Istri Kecil Tuan Muda Xavier

Istri Kecil Tuan Muda Xavier
Bab 54


__ADS_3

Saat Keira tengah menyusuri sisi sungai, pandangannya tidak sengaja melihat seorang wanita bergaun putih tidak jauh dari posisinya sedang menganyam sebuah bunga menjadi mahkota. 


"Ternyata ada orang selain aku di tempat ini." Tanpa ragu Keira segera berjalan ke arah wanita itu.  


Saat jaraknya tinggal beberapa langkah lagi tubuhnya seketika membeku melihat wajah yang dikenalnya dan selalu ia rindukan siang dan malam. 


"Ibu…,"lirih Keira, matanya mulai berkaca-kaca melihat wanita tidak asing di depannya. 


Seolah mendengar apa yang dikatakan Keira, wanita itu menoleh ke arahnya. Wajahnya yang cantik tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. 


"Kenapa ka-" 


Tanpa menunggu wanita itu berbicara Keira langsung menubrukkan tubuhnya ke dalam pelukan hangat ibunya dan menangis sejadi-jadinya. 


"Ibu… Ibu… Ibu…,"panggil Keira berulang kali seperti anak kecil. 


Wanita itu menenangkan putrinya dengan menepuk lembut punggung putrinya yang bergetar hebat, lalu berkata pelan, "Kenapa Rara bisa ada di sini, hm?"


"Karena aku sudah mati,"ucap Keira setelah berhenti menangis. Dia dengan enggan melepaskan pelukan ibunya dan duduk di samping.


Alena merapikan rambut berantakan putrinya kemudian memakaikan mahkota bunga yang dia buat di atas kepala Keira. 


"Cantik,"ujarnya tersenyum lembut. Tatapannya memandang wajah putrinya yang sangat cantik. 


"Ternyata putri kecilku sudah tumbuh besar."


"Tapi sayang sebenarnya kamu belum mati, kamu harus cepat kembali ke tubuh asalmu. Semua orang sedang menunggumu kembali." 


"Kenapa? Aku masih ingin terus bersama Ibu, aku tidak ingin kembali." Keira menidurkan kepalanya di pangkuan Alena dan memandang wajah cantik ibunya dari bawah. 


Keira tidak pernah berpikir bahwa tempat seperti ini akan menjadi pertemuan pertama antara mereka setelah sekian lama mereka berpisah. 


"Aku kira hanya ada aku saja di tempat ini, tapi ternyata ibu juga ada di sini."


"Kalau seperti ini aku tidak ingin kembali, aku hanya ingin bersama ibu di sini selamanya."


"Sayang ini bukan waktunya, kamu harus segera kembali ke duniamu." Alena memandang putrinya yang tampak keras kepala dan sembrono. 


"Kalau tidak suamimu akan merasa sedih."

__ADS_1


Keira tampak ragu-ragu dan bimbang, jika bisa memilih dia sebenarnya ingin tinggal bersama ibu di sini. Tapi bila di sini bagaimana dengan Xavier, apa dia akan sedih. 


Alena membelai rambut halus putrinya yang terlihat bingung dan dengan senyum hangat dia berkata, "Apa yang kamu pikirkan? Kamu tidak bisa tinggal di sini, kamu harus segera pergi, semua orang sedang menunggumu kembali."


"Ta-tapi aku ingin terus bersama Ibu, aku tidak tega meninggalkan Ibu sendiri di tempat ini. Lagian aku tidak tahu caranya kembali,"ucap Keira lalu bangkit dari tidurnya. 


"Ibu tidak butuh kecemasanmu karena di sini Ibu sudah bahagia. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Ibu, sekarang kamu hanya perlu masuk ke cahaya itu untuk kembali." Alena menunjuk ke arah cahaya yang seukuran pintu tidak jauh dari tempat mereka. 


Keira melihat sekilas cahaya itu lalu pada ibunya. Untuk waktu yang lama Keira tidak berbicara ataupun bergerak, tatapannya tertuju pada wanita cantik di depannya. Dengan hati-hati mengukir wajah cantik itu di dalam hatinya yang akan dia rindukan untuk selamanya. 


"Ada apa?"tanya Alena lembut saat melihat putrinya berdiri diam seperti patung. 


"Tidak bisakah aku terus di sini bersama Ibu,"pinta Keira dengan nada lemah, kelopak matanya terkulai ke bawah menyembunyikan kesedihannya. Dia tidak ingin pergi, dia masih merindukan ibunya. 


Seakan tau apa yang disembunyikan putrinya Alena membawa Keira kepelukannya dan berkata dengan hangat, "Di mana pun kamu berada Ibu akan selalu ada di hatimu dan mengawasimu dari sini. Jika di malam hari Rara merindukan Ibu tatap saja bintang yang paling terang di antara ribuan bintang itu, oke." 


"En."


"Nah sekarang ayo pergi, semua orang sudah menunggumu." 


Keira tidak segera melepaskan pelukan ibunya, dia dengan rakus menghirup wangi tubuh ibunya yang akan dia rindukan. Setelah puas Keira lantas melepaskannya, dan untuk terakhir kalinya dia memandang wajah ibunya. 


"Aku pergi, selamat tinggal Ibu." Setelah itu Keira dengan enggan berbalik dan berjalan menuju cahaya tanpa menoleh ke belakang. 


"Jangan sedih Ibu selalu ada di sampingmu,"teriak Alena dengan suara serak melihat putrinya sudah masuk ke dalam cahaya. 


Ketika mendengar teriakan ibunya perlahan air matanya berangsur-angsur jatuh. Pertahanan di dalam hatinya langsung runtuh, Keira segera menoleh ke belakang namun kekuatan yang kuat segera menariknya pergi. Sebelum benar-benar pergi sekilas dia melihat wajah ibu yang tersenyum lembut dan melambai padanya. 


"Ya aku tau."


Di bangsal VVIP seorang wanita yang dikabarkan koma membuka matanya. 


"Apa ini kenapa tubuhku juga ikut nangis." Keira buru-buru menghapus air matanya dengan kasar sebelum seseorang melihatnya seperti ini. 


Keira kemudian bangun dan memperhatikan ruangan di sekitarnya yang didominasi cat putih dan bau disinfektan yang menyengat. 


"Ternyata aku masih hidup dan ada di rumah sakit, tapi ke mana semua orang? Apa tidak ada yang menjagaku seorang pun." Setelah Keira selesai berbicara tiba-tiba pintu ruangan ini terbuka dan sebuah kepala kecil muncul menengok ke dalam. 


Untuk sesaat mata besar dan kecil itu saling menatap, Keira bisa melihat keterkejutan di mata kecil itu dan sebelum dia berkata teriakan melengking terdengar di ruangan ini. 

__ADS_1


"Ibu!"


°°°°


Di ruang bawah tanah, Xavier memandang pria dan wanita yang pingsan di tanah dengan mata dingin tanpa suhu. 


"Pergi bawa air dingin,"perintah Xavier pada bawahannya. Lalu melepas sarung tangan yang ternoda oleh darah kotor mereka dan membuangnya ke tempat sampah. 


Tak butuh waktu lama bawahan itu datang membawa seember air dingin. Kemudian menuangkannya pada kedua orang yang pingsan di bawah perintah Tuannya. 


"Ukh…." Mereka berdua langsung terbangun dengan tubuh yang menggigil kedinginan dan luka yang menyengat karena tersiram air. 


Karina memandang pria kejam di depannya dengan raut wajah ketakutan yang tidak bisa disembunyikan. 


"A-aku mohon lepaskan aku, aku minta maaf, aku salah. Tolong lepaskan aku." Tanpa mempedulikan martabat yang selalu dia junjung tinggi, Karina langsung bersujud tanpa pandang bulu. 


"Aku salah, aku minta maaf. Tolong jangan siksa aku seperti ini, aku lebih baik bunuh diri saja." Setelah itu Karina segera membuktikan ucapannya dengan memukul kepalanya ke tanah. 


Ekspresi Xavier langsung suram, dia segera memerintahkan pengawal untuk menggagalkan rencana wanita itu. 


"Biarkan aku pergi! Lepas! Aku mohon biarkan aku mengakhiri hidupku!"teriak Karina putus asa sambil memberontak dari tangan pengawal. 


"Ingin bunuh diri? Jangan harap! Saya tidak akan membiarkan kalian mati secepat ini!" 


Tatapannya menyapu kedua orang itu dengan cahaya ganas dan kejam, lalu berkata dengan seringai licik di bibirnya, " Karena kamu ingin merasakan mati maka saya dengan baik hati mengabulkannya."


"Bawa dia ke taman belakang, biarkan dia bermain bersama peliharaan saya. Awasi dia, jangan sampai dia mati,"ucap Xavier kejam dengan nada perintah pada bawahannya. 


"Baik Tuan." Pengawal itu segera menyeret Karina. 


"Tidak! Aku tidak mau! Biarkan aku pergi! Aku mohon."


Setelah wanita itu pergi kini perhatiannya pada Alaric yang menyusut ke belakang. 


"A-apa yang akan kamu lakukan! Ini adalah negara hukum jika kamu berani melakukan sesuatu a-aku… a-aku…"


"Aku apa!" Dengan ekspresi gila Xavier mencekik pria itu dengan kuat hampir meremukan tulang leher Alaric. 


"Sialan! Aku akan membunuhmu!" Xavier menambah kekuatannya dengan penuh kebencian. 

__ADS_1


Pintu ruang bawah tanah terbanting terbuka, Kenzo berlari menuju bosnya dengan raut wajah bahagia. 


"Bos Nyonya sudah sadar!"


__ADS_2