
Selain itu, di sebuah perusahaan besar, semua para karyawan yang bekerja di sana, sangat gempar dengan kedatangan bos mereka yang legendaris.
Bagaimana tidak, bos yang selama ini dikabarkan lumpuh dan tidak akan bisa berdiri lagi, sekarang kembali bekerja di perusahaan dengan kaki yang utuh dan baik-baik saja.
Kedatangannya tidak hanya menghebohkan semua karyawan. Tapi, semua para investor pun sangat terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba.
Sedangkan pelaku yang membuat heboh semua orang, pada saat ini sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Apa semuanya sudah berkumpul?"tanyanya pada David yang berdiri di depannya
"Sudah Tuan."
"Kalau begitu, mari kita buat Bedebah-bedebah itu menyesal karena berani mengkhianatiku,"ucapnya tajam, dengan niat membunuh yang kenal.
"Baik Tuan." David segera mengikuti tuannya dari belakang.
****
Di sisi lain, suasana di ruang pertemuan sangat sunyi dan tegang. Para investor yang mengkhianati xavier, sangat cemas dan gelisah.
"Saya dengar, selama saya tidak ada di perusahaan. Kalian ingin menggantikan posisi saya, benarkah itu."
Matanya yang tajam setajam elang, menatap mereka semua yang ada di ruangan ini, satu persatu. Jari-jarinya yang lentik mengetuk meja secara berirama, membuat jantung semua orang berdegup kencang. Wajah mereka terlihat pucat dengan keringat dingin di sekujur tubuh mereka.
"Ti-tidak Tuan, ka-kami mana mungkin menggantikan posisi Tuan,"ucap salah satu investor itu dengan gugup.
"Benarkah, tapi yang saya tau, kalian ingin menggantikan posisi saya sebagai Presdir,"ujarnya dingin, dia menatap mereka semua dengan tatapan mengejek.
"Heh… apa menurut kalian saya gampang dibodohi! David pecat siapa saja yang mengkhianatiku, dan buat hidupnya hancur!"
"Tidak! Tuan saya mohon maafkan kami!"
Tanpa mendengarkan teriakan mereka, Xavier langsung bangkit dan berjalan keluar dari ruangan dengan aura dingin yang tidak mudah di dekati orang.
Alaric yang sedari tadi diam dan hanya melihat semua yang terjadi, mengepalkan tinjunya penuh kebencian, matanya yang merah penuh dengan niat membunuh yang kuat, saat menatap punggung tegap pria itu yang menjauh.
Sialan! Semuanya gagal! Bukankah kakinya lumpuh, tapi kenapa dia bisa berdiri. Brengsek!
°°°
__ADS_1
Setelah kembali ke ruangannya, Xavier langsung memproses semua dokumen yang belum ia tangani. Matanya yang fokus saat membaca dokumen, sesekali akan melirik ke ponselnya.
Kenapa Keira tidak membalas pesanku. Apa dia tidak membacanya?
Brak!
Pintu ruangan yang tertutup, didobrak paksa oleh David yang bergegas masuk ke dalam dengan raut wajah cemas.
"Bisakah kamu mengetuk pintu!"bentak Xavier sambil menatap tajam asistennya yang mendobrak pintu sembarangan.
"Maaf Tuan! Tapi ini sangat gawat!"ujarnya cemas.
"Ada apa?"
"Nyonya… Nyonya masuk rumah sakit!"
"Brengsek! Arthur sialan! kenapa dia tidak bisa menjaga istriku!"
......................
"Ini hanya luka ringan, kenapa harus di bawa ke rumah sakit?" Setelah pertarungan tadi, Keira secara tidak sengaja mendapatkan luka sobek di lengan kirinya. Membuat dia terpaksa harus pergi ke rumah sakit untuk segera ditangani.
"Tapi ngomong-ngomong, kamu siapa? Kenapa menolongku?"tanya Keira heran, sebenarnya dia tadi ingin menanyakan namanya. Tapi, keburu diseret olehnya ke rumah sakit.
"Arthur, bodyguardmu,"ucapnya cuek.
"Hah! siapa yang nyuruh?"
"Suamimu."
Brak!
"Honey! Are you okay!" Xavier berlari menuju bangsal Keira dengan raut wajah cemas, lalu membawa Keira kepelukannya dan memeluknya erat.
"Mana yang sakit, sayang." Xavier menelisik tubuh Keira dari atas sampai ke bawah, hingga tatapannya jatuh pada lengan kiri Keira yang diperban.
Seketika bangsal itu menjadi dingin, karena aura yang dikeluarkan Xavier.
"Siapa yang melakukan ini padamu?"tanyanya dingin dengan niat membunuh.
__ADS_1
"Para preman yang mencegatku. Tapi tenang, sekarang aku baik-baik saja kok,"ujar Keira lembut, dia tidak ingin membuat Xavier khawatir.
"Lain kali, jangan buat Mas khawatir. Juga balas pesan Mas."
"Iya maaf, aku lupa,"ujarnya sambil bertingkah manis.
Melihatnya yang bertingkah manja, Xavier hanya bisa menghela nafas tak berdaya. Dia tidak bisa marah pada istri kecilnya. Dia hanya bisa memeluknya erat lalu mencium keningnya bertubi-tubi.
"Ayo kita pulang."
"Oke."
****
Selain itu, di tempat yang sama, tapi di ruangan yang berbeda. Seorang gadis cantik dengan gaun rumah sakitnya, tengah melakukan rehabilitasi bersama seorang suster yang mendampinginya.
Setelah terbangun dari koma, seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan dan Dokter bilang perlu rehabilitasi untuk memulihkannya menjadi dalam kondisi semula.
"Ya bagus Nona Clara, setiap harinya ada peningkatan. Mungkin tak lama lagi, Nona akan sembuh."
"Hahaha terima kasih suster."Tawanya yang lembut, meluluhkan hati suster itu.
"Mari Nona saya antar ke ruangan."
"Iya."
Mereka berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit. Banyak perawat yang berlalu-lalang membawa pasien.
"Sayang, Hati-hati jangan sampai menabrak orang."
"Sialan! Arthur siapa yang menyuruhmu memegang istriku."
"Yaelah Bos, aku hanya memegangnya sedikit."
"Kalian diam!"
Deg!
Mendengar suara yang akrab itu, jantung Clara berdegup kencang. Matanya perlahan mulai berkaca-kaca, tangannya yang bersandar di kursi roda mengepal kencang, seolah menyalurkan semua emosi yang membuncah di dalam hatinya. Mendongakkan kepalanya ke atas, dia bertemu dengan wajah yang selalu ia rindukan.
__ADS_1
"Xavier!"