Istri Kecil Tuan Muda Xavier

Istri Kecil Tuan Muda Xavier
Bab 53


__ADS_3

Setelah masa-masa kritis berakhir, sekarang Keira bisa dipindahkan ke bangsal VVIP yang dipesan oleh Xavier untuk kenyamanan istrinya. 


"Bos kamu bisa istirahat dulu, biar kami yang menjaga Nyonya,"ucap David prihatin tatkala melihat wajah kuyu dan lelah yang terpancar di wajah rupawan bosnya. 


"Tidak perlu aku akan berjaga di sini, kalian saja yang pergi istirahat,"katanya lemah, perhatiannya tidak pernah lepas dari wajah pucat Keira. 


"Tapi Bos, aduh…."


Khenet langsung menyeret Kenzo dan Felix keluar dari bangsal diikuti oleh tiga lainnya. 


"Khenet sialan!"


"Berisik!" 


Ruangan itu kembali tenang hanya menyisakan Xavier yang duduk di samping tempat tidur dan Keira yang terbaring lemah. 


Sudah hampir subuh saat Keira keluar dari kondisi kritisnya dan semua orang yang mengkhawatirkannya terpaksa pulang setelah Keira berhasil selamat. 


"Maaf, Mas gagal melindungimu." Xavier menggenggam tangan Keira yang tidak terpasang jarum infus lalu mengecupnya dengan lembut. 


Tak terasa cairan bening mulai luruh dari netranya dan membasahi punggung tangan Keira. Disertai suara isak tangis yang rendah mulai terdengar di bangsal sepi itu. 


"Maaf, gara-gara Mas kamu jadi seperti ini." 


"Maaf."


"Maaf honey." Beribu maaf yang dia ucapkan tidak akan bisa membuat Keira terbangun dari tidur panjangnya. 


Perasaan bersalah dan menyesal menyeruak di dalam hatinya ketika melihat kondisi Keira yang masih belum sadar. 


Andai saja dia membereskan semua musuh-musuhnya yang berpotensi akan melakukan serangan balik padanya atau mengancam keluarganya. Mungkin kejadian ini tidak akan menimpa istrinya yang tidak bersalah. 


"Maaf honey." Xavier mengistirahatkan setengah tubuhnya di ranjang dan tidak pernah melepaskan tautan tangan mereka. 


••••


Satu minggu kemudian. 

__ADS_1


Xavier memandang wanita pucat di tempat tidur dengan ekspresi kosong seperti kehilangan belahan jiwanya. Sudah satu minggu mata cantik itu terpejam dan tidak pernah terbuka sekalipun. 


"Tuan." David tidak tega melihat kondisi tuannya seperti tanpa gairah hidup. Ini pertama kalinya David melihat tuan yang biasanya dingin dan acuh tak acuh terhadap keluarganya akan bereaksi seperti ini ketika Keira terluka. 


Keenan juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat bosnya seperti ini. Seminggu yang lalu seharusnya Keira sudah sadar setelah keluar dari keadaan kritis. Namun entah apa yang terjadi padanya sampai membuat dia jatuh koma. 


"Sayang ayo dong buka matanya memang kamu tidak lelah tidur terus seperti ini? Kamu tidak rindu sama Mas dan Shaka. Dari kemarin Shaka nangis terus loh karena kamu gak bangun-bangun. Mas mohon padamu bangun ya sweety."


Xavier berbaring di sisi tubuh Keira sambil memeluk tubuh kurusnya dan berbisik di telinganya. Berharap dengan ini Keira akan bangun meskipun itu terdengar tidak masuk akal. Namun dia tetap akan mencobanya walau kemungkinannya hanya 1℅.


David yang menonton semuanya dari jauh hanya menghela nafas panjang. Dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu bosnya, karena ini bukan bidangnya. 


"Keenan lakukan sesuatu bukannya kamu Dokter jenius, mungkin kamu tahu cara menyadarkan Nyonya Keira." David memandang Keenan dengan penuh harap, berharap Keenan mempunyai solusinya. 


Mendengar ucapan David, Keenan mengerutkan bibirnya lalu menggelengkan kepalanya lemah. 


"Tidak ada, kita hanya bisa menunggu Nona Keira keluar dari alam bawah sadarnya."


"Alam bawah sadar, maksudnya?"


"Setelah aku periksa, tidak ada cedera lain yang bisa membuat dia koma. Kemungkinan yang terjadi Nona Keira terjebak di alam bawah sadarnya sendiri."


"Mungkin dengan Bos yang terus berbicara seperti itu, Nona Keira akan sadar sendiri. Kita hanya perlu menunggu dan bersabar."


Sementara itu Xavier menghiraukan keberadaan ekstra di ruangannya. Dia tidak peduli mereka akan mengejek atau menyidirnya saat melihat kondisinya yang seperti ini. 


Wajah tampannya yang biasa terawat saat ini terlihat kuyu dengan lingkaran hitam di bawah matanya dan jenggot tipis yang tumbuh di dagunya. 


Selama ini pandangannya tidak pernah lepas dari wanita cantik di sampingnya yang tengah tertidur seperti seorang putri dalam dongeng. 


"Sayang kamu betah banget ya tidurnya sampai keberadaan Mas aja kamu anggurin."


"Ayo bangun sweety." Xavier mengecup leher Keira berkali-kali menyalurkan semua rasa rindunya. 


Pada saat ini pintu bangsal terbuka dengan pelan dan sebuah kepala muncul dari celah pintu menengok keadaan di dalam. 


"Apa yang kamu lakukan di sana? Ayo masuk,"ujar David saat melihat wajah yang dikenalnya muncul di pintu. 

__ADS_1


Mendengar ajakan David, Asher hanya cengengesan tak jelas lalu masuk bersama William yang berjalan di belakang. 


"Kakak masih belum sadar?"tanya Asher pada kedua pria dewasa itu terus duduk di samping mereka. 


"Belum."


Walaupun Asher sudah siap secara mental dengan jawaban ini, namun hatinya tetap merasa sedih ketika mendengar kabar yang tidak dia harapkan. Begitupun dengan William yang hanya diam membisu melihat keadaan kedua kakaknya. 


"Kenapa? Apa masalahnya sampai Kakak masih belum sadar?"tanya Asher sedih melihat kondisi kakaknya. Meski sudah bebas dari masa kritisnya tapi melihat kakak belum sadar membuat hatinya terasa sesak dan sakit. 


Keenan menjawab pertanyaan Asher dengan jawaban sama yang dia ucapkan pada David. 


"Jadi kita hanya bisa menunggu Kak Kei bangun dari alam bawah sadarnya sendiri,"ucap Asher lemah sembari menyandarkan tubuhnya di sofa dengan lesu. 


William mengepalkan tinjunya kuat tatkala mendengar jawaban dari Keenan. Jika seperti ini berapa lama lagi mereka harus nunggu kak Kei bangun. 


Keenan menepuk bahu William saat melihat kedua anak itu terkulai sedih. 


"Tidak papa, kita bisa menunggu dengan sabar. Mungkin tak lama lagi Kakakmu bisa membangunkan Nona Keira dari komanya."


"Benarkah?"ucap Asher sedikit bersemangat. 


"Semoga saja." 


°°°°


Hamparan rumput hijau yang memanjakan mata terbentang di depan netra coklatnya. Bau harum yang menyegarkan tercium di hidung mancungnya membuat hatinya terasa tenang. 


Kaki telanjang yang seputih salju itu menyusuri tempat indah yang tak berpenghuni ini. Sambil menikmati semilir angin yang menerpa tubuhnya. 


Entah sudah berapa lama Keira berada di sini dan sampai bisa ke sini. Karena setelah dia pingsan dari pertempuran itu, jiwanya ditarik ke sini oleh sesuatu yang kuat.


"Apa mungkin aku sudah mati? Tapi aku tidak mau mati sekarang. Bagaimana nasib kafe ku nanti jika aku mati?"gumam Keira rendah sambil menatap langit biru yang sangat cerah di atas kepalanya. 


"Bagaimana dengan Xavier, apa dia akan jadi duda atau cari perempuan lain?" 


"Kalau Shaka dapat ibu tiri yang jahat gimana? Ah… kasihan sekali bayi kecilku jika dia diintimidasi."

__ADS_1


"Tapi apa yang bisa aku lakukan, aku sudah mati. Mungkin sekarang jasadku sudah dikuburkan."


 


__ADS_2