Istri Kecil Tuan Muda Xavier

Istri Kecil Tuan Muda Xavier
Bab 46


__ADS_3

Xavier memegang pipinya yang terasa panas lalu turun ke sudut bibirnya, di mana ada sedikit noda darah yang bukan miliknya, sebelum dia sadar apa yang telah terjadi, Xavier mendengar suara rintihan tangis yang menyayat hati, seperti ditusuk oleh seribu jarum yang tak terlihat. 


Tanpa mempedulikan penampilannya Xavier berlari menuju kamar mandi, menggedor pintu berulang kali lalu memutar kenop pintu berharap pintunya terbuka, namun nihil pintunya terkunci dari dalam. 


"Keira, Mas mohon buka pintunya. Maaf,Mas minta maaf, Mas salah."


"Sayang tolong buka pintunya, mari kita bicara." 


"Keira."


"Sayang."


Mau seberapa kali pun Xavier memanggil, tidak ada tanggapan yang dia inginkan dari dalam, hanya suara terisak-isak yang menyahutnya. 


"Maaf, Mas mohon jangan nangis."


"Mas salah, Mas nyakitin kamu lagi. Mas minta maaf honey."


"Jangan nangis, kalau kamu gak mau buka pintunya gak papa, Mas akan nunggu kamu di sini." Xavier menyandarkan tubuhnya di dinding, wajahnya penuh dengan kesedihan dan penyesalan. 


"Sayang jangan nangis." Xavier menyandarkan kepalanya di dinding, rambutnya yang berantakan menutupi mata yang penuh penyesalan dan kedua tangannya mengepal kuat. 


"Maaf sayang,"bisik Xavier. 


Setelah itu hanya keheningan yang terjadi diantara mereka berdua, sesekali terdengar suara air diselingi isak tangis yang mengiris hatinya. 


°°°°


Satu jam berlalu,


Di dalam kamar mandi Keira menatap pantulan dirinya di cermin, wajah cantiknya saat ini terlihat menyedihkan, matanya sembab karena terlalu banyak menangis. Juga, terdapat luka sobek dan bengkak di bibirnya. 


"Terlihat memalukan,"gumamnya serak, sebelum keluar Keira membasuh mukanya terlebih dahulu dengan air keran. Pakaiannya pun sudah diganti menjadi piyama pendek yang sangat nyaman. 


Saat Keira membuka pintu dia dikejutkan dengan keberadaan Xavier yang tengah bersandar di dinding, dengan mata terpejam. Wajah rupawannya terlihat kelelahan, dengan lingkaran hitam di bawah matanya. 


Melihatnya seperti ini Keira ragu-ragu sejenak, bibirnya mengkerut erat antara ingin membangunkannya atau tidak. Dan pada akhirnya Keira menendang kaki Xavier pelan. 

__ADS_1


"Bangun."


"Eungh…."


"Pindah." 


"Keira?" 


Melihat pria itu sudah sadar, Keira segera pergi meninggalkannya tanpa menunggu reaksi pria itu. Dia harus mengobati lukanya sendiri sebelum terjadi infeksi. 


Xavier langsung tersadar ketika Keira pergi, dia buru-buru bangkit dan pergi menyusulnya. 


"Sayang kamu mau ke ma-" Sebelum perkataannya selesai Xavier melihat Keira duduk di depan meja rias sedang mengobati lukanya. 


Perlahan dia melangkahkan kaki panjangnya menuju istrinya dan berdiri di belakangnya, tangannya ingin menjangkau tubuh wanitanya, namun terhenti ketika melihat mata sembab istrinya di cermin. Dan diam-diam tangan yang terhenti di tengah jalan ia turunkan kembali. 


Matanya meredup penuh penyesalan dan rasa bersalah. Dia telah menyakiti istri kecilnya yang berharga. 


Setelah selesai mengobati lukanya Keira berbalik ke belakang menatap Xavier dengan cuek. 


"Mari bicara." Keira terlebih dahulu berjalan menuju sofa diikuti Xavier, lalu duduk di single sofa menghindari kontak dekat dengan suaminya. 


"Kamu bisa menjelaskan dan aku akan mendengarkan,"ucap Keira tenang setelah memenangkan hatinya. 


Xavier tidak segera menjelaskan, tatapan matanya memandang Keira dengan lembut dan penuh harap. Lalu berkata dengan hati-hati, " Bisakah aku memelukmu sambil menjelaskan?"


Namun Keira tidak menjawab pertanyaan Xavier, dia hanya menatap Xavier dengan dingin. Artinya kalau dia menolak. 


Meskipun begitu Xavier tidak menyerah, dia turun dari kursi dan bersimpuh di lantai lalu menyandarkan kepalanya di pangkuan Keira, tangannya yang kekar melingkar di pinggang rampingnya erat. Tidak memberi Keira kesempatan untuk melepaskannya. 


"Kamu! Lep-"


"Aku mohon biarkan aku begini,"ucap Xavier dengan nada memohon menyela penolakan Keira. 


Mendengar nada memohonnya yang terdengar memprihatinkan, Keira berhenti memberontak lalu merilekskan tubuh tegangnya. 


"Oke,"ujar Keira terpaksa. 

__ADS_1


Xavier langsung tersenyum puas lantas mengambil tangan Keira dan menaruhnya di atas kepala. 


"Elus."


"Kamu!"


"Aku mohon."


Mendengar nada menyedihkannya lagi, Keira menggertakkan giginya kesal lalu dengan hati dongkol dia mengelus rambut Xavier. 


"Cepat!"


"Sebenarnya…." Xavier mulai menjelaskan bagaimana dia bisa bersama Clara. 


Untuk bisa mendapatkan bukti kejahatan Baron ayahnya Clara, dia terpaksa harus mendekati putrinya karena jika menyuruh bawahannya, Baron mungkin akan curiga kalau itu adalah anggota SEVEN KILLER. Lantaran wajah semua anggotanya dikenal oleh semua orang, dan dia sebagai ketua yang tidak dikenal harus turun tangan. 


Meskipun Baron sempat mencurigainya, tapi dibawah bujukan Clara yang tergila-gila dengannya akhirnya luluh. Baron tidak lagi mencurigainya, namun sebelum misinya selesai dia sudah tertangkap basah oleh istrinya, yang berakhir dengan Keira melarikan diri darinya tanpa bisa menjelaskan. 


"Lalu kenapa kamu tidak memberitahu rencanamu padaku?"tanya Keira setelah mendengar penjelasan Xavier. 


"Aku hanya ingin menyelesaikan masalah ini sendiri,"ucap Xavier sembari menikmati elusan lembut di kepalanya. Dia tidak ingin istrinya terlibat. 


Tangan yang mengelus rambut Xavier terhenti, Keira menurunkan kelopak matanya ke bawah memandang wajah samping Xavier dengan cahaya redup lalu tersenyum miris. 


"Pada akhirnya sebagai istrimu aku tidak berarti apa-apa."


"Mungkin menceritakan sebagian masalahmu padaku tidak ada gunanya, karena aku tidak bisa berbuat apa-apa."


"Aku minta maaf karena membuatmu terluka."


"Aku minta maaf karena telah menyakiti."


"Maaf sayang."


Keira tidak langsung memaafkannya, dia perlahan berkata, "Kamu tau, sekecil apapun kesalahannya, aku tidak bisa menoleransi atau memaafkan pengkhiantan dan kebohongan itu. Karena aku paling membenci kedua hal itu."


"Maaf aku tidak bermaksud membohongimu ataupun mengkhianatimu."

__ADS_1


"Maaf."


__ADS_2