Istri Kecil Tuan Muda Xavier

Istri Kecil Tuan Muda Xavier
Bab 30


__ADS_3

Setelah ciuman paksa yang dilakukan Xavier terhadapnya, kini Keira terbaring lemah di pelukan Xavier, nafasnya tersenggal-senggal dalam keadaan kacau. Bajunya terangkat hingga memperlihatkan pinggang rampingnya yang putih dan mulus, bibirnya bengkak dan terdapat luka di sudut bibirnya, rambut panjangnya yang indah terlihat sangat berantakan. 


"Maaf sayang, gara-gara Mas bibir kamu luka pasti sakit ya?" Xavier  merasa bersalah ketika melihat bibir Keira yang terluka karena ulahnya. 


Dia mengusap bibir bengkak Keira dengan ibu jarinya. Entah kenapa dia tidak bisa mengontrol kekuatannya setelah bibirnya bersentuhan dengan istrinya, mungkin karena bibir istrinya terlalu manis yang membuat dia ketagihan. 


"Ti-tidak, tidak papa." Keira terlalu malu untuk melihat wajah Xavier. Karena itu, dia membenamkan wajahnya di dada Xavier. 


Kenapa harus membahas ini sih. 


Keira tidak menyangka Xavier akan seganas ini menciumnya, seperti hewan buas yang kelaparan melahap habis mangsanya tanpa sisa. 


"Yah lain kali Mas akan hati-hati," ucap Xavier lembut sembari mengelus rambut panjang Keira. 


"Em,"gumam Keira pelan. 


"Em… Mas…,"ujarnya ragu-ragu tangannya memilin baju Xavier hingga kusut. 


Bagaimana cara aku ngomongnya ya, gimana kalau nanti dia marah . Batinnya merasa resah. 


Melihat istrinya yang ragu-ragu seolah ingin mengatakan sesuatu, membuat Xavier penasaran apa yang ingin dikatakan Keira. 


"Ada apa hm, bicara saja gak usah gugup." Xavier mengelus kepala Keira, memberitahukan untuk jangan khawatir. 


Keira merasa nyaman saat dibelai seperti ini, membuat dia merasa aman dan tidak gugup. 


"Em… bagaimana kalau kita sembuhin kaki Mas pada Dr. Keenan. Dia kan pernah menangani pasien yang kakinya lumpuh," ucap Keira hati-hati takut menyinggung perasaan Xavier. 


Mendengar perkataan Keira, Xavier terdiam sejenak, tangannya yang mengelus kepala Keira berhenti. 


Merasakan tidak ada gerakan lagi dari Xavier, Keira mendongakan kepalanya keatas melihat wajah tampan suaminya yang datar. 

__ADS_1


"Mas,"panggil Keira membuyarkan lamunan Xavier. 


"Hm,"gumamnya melirik ke bawah memandangi wajah cantik Keira. 


"Kenapa Mas diam saja?"tanya Keira heran, karena setelah dia mengatakan itu suaminya diam saja, "Apa perkataanku salah ya?"


"Tidak, perkataanmu tidak salah kok sayang."


"Lalu kenapa Mas diam saja." Keira bingung jika perkataannya tidak salah kenapa suaminya tidak berbicara. 


"Mas cuma lagi mikir, bagaimana ngejelasinnya ke kamu." 


"Jelasin apa?"


"Kamu tau dari mana kalau Keenan berhasil menyembuhkan kaki yang cacat total itu?"tanya Xavier balik, tidak menjawab pertanyaan Keira. 


"Em… aku pernah dengar beritanya, kalau Dr. Keenan berhasil nyembuhin kaki pasien yang lumpuh karena kecelakaan. Sama persis seperti yang dialami oleh Mas, dan siapa tau kaki Mas juga bisa sembuh,"jelas Keira bersemangat, dia ingin melihat suaminya bisa berdiri lagi dan berjalan seperti orang-orang. 


"Apa kamu malu punya suami lumpuh kaya Mas, iya sih mana ada perempuan yang mau sama Mas,"ucap Xavier sedih, matanya terkulai sayu dia kemudian melepaskan tangan yang memeluk Keira. 


"Tidak! Sejak kapan aku ngomong kalau aku malu punya suami kaya Mas, nggakkan. Jadi gak usah mikirin macem-macem oke,"tegas Keira. 


Melihat mata Keira yang penuh keseriusan, membuat Xavier terpesona. Dia mencoba menahan senyum yang akan muncul, dengan wajah sedih Xavier menggenggam pergelangan tangan Keira, lalu mengusap wajahnya ke telapak tangan Keira seperti anak kucing yang ingin dibelai.


"Lalu tadi kamu,"tuduhnya merasa dirugikan. 


"Mas salah paham, aku hanya ingin Mas sembuh."ucap Keira lembut dan tanpa sadar mencium pipi Xavier, karena melihat wajah cemberut suaminya yang terlihat lucu. 


Xavier tidak menyangka dirinya akan dicium atas inisiatif istrinya sendiri. Memegang pipi bekas ciuman istrinya, mata Xavier menjadi gelap dengan tatapan aneh. 


Tersadar apa yang telah dia lakukan, keira langsung menjauh. Pipinya diwarnai oleh perona pipi, dia tidak tau sudah berapa kali dia tersipu. 

__ADS_1


Arghh… apa yang aku lakukan, memalukan sekali dasar bodoh kamu Keira. Rutuknya di dalam hati. 


"A-aku aku tidak senga… aduh." Sebelum perkataannya selesai, tangannya sudah ditarik kencang dan keningnya membentur dagu Xavier hingga memiliki tanda merah. 


Xavier langsung memeluk pinggang ramping Keira lalu mencium keningnya yang memerah.


"Tidak papa, Mas tidak peduli mau sengaja atau tidak Mas sangat senang. Lain kali, seperti ini saja kalau bisa sih setiap hari ."


"Huh… modus, lepas aku mau pergi ke kamar Shaka. Kalau lama-lama di sini bisa bahaya,"desaknya ingin melepas diri dari kungkungan Xavier. 


"Tidak mau! Kamu itu istri Mas, milik Mas. Kenapa harus pergi ke kamar laki-laki lain,"ucap Xavier merasa cemburu. 


Keira tidak menyangka, suaminya akan cemburu dengan anaknya sendiri. 


"Astaga Mas, Shaka anak kita bukan orang lain." Keira tak habis pikir dengan cara jalan otak suaminya. 


"Sama aja dia laki-laki, apalagi suka nempel sama kamu. Mas tidak suka."


"Iya-iya,"pasrah Keira. 


"Jadi bagaimana tawaran aku Mas, kamu maukan?"


Mendengar pertanyaan Keira, Xavier tidak segera menjawab dia hanya menyembunyikan wajahnya di leher Keira, dan menghirup wangi mawar tubuh istrinya dengan rakus. 


"Mas… ? "


"Sebenarnya… orang yang kamu bicarakan adalah Mas. Mas sengaja merahasiakan identitas Mas dari publik, karena Mas tidak ingin mereka tau kalau Mas sudah sembuh," 


"Apa!" Seperti tersambar petir di siang bolong, tubuh Keira membeku dia tidak percaya apa yang didengarnya. 


"Ma-maksudnya, Mas pura-pura gitu." Keira masih tercengang dengan kebenaran yang terungkap. 

__ADS_1


Melihat wajah terkejut Keira yang terlihat lucu, Xavier merasa gemas. Dia dengan cepat mencium bibir Keira sekilas. 


"Ya."


__ADS_2