Istri Kecil Tuan Muda Xavier

Istri Kecil Tuan Muda Xavier
Bab 63


__ADS_3

David mengamati ruangan di sekitarnya dengan cermat. Rumah ini tampak sangat kecil dan sempit hanya terdapat satu ruang tidur dan ruang tamu yang terhubung dengan dapur. Juga bangunan di sini kelihatan tua dan terisolasi. 


"Tolong tanda tangani kontrak pengalihan hak asuh anak di sini." Sean menaruh kontrak di atas meja beserta pulpennya untuk mereka tanda tangani. 


Ketika mereka membaca kontrak itu, mereka sangat tidak senang. 


"Tidak! kami tidak akan menandatangani kontrak itu! Bagaimanapun Shaka adalah putra kandungku yang aku lahirkan sampai harus bertaruh nyawa! Aku sebagai ibu kandungnya tidak akan memberikan putraku pada wanita itu!" 


"Ya benar Tuan tolong kembalikan Shaka kepada kami, dia adalah anak kami satu-satunya. Hidup kami terasa kosong jika tidak ada Shaka, putra kami." 


Tommy berpura-pura mengusap air mata palsunya dan diam-diam memperhatikan reaksi mereka berharap mereka akan bersimpati, namun apa yang ditampilkan di wajah mereka hanya ekspresi dingin dan acuh tak acuh seperti patung es. 


David menatap kedua orang itu dengan cuek tidak ada rasa simpati sedikit pun di dalam hatinya untuk mereka. Karena dia sudah tahu kedua orang ini hanya berpura-pura apalagi setelah tahu mereka sendiri yang membuang tuan muda dan sekarang ingin mendapatkannya kembali. Dia curiga mereka memiliki motif lain terhadap tuan kecil. 


"Aku harus mencari tahu."


"Tidak perlu basa-basi sebagai imbalannya Tuan memberi kalian uang senilai 200 juta." Sean menaruh koper di atas meja dan membukanya, memperlihatkan uang berwarna merah kepada mereka. 


Mereka hampir terbang ke langit saat melihat uang sebanyak itu lebih-lebih lagi itu tepat di depannya! 


Tapi meski hati mereka sangat senang karena mendapat jackpot dari langit, mereka tidak menunjukkannya dipermukaan. 


Tommy terbatuk canggung menutupi kegembiraan di dalam hatinya, namun wajahnya yang memerah mengkhianati kepura-puraannya. 


"Tuan ini apa menurutmu dengan uang sebanyak ini kami akan menyerah? Tidak! kami hanya ingin anak kami kembali." 


Maya hampir mati ketakutan karena perkataan bodoh suaminya, apa maksudnya tidak? Sialan! Uang ini lebih berharga daripada anak pembawa sial itu! 


Maya mencubit paha Tommy kuat hingga membuat dia mendesis kesakitan. 


"Apa yang kamu lakukan!"bisik Tommy tajam. 


"Harusnya aku yang menanyakan itu! Anak itu tidak berguna kenapa kamu masih mempertahankannya!"


"Diam! Kamu tonton saja dari samping jangan ikut campur!"


Melihat mereka masih berbisik-bisik Sean mencibir, dan wajahnya yang tampan tanpa ekspresi. 


"Karena itu yang kamu inginkan, saya akan membawa uang ini kembali." 


Sean akan menutup kembali koper yang berisi uang itu, namun langsung dicegah oleh pihak lain. 


"Tunggu Tuan." Di bawah tatapan tajam pria itu wajah Tommy memerah malu dan dengan canggung berkata, " Setelah melakukan pertimbangan dengan istri saya, kami memilih membiarkan Shaka bersama orang tua angkatnya. Bagaimanapun juga dengan tinggal bersama mereka hidupnya akan terjamin dibandingkan bersama kami."


"Ya, ya, ya benar,"timpal Maya mengangguk cepat. 

__ADS_1


Mendengar ucapan tak tahu malu kedua orang ini David tersenyum menghina, sedetik yang lalu orang ini bersikeras untuk mendapatkan tuan muda tapi sekarang di hadapan uang mereka betekuk lutut. 


"Kalau begitu cepat tanda tangani,"tegas David sangat tidak sabar. 


"Ya, ya, ya." Tommy buru-buru menandatangani namanya di bawah kontrak. 


Setelah tanda tangan kontrak selesai Sean menyimpan kontrak itu di tas yang dibawanya. 


Sebelum pergi David memperingati mereka terlebih dahulu, "Jangan datang dan ganggu Tuan Muda lagi!" 


"Baik!"


Setelah kedua orang itu pergi Tommy buru-buru menutup pintu dan menghitung uang merah di dalam koper bersama istrinya dengan penuh kegembiraan. 


"Ini benar-benar 200 juta!" 


"Apa yang harus kita lakukan dengan uang sebanyak ini?!"


"Mari kita pindah ke rumah yang lebih besar."


"Oke, bagus."


Tok… tok… tok


Mendengar suara ketukan di luar mereka buru-buru membereskan semua uang ke dalam koper dan menyembunyikan di kamar. 


Wajahnya penuh kebahagiaan memikirkan bagaimana dia akan memakai baju bagus, pergi perawatan, membeli mobil, membeli tas mewah, makan-makanan enak. Membayangkan hidup seperti ini pasti sangat menyenangkan. 


Bugh! 


"Bukankah hari ini tenggat waktunya kenapa kamu masih belum membawanya!"


Bugh! 


"Maaf, maaf beri saya waktu lagi." 


Mendengar keributan di luar Maya buru-buru menyembunyikan uang itu di tempat aman dan berlari keluar. Tepat pada waktunya melihat suaminya terbaring di lantai dan dipukul oleh orang itu sampai babak belur. 


"Hentikan!" Maya segera mendorong orang itu sekuat tenaga dan membantu suaminya bangun. 


Tommy perlahan berdiri dibantu istrinya, wajahnya terlihat bengkak akibat pukulan kuat pria itu. 


"Maaf tolong beri kami waktu lagi."


"Waktu! Waktu! Waktu! Aku sudah memberimu waktu dua minggu yang lalu dan sekarang!"

__ADS_1


"Maaf." Tommy menundukkan kepalanya rendah meminta maaf pada pria di hadapannya. 


"Baik, aku beri tiga hari lagi jika aku tidak mendapat anak itu juga jangan harap mendapatkan uang!" Setelah selesai bicara pria itu pergi meninggalkan rumah mereka. 


Maya memapah Tommy untuk duduk di kursi usang lalu mengambil obat P3K dan membantu mengobati luka di wajahnya. 


"Kita harus membatalkan rencananya bagaimanapun kita sudah mendapatkan uang yang banyak."


Mendengar perkataan suaminya Maya mengernyitkan dahinya, rasa tidak puas muncul di hatinya. Meskipun mereka mendapatkan uang 200 juta tapi dia tidak rela jika harus kehilangan uang 50 juta dari pria itu. 


Itulah sifat manusia tamak yang tidak pernah bersyukur, merasa tidak puas dengan apa yang dimilikinya. 


"Tidak, uang 200 juta masih kurang bagaimanapun masih banyak yang harus kita beli."


"Tapi kita sudah mengambil uang itu dan menandatangani kontrak pengalihan hak asuh anak itu."


"Jangan khawatir aku punya rencana." Maya menepuk pundak suaminya seraya tersenyum misterius, dan di dalam mata hitamnya penuh dengan kelicikan dan keserakahan. Dia membisikkan semua rencananya kepada Tommy . 


°°°°°


Di dalam mobil hitam yang melaju menuju perusahaan, David bersandar di kursi dengan santai sambil memanggil bosnya untuk memberitahukan keberhasilan misinya. Setelah beberapa saat menunggu akhirnya panggilan itu dijawab. 


"Halo Bos."


"Hm."


David tidak mempermasalahkan jawaban singkat dari pihak lain dan dengan senang hati menceritakan kabar gembira ini. 


"Nah Bos sekarang Tuan Muda kecil sudah menjadi milikmu dan mereka sudah menandatangani pengalihan hak asuh Tuan kecil."


"Ya."


David menggenggam ponselnya sedikit bersemangat menunggu ucapan selanjutnya tentang bonus tambahan, tapi untuk beberapa saat dia tidak mendengar suara dari ujung sana. Dan dengan ragu David memanggil bosnya. 


"Bos?"


"Ya."


"Bagaimana dengan… bonus?"


Setelah kata-kata David telepon itu langsung masuk ke dalam kehening yang aneh, David diam-diam merasa cemas di dalam hatinya. 


"Apa Bos akan marah?"gumam David merasa bersalah. 


Tepat saat David akan meminta maaf dan menyerah tentang bonusnya, dia mendengar suara dingin di ujung sana. 

__ADS_1


"Oke."


__ADS_2