
"Selamat menikmati,"ucap Keira tersenyum ramah pada pelanggannya, setelah mengantar pesanan mereka dia berlalu pergi untuk mengantarkan pesanan lainnya.
Meski bukan hari weekend namun siang ini cafe nya cukup ramai, banyak pelanggan yang berdatangan hanya sekedar untuk beristirahat, bersantai ataupun mengerjakan tugas. Dan karena letaknya yang strategis kafenya mendapat banyak pelanggan yang mampir.
"Bos biar aku saja." Lily buru-buru menghentikan Keira yang akan mengantarkan pesanan lain, ini tugasnya dia tidak enak jika bosnya yang harus mengerjakan tugasnya sendiri.
"Tidak papa, aku akan membantumu sana antar pesanan lainnya." Keira mendorong Lily pelan menjauh darinya agar tidak menghalangi.
"Tapi Bos…." Lily tetap kekeh ingin mengambil nampan itu di tangan Keira. Dia sangat tidak nyaman melihat bosnya melakukan pekerjaannya, lagian bosnya juga baru keluar dari rumah sakit betapa melelahkan melakukan pekerjaan seperti ini.
Bagaimana bisa Keira memberi kesempatan pada Lily, dia dengan cepat menghindari cakarnya dan segera pergi.
"Bos!"
Mendengar teriakan di belakangnya Keira tersenyum penuh kemenangan namun tak lama kemudian senyum itu langsung pudar melihat tangannya kosong.
Dengan tatapan kosong Keira mendongak ke atas menatap wajah tampan orang di depannya.
Max menyentil dahi Keira pelan, senyum tak berdaya muncul di bibir tipisnya.
"Apa yang kamu lakukan dengan pekerjaan seperti ini, pergi istirahat biar aku yang mengurus ini." Tanpa menunggu respon Keira Max langsung pergi meninggalkannya.
"Bos siapa pria tampan itu?"tanya Lily tiba-tiba membuat Keira terkejut.
"Sejak kapan kamu di sini?"
Lily tidak menjawab, dia hanya cengengesan tidak jelas menampilkan deret gigi putihnya yang rapi.
"Bos siapa dia?"
Keira memandang wanita energik di sampingnya yang penuh rasa ingin tahu lalu berkata dengan cuek, " Karyawan baru."
Setelah mengatakan itu Keira pergi ke ruangannya tanpa menyapa Lily.
Lily menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berjalan kembali menuju rekannya sambil bergumam, " Karyawan barunya sangat tampan."
Melihat Lily datang semua rekan kerjanya mengerubunginya seperti semut dan bertanya siapa pria tampan yang berani menyentil dahi bosnya. Lily menjawab seperti yang dikatakan bosnya lalu pergi bekerja lagi.
Meski mereka kecewa dengan jawaban yang tidak memuaskan itu, mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan melanjutkan pekerjaan masing-masing.
••••
Max mengamati interior di dalam ruangan ini yang akan menjadi tempat kerjanya. Ruangannya cukup sederhana dan tampak nyaman.
"Cukup bagus, terlihat nyaman."
"Tentu saja,"ucap Keira cukup bangga dengan gaya dekorasi yang dipilihnya.
__ADS_1
"Jadi kapan aku kerja?"
"Sekarang."
"Tidak masalah."
Tok… Tok… Tok
Mendengar suara ketukan pintu di luar, Keira segera menyuruh mereka untuk masuk.
"Bos,"panggil mereka serempak.
"Karena kalian sudah ada di sini aku akan memperkenalkan manajer baru kita." Keira menarik Max yang ada di belakang ke sisinya.
"Ini Max saudaraku, dia akan bekerja menjadi manajer di kafe kita,"ucap keira memperkenalkan saudaranya kepada mereka.
"Halo semuanya,"sapa Max tersenyum ramah.
Mereka mengalihkan perhatiannya pada pria maskulin di samping bosnya, tatapannya sangat tajam seperti pisau, mata birunya terlihat mempesona membuat kaum hawa yang melihatnya langsung terpikat, terdapat brewok tipis di dagu dan rahangnya, membuat wajahnya terlihat sangat jantan.
"Jika kalian keberatan silakan angkat tangan."
"Tidak!"ucap mereka sedikit bersemangat, bagaimana bisa mereka keberatan jika wajah seperti ini akan mereka lihat setiap hari.
"Bos, kami sama sekali tidak keberatan, kami dengan senang hati menyambut manajer baru kita,"ucap Lily mewakili semua orang, tatapannya tidak pernah lepas dari pria di samping bosnya.
"Bagus kalau begitu, kalian bisa kembali istirahat,"ucap Keira cukup puas.
"Baik Bos." Mereka dengan enggan berbalik pergi terutama Lily, dia masih belum puas mengagumi wajah manajer baru mereka.
"Manajer baru jika kamu butuh sesuatu panggil saja aku,"teriak Lily sebelum diseret oleh temannya.
Setelah mereka pergi kini hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu, Keira melirik sekilas kakaknya yang masih menatap pintu dengan sedikit minat di mata birunya.
"Kakak." Keira melambaikan tangannya di depan wajah Max.
"Hah?"ujarnya bodoh
"Apa… kamu menyukainya?"tanya Keira sedikit ragu.
Mendengar perkataan Keira, Max langsung tersadar dia menatap Keira seperti melihat orang yang keterbelakangan mental.
"Omong kosong apa yang kamu bicarakan, apa menurutmu aku seorang pedofil!"
"Mungkin,"gumam Keira rendah yang masih dapat didengar oleh Max.
"Persetan!"
__ADS_1
°°°°°
"Apa kamu sudah menemukan pelakunya?"
"Maaf Bos saya belum bisa menemukannya."
"Sialan! Jika dokumen itu hilang aku sudah selesai." Baron menjatuhkan tubuhnya di sofa, wajahnya yang sudah tua tampak sangat kuyu dan lesu.
Saat mengetahui dokumen pentingnya dicuri dia hampir gila! Semua dokumen itu adalah bukti-bukti kejahatan perusahaan yang dibangunnya. Jika bukti itu jatuh ditangan lawan, maka dia sudah selesai semua usahanya akan hancur! Selain itu ada juga bukti konspirasi kecelakan Xavier.
"Bos apa menurutmu dalang dibalik pencurian ini Tuan Xavier? Karena setauku tidak mungkin Tuan Xavier tidak mengetahui siapa pelaku yang menyebabkan kecelakaan mobil yang menimpanya,"ucap Henry setelah menganalisis semuanya.
Mendengar perkataan Henry, Baron sedikit merenung, jika itu benar-benar dia yang mencurinya, dia akan selesai. Baron tau bagaimana kejamnya Xavier saat memberantas semua musuh yang menentangnya.
"Jika itu memang dia kenapa tidak ada pergerakan dipihak mereka,"ujar Baron lemah.
"Mungkin… mencari waktu yang pas?"ucap Henry sedikit ragu. Karena menurutnya Tuan Xavier yang terkenal beringas dan kejam tidak mungkin melupakan musuh yang berani berkonspirasi melawannya.
Pada saat ini pintu ruang kerja terbanting terbuka, Clara masuk tanpa permisi dan duduk di samping ayahnya.
"Ayah aku mau keluar minta uang."
Baron mengambil salah satu kartunya dan memberikan pada Clara.
"Cepat pergi."
"Oke." Clara dengan senang hati langsung pergi sambil membawa kartu yang diberikan ayahnya.
Seperti memikirkan sesuatu Baron langsung duduk tegak menghentikan putrinya yang akan pergi.
"Tunggu."
"Hah?" Clara menoleh ke belakang dengan bingung.
"Kau mau pergi ke mana?"tanya Baron dengan nada serius.
"Terserah aku mau pergi ke mana, Ayah jangan coba mengaturku!"
"Kamu bebas pergi ke mana saja asal jangan memprovokasi atau mengganggu Xavier dan istrinya!"
"Kenapa?"ucap Clara tidak puas dengan larangan ayahnya.
"Turuti saja!"teriak Baron sedikit tidak sabar.
Clara langsung tercengang mendengar teriakan Baron, Ini pertama kalinya melihat ayah berteriak padanya terutama di depan orang lain!
Dengan raut wajah marah Clara berbalik berlari keluar tidak lupa membanting pintu membuat mereka terkejut.
__ADS_1
"Persetan!"