kali,"ucap bi Eli sedikit takut, takut tuannya akan marah dan memecatnya.
"Bibi kenapa ibu tidak mau keluar dari kamar mandi, apa ibu baik-baik saja?" Shaka menarik ujung baju bi Eli bertanya dengan cemas.
"I-itu…." Dia bingung bagaimana harus menjawabnya, apalagi dia juga tidak tahu keadaan nyonyanya.
"Pergi periksa,"perintah Xavier dengan penuh penekanan, wajahnya terlihat gelap dan suram seperti ingin membunuh seseorang.
"Ya."
Tepat ketika mereka sampai di kamar mandi, mereka melihat Keira berdiri di luar pintu dengan keadaan linglung seolah jiwanya mengembara ke dimensi lain.
"Ibu…" Shaka memeluk paha ibunya sambil menggosokkan wajahnya dan bertanya dengan suara teredam," Apa Ibu baik-baik saja?"
"Kenapa?" Xavier mengusap rambut halus Keira dan berkata dengan penuh perhatian.
"Nyonya, syukurlah Nyonya mau keluar." Bi Eli merasa lega melihat nyonyanya baik-baik saja.
__ADS_1
Keira langsung tersadar saat mendengar perkataan mereka yang penuh kekhawatiran. Pandangannya menyapu mereka semua yang tidak menyembunyikan kecemasannya dan hatinya merasa hangat.
"Aku baik-baik saja,"ucap Keira tersenyum lembut, diam-diam dia menyembunyikan testpack di tangannya ke belakang.
Tindakan yang menyembunyikan sesuatu itu terlihat jelas oleh Xavier yang selalu memperhatikannya. Namun, dia tidak bertanya padanya.
"Oke ayo kita kembali."
°°°°
Di dalam kamar, entah sudah berapa kali Keira mondar-mandir sambil menggigit kukunya, sesekali dia akan melirik testpack di tangannya yang menunjukkan dua garis biru.
"Aku benar-benar hamil."
Ada semacam rasa bahagia, cemas dan khawatir di hatinya saat tahu dia benar-benar akan memiliki anak. Cemas karena ini adalah pengalaman baru baginya, dan dia tidak tahu harus bagaimana. Khawatir dia tidak bisa menjaga bayi di dalam kandungannya.
Tetapi, meski begitu dia akan berusaha menjaga anaknya dan belajar apa yang harus dilakukan selama kehamilan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Mungkin dia perlu membeli buku edukasi tentang kehamilan.
Keira mengusap perut ratanya dengan penuh kasih, di dalam sini ada embrio kecil yang akan berkembang menjadi anak mereka. Membayangkan bagaimana dia akan menggendong bayinya Keira merasa bahagia.
Dengan hati gembira Keira pergi ke ruang kerja Xavier dan mengetuk pintu itu sebelum diijinkan masuk oleh Xavier.
"Ada apa? sangat senang." Xavier melepas kacamata berbingkai emas itu di atas meja dan merentangkan tangannya untuk membiarkan Keira masuk ke dalam pelukannya.
Keira menyembunyikan testpack di belakang punggungnya lalu duduk di pangkuan Xavier dengan senyum bahagia yang terpancar di wajah cantiknya.
"Tebak."
Xavier menaikkan sebelah alisnya untuk berpikir sejenak sebelum menyerah dengan teka-tekinya.
"Nah Mas tidak bisa menebaknya, jadi bisakah Nyonya Chester memberitahuku apa itu?" Xavier melingkarkan lengannya di pinggang ramping istri kecilnya, senyum kecil muncul di bibir tipisnya membuat wajahnya berkali lipat lebih tampan.
"Kalau begitu tutup matamu jangan membukanya sebelum aku suruh."
"Oke." Xavier dengan patuh bekerja sama dengan istri kecilnya dan menutup matanya.
__ADS_1
"Nah sekarang buka."
Mendengar perintahnya Xavier perlahan membuka matanya dan melihat testpack di depan matanya yang menunjukan dua garis biru yang tampak jelas.
"I-ini…." Untuk pertama kalinya Xavier berbicara gugup ketika melihat testpack di tangan Keira.
Keira tertawa puas melihat reaksi Xavier yang gugup, dia mengulurkan tangannya memeluk leher Xavier dan berkata gembira, " Kita akan memiliki anak."
Otak Xavier langsung berdengung, tubuhnya membeku. Saat ini perasaan campur aduk antara bahagia dan bingung sama seperti yang dialami Keira.
"Apa aku akan menjadi ayah?" Suaranya sedikit gemetar karena kebahagian yang tiba-tiba seperti ini.
Keira menangkup wajah Xavier dan mengangguk dengan penuh semangat.
"Ya!"
"Hahaha bagus! Aku akan menjadi ayah! Terima kasih sayang." Xavier mencium bibir lembut Keira berkali-kali dengan sukacita.
Segera berita tentang kehamilannya menyebar keseluruh keluarganya dan mereka yang mendapat berita itu juga sangat senang.
Malam ini di vila Xavier tampak sangat ramai. Adam, Asher, dan Max datang berkunjung ke kediaman Keira untuk memberikan hadiah selamat.
"Ayah kenapa repot-repot membelikan hadiah sebanyak ini,"ucap Keira tak berdaya saat melihat tumpukan hadiah peralatan dan mainan bayi.
"Apa yang repot-repot, ini semua untuk cucuku,"ucap Adam berpura-pura marah, namun wajahnya yang sudah tua tampak dipenuhi dengan kegembiraan.
"Kakak tidak tahu harus memberikan apa untuk keponakan kecilku, jadi aku hanya memberikan kartu ini untuk dia belanjakan saat besar nanti." Max memberikan salah satu kartu black card miliknya yang belum dia pakai pada Keira.
Melihat tumpukan hadiah dan black card di tangannya Keira diam-diam merasa tak berdaya di hatinya.
"Anak ini sebelum lahir sudah memiliki kekayaan."
Pada saat ini di lantai atas, tidak ada yang memperhatikan sosok kecil yang bersembunyi di celah pagar pembatas, memperhatikan semua orang yang tertawa gembira. Seakan terlupakan Shaka mengerutkan bibirnya erat, Punggung kecilnya yang rampuh tampak kesepian.
"Apa aku juga akan ditinggalkan."
__ADS_1