Istri Kecil Tuan Muda Xavier

Istri Kecil Tuan Muda Xavier
Bab 64


__ADS_3

Keira menjinjing tas belanjaannya menuju dapur dan mengeluarkan semua bahan-bahan yang ada di dalamnya ke atas meja. Setelah pulang dari cafe dia menyempatkan diri untuk mampir ke supermarket membeli bahan masakan. 


Malam ini dia  akan masak untuk makan malam sekaligus mengundang lima orang itu karena telah membantu merenofasi cafenya. Karena waktu itu dia tidak sempat mentraktir mereka, jadi malam ini dia akan memasak hidangan untuk mereka. 


Ketika bi Eli melihat nyonya nya sibuk  wajahnya langsung cemas, dia segera masuk ke dapur dan membantunya. 


"Nyonya biar saya bantu."


"Oke, Bi tolong cuci semua bahan-bahannya. Hari ini saya yang akan masak."


"Nyonya tidak perlu melakukan hal ini biar koki saja yang mengurusnya,"saran bi Eli sambil membersihkan sayuran di wastafel. 


"Gak perlu Bi aku ingin melakukannya sendiri,"tolak Keira halus. 


Bi Eli tersenyum tak berdaya dan tidak memaksanya lagi, tanpa mengatakan apa-apa dia mencuci semua sayuran sampai bersih. 


"Apalagi yang bisa saya bantu Nya."


"Bibi tolong bangunkan Shaka dan bantu mandikan dia ya." Keira mengambil alih sayuran yang sudah dicuci bersih dari tangan bi Eli. 


Biasanya sore ini Shaka masih tidur, karena 


sehabis pulang sekolah Shaka akan langsung tidur siang. Jika tidak dibangunkan, mungkin anak itu akan tidur sampai malam dan berakhir bocah itu akan begadang dan mengganggunya. 


Setelah mendapat instruksi darinya bi Eli langsung pergi ke lantai atas. 


Keira segera menguasai dapur setelah hanya tinggal dia sendiri dan dengan bebas melakukan apapun yang dia mau. 


Sambil bersenandung kecil, pertama-tama dia mulai memotong semua perbawangan. Tangannya yang ramping sangat cekatan dalam memotong bawang, dan tidak kurang dari satu menit Keira sudah mengiris semua bahan lainnya. 


Untuk makan malam ini dia akan memasak lima menu, sop iga, ikan bakar, bistik daging sapi, udang saus tiram, dan ayam goreng mentega saus madu termasuk makanan penutup lainnya. 


Meski memasak sendiri, tapi kecepatannya sangat cepat dan lihai karena masak adalah keahliannya sejak tinggal di luar negeri. Karena di sana dia harus hidup mandiri, tanpa pembantu Keira melakukan semuanya sendiri. 


Xavier melangkah masuk ke rumah dengan jas yang tersampir di lengannya,wajahnya yang kelelahan sedikit membaik saat mencium aroma masakan dari arah dapur.  Dia melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukan pukul 17.00 sore, hari ini dia pulang lebih awal dari biasanya.

__ADS_1


"Tuan anda kembali,"sapa bi Eli yang baru saja turun dari lantai atas. 


"Ya, di mana Nyonya." 


"Nyonya ada di dapur Tuan."


Mendengar jawaban bi Eli, Xavier mengangguk singkat.  Dia menyimpan jasnya di sofa, melepas dasinya dan melangkah menuju dapur. 


Bau aroma masakan enak segera menerpa hidungnya, Xavier bersandar di kusen pintu dengan tangan yang terlipat di dada, memandang punggung wanita yang tengah sibuk dengan tatapan penuh kasih sayang. 


Karena terlalu fokus Keira tidak merasakan kehadiran ekstra di belakangnya, sebelum tangan kekar melingkar di perutnya dan membuat dia berjingkat kaget. 


"Mas!"tegur Keira tajam saat tau pelakunya. 


"Maaf." Xavier mencium pipi Keira sebagai permintaan maaf. 


"Apa yang kamu masak." Xavier memeluk tubuh Keira dari belakang, menumpukan dagunya di pundak istrinya. 


"Bistik daging sapi, coba Mas rasa enak nggak." Keira mengambil sedikit bistik daging sapi dengan sendok kecil lalu meniupnya dan memberi makan Xavier. 


 


"Enak, masakan kamu selalu enak,"puji Xavier setelah menelan makanannya ke dalam perut. 


Keira sangat bahagia mendengarnya, senyum puas muncul di wajah cantiknya. 


"Tentu saja,"kata Keira tersenyum sombong. 


Melihat wajah kecilnya yang sombong Xavier tersenyum kecil, matanya yang gelap penuh kelembutan dan memanjakan. 


"Biar Mas bantu." Xavier melepas pelukannya, menggulung lengan kemeja putihnya sampai siku memperlihatkan tangan kekarnya yang putih dengan urat yang menonjol. 


"Oke."


Dengan tambahan satu orang pekerjaannya menjadi lebih ringan. Keira tidak menyangka orang yang seperti Xavier  sangat pandai memasak, apalagi saat melihat tubuh kekarnya memakai celemek merah muda yang sama dengannya membuat dia terlihat lucu. 

__ADS_1


Keira menutup mulutnya yang hampir tertawa, diam-diam dia mengeluarkan ponselnya dan memotret Xavier tanpa diketahui oleh pihak lain. 


Apa yang tidak diketahui Keira adalah Xavier melihat semua pergerakan kecilnya termasuk memotret dirinya, namun Xavier tidak mempermasalahkannya dan membiarkan istrinya membuat masalah. 


°°°°°


Setelah berkutat selama satu setengah jam di dapur, kini tibalah waktu makan malam. Mereka yang diundang Keira sudah tiba tepat waktu, terutama Kenzo dan Felix yang sudah datang lebih awal sebelum yang lainnya. 


"Wow apa makanan ini disiapkan oleh kakak ipar?"tanya Kenzo takjub dengan semua makanan yang menggugah selera di atas meja. 


"Ya, ayo cepat duduk dan makan sebelum dingin." Sebelum duduk Keira terlebih dahulu membantu Shaka duduk di kursinya. 


Mendengar perintah Keira mereka tidak sungkan lagi dan langsung duduk, tidak sabar untuk mencicipi keahlian kakak ipar mereka. 


"Wow udang ini rasanya benar-benar lezat."


"Ya, apalagi ayam goreng mentega ini, keahlian kakak ipar luar biasa,"oceh Felix dengan mulut penuh dan memberi Keira acungan dua jempol. 


Arthur sangat terganggu dengan kedua orang ini yang terus mengoceh saat makan, dia mengambil selada dan menjejalkannya ke mulut Felix. 


"Diam, makan jangan mengoceh." 


Senyum Keira terus mengembang mendengar pujian mereka. Ada rasa puas di hatinya karena masakannya dihargai. 


Meski Khenet dan Sean retalif tenang, tapi mereka setuju dengan perkataan dua orang itu. Karena tidak ada yang memperhatikan ke arah mereka, diam-diam mereka mengambil ikan bakar yang masih tersisa dua ke dalam mangkuk masing-masing. 


"Ekhem."


Mendengar suara batuk di sebrangnya tubuh mereka langsung tegang, dengan kaku mereka mengangkat kepalanya menatap William yang juga tengah menatap mereka dengan ekspresi kosong. 


Tanpa merasa malu William mendorong piringnya ke depan mereka, artinya sangat jelas. 


Khenet dan Sean saling memandang dan dengan enggan mereka membagi potongan ikan ke piring William. Suruh siapa makanan yang dibuat istri bosnya sangat enak dan membuat mereka serakah. 


William sangat puas melihat ikan bakar di piringnya, dan dengan cepat langsung memakannya takut mereka akan menyesalinya dan membawa potongan ikan itu kembali. 

__ADS_1


Mereka pikir tidak ada yang menyadari semua tindakan kecil mereka, namun mereka salah, karena sepasang mata tajam terus memperhatikan mereka dari awal sampai akhir. 


"Dasar bodoh."


__ADS_2