
"Sampai…entahlah aku masih nyaman seperti ini." ujar xavier tenang sambil menghirup nikotin di tangannya.
"Ya ya terserah, kamu bos kamu punya kuasa."
David sudah lelah menghadapi bos yang selalu seenaknya seperti ini.
"Tapi bos saat kami menangkap sopir itu di gudang terbengkalai, Orang-orang yang menjaganya hanya geng biasa bukan organisasi besar seperti yang lainnya. Dan dari penyelidikan yang saya dapat mereka adalah geng kriminal yang suka merampok dan mencuri." ungkapnya saat mengingat sesuatu.
"Juga saat kami menghabisi mereka semua, saya terlebih dahulu mengintograsi salah satu dari mereka yang akan sekarat. Dan katanya mereka disuruh oleh seseorang, tapi mereka tidak tau siapa, dan yang tau siapa orangnya hanyalah John ketuanya."
"Jadi kamu sudah menangkap ketuanya?" tanya Xavier sembari menghembuskan asap rokok itu ke udara
"Sayangnya saya tidak bisa menangkapnya dia berlari dan bersembunyi terlalu cepat meski telah kami hajar." sesal David, jika saja dia bergerak cepat mereka pasti akan tau siapa dalangnya.
"Tapi bos, apa bos pernah mencurigai seseorang yang sangat memungkinkan menjadi dalang semua ini?" tanya David penasaran.
Karena dia tau bosnya mempunyai banyak sekali musuh tapi tidak ada yang berani bertindak melawannya, karena mereka semua takut pada bosnya yang kejam dan sadis dalam melawan musuh-musuhnya.
Selama berada di sisi bosnya, David sudah melakukan banyak pertumpahan darah bersama anggota lainnya. Semua anggota yang direkrut bosnya adalah orang-orang putus asa yang mencoba bertahan hidup di dunia yang kejam ini.
Dan mereka dinamai SEVEN KILLER yang dikenal dengan keberingasannya, kebrutalannya,dan kekejamannya dalam menghajar musuh-musuhnya. Mereka adalah orang-orang yang sangat bertalenta dibidang mereka masing-masing. Dan disebut SEVEN KILLER, karena anggotanya hanya berjumlah tujuh orang yang tidak bisa dianggap remeh.
Semua orang mungkin mengetahui siapa saja anggota SEVEN KILLER itu, tapi tidak semua orang tahu siapa bos sebenarnya yang menjadi pemimpin mereka. Banyak yang mengira mungkin dia adalah seorang pria paruh baya dengan penampilan yang gemuk dan jelek, yang tidak ingin diekspos penampilannya karena seperti itu.
Jika tuannya tau bagaimana semua orang menilainya sebagai pria paruh baya yang gemuk dan jelek, mungkin dia akan marah dan langsung mengirim bom peledak pada orang yang menyebarkan rumor.
Membayangkannya saja membuat dia bergidik ngeri apalagi melihatnya secara langsung. Meskipun mereka sudah banyak melakukan pembunuhan, tapi lain cerita jika bos yang sudah turun tangan. Siapa saja yang melihat kebrutalan bos dalam menghabisi musuhnya akan bergidik ngeri.
Mendengar perkataan dari asistennya, mata hitam Xavier menyipit berbahaya jari-jarinya yang panjang dan lentik mengetuk meja di depannya hingga menimbulkan bunyi yang sangat nyaring di ruang kerja yang sunyi.
David yang mendengar suara ketukan meja tuannya hanya menelan ludah kasar, dia seperti mendengar ketukan pengadilan untuk dijatuhi hukuman mati.
"Curiga ya…kalau begitu periksa dia." perintah Xavier sambil melemparkan sebuah foto ke atas meja.
Melihat foto yang dilemparkan tuannya, David segera mengambil foto itu dan melihatnya secara teliti.
"Bukankah dia…." David menjeda kalimatnya saat melihat foto yang sangat ia kenal, mengangkat kepalanya dia menatap tuannya dengan tatapan bingung.
__ADS_1
"Benar, aku sebenarnya sudah curiga sejak lama. Karena hanya dia yang berani berhadapan denganku diantara musuh-musuh lainnya." jelas Xavier.
"Kalau begitu aku akan pergi dulu dan meminta mereka untuk membantu menyelidikinya."
"Bagus."
Setelah mendengar persetujuan tuannya, tidak tunggu lama David langsung berbalik dan berjalan keluar, namun sebelum membuka pintu dia menoleh sebentar ke belakang.
"Bos, kapan bos akan pergi ke markas?"
"Nanti malam." jawab Xavier saat mendapat pertanyaan dari asistennya.
"Apa perlu saya jemput bos?" tanyanya kembali sambil menatap kaki tuannya dengan penuh arti.
Memicingkan matanya berbahaya Xavier menatap David dengan senyum lembut.
Melihat senyum lembut dari tuannya, tubuh David langsung kaku, kakinya tiba-tiba terasa lemas.
"B-bos sa-saya pergi dulu."
"Bye bos."
"Astaga nyonya!" kagetnya sambil mengelus dada.
"Kenapa nyonya berdiri di sini, kenapa tidak ketuk pintu."
"Aku mau ketuk pintu tapi pintunya sudah terbuka sendiri." jelas Keira.
"Karena kalian sudah selesai, yuk kita makan." ajak Keira
"Maaf nyonya, saya harus segera pergi, karena masih ada urusan yang sangat penting." sesal David dengan raut wajah menyesal.
"Memang tidak bisa ditunda?"
"Tidak bisa nyonya ini benar-benar sangat penting."
Melihat interaksi antara istri kecilnya dan pria lain membuat Xavier merasa cemburu, dia menatap punggung asistennya dengan tatapan membunuh seolah ingin mencincangnya.
__ADS_1
Merasakan hawa dingin di belakang punggungnya, tanpa mencari tahu pun dia sudah mengetahuinya asalnya.
"Nyonya saya pergi dulu, selamat tinggal."
Tanpa tinggal lebih lama lagi David langsung melarikan diri dari ruang kerja meninggalkan mereka berdua.
Keira yang ditinggalkan berdua saja bersama Xavier, membuatnya merasa canggung terutama saat mengingat kembali perkataan Karina.
"Seharusnya aku bawa Shaka," gumam Keira pelan, merutuki kebodohannya sendiri.
"Kenapa kamu masih berdiri di sana, sini masuk." ajak Xavier lembut saat melihat istrinya yang masih berdiri di depan pintu.
"Hah…oh iya."
Keira perlahan melangkahkan kakinya masuk ke ruang kerja Xavier, dan untuk pertama kalinya dia masuk ke ruang kerja Xavier setelah menikah dengannya. Sambil mengamati interior di ruangan itu, ruangannya sangat didominasi dengan warna hitam dan juga terdapat banyak sekali rak buku dan rak lain untuk menyimpan berkas-berkas penting. Ada juga satu set sofa di dekat jendela yang berhadapan langsung dengan meja kerja Xavier.
Sesampainya di depan meja Xavier, Keira sangat terkejut, untuk pertama kalinya dia melihat wajah serius Xavier yang sedang fokus bekerja, terlihat sangat tampan dan berkharisma.
Dengan kacamata yang bertengger manis di hidung mancungnya, jari-jarinya yang panjang dan lentik mebalik balik dokumen yang ada di tangannya.
Meski umurnya sudah kepala tiga, namun itu tidak mengurangi kadar ketampanannya, dan malah terlihat lebih tampan dan lebih dewasa.
"Sudah puas memandang suamimu, hm." ucapnya dengan nada serak dan magnetis.
Xavier mengangkat kepalanya dari dokumen itu, lalu menatap istrinya yang sudah tersipu malu.
Terciduk karena menatapnya, Keira langsung memalingkan mukanya yang merah ke samping.
"Ehem…si-siapa juga yang melihatmu." elak keira cepat matanya berkeliaran ke mana-mana.
Xavier yang melihat tingkah istri kecilnya yang menggemaskan membuatnya terkekeh gemas.
"Dasar pembohong kecil."
"Sini bantu aku dorong kursi rodanya."
Tanpa membantah Keira berjalan ke arah Xavier dan membantunya mendorong kursi roda, namun tanpa sengaja dia sekilas melihat foto seorang perempuan di laci yang sedikit terbuka.
__ADS_1
Deg
Kenapa dia sangat mirip denganku.