
Maya mengamati ruang di sekitarnya dengan tatapan takjub sekaligus iri, jika saja dia punya rumah sebesar ini mungkin hidupnya tidak akan melarat seperti ini. Tapi berpikir sebentar lagi dia akan menjadi kaya hatinya sedikit tenang.
"Siapa kalian dan ada urusan apa datang ke sini?"tanya Keira pada dua orang di depannya. Punggungnya yang ramping bersandar di sofa dengan kaki disilangkan, memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih dan mulus.
"Halo Nona kami adalah orang tua kandung Shaka, kami datang ke sini ingin membawa Shaka,"ujar Tommy dengan nada menyanjung sambil menggosok tangan kasarnya. Diam-diam matanya melirik kaki mulus wanita di depannya dengan pandangan kotor.
"Ingin membawa? Bukti apa yang kamu miliki kalau kalian orang tua kandungnya." Iris mata coklatnya memandang mereka dingin dan acuh tak acuh. Dia tidak bisa membiarkan mereka membawa putranya meskipun mereka orang tua kandungnya, kecuali Shaka yang memintanya sendiri.
"Ini… kami tidak memiliki bukti, tapi Nona dapat yakin kami adalah orang tua kandung Shaka. Jadi bisakah kami membawanya." Maya menatap wanita cantik itu sedikit antisipasi, jika wanita ini tidak mau memberikanya dia harus memikirkan cara lain untuk mendapatkan Shaka karena anak itu adalah sumber kekayaan mereka.
Keira tidak melewatkan perhitungan kecil di mata wanita itu dan mencibir di dalam hatinya. Dia sudah banyak melihat berbagai sifat manusia di dunia ini contohnya seperti wanita yang mengaku orang tua Shaka. Orang seperti ini pasti memiliki tujuan buruk di hatinya.
"Tidak, saya tidak akan memberikan putra saya kepada kalian. Meski kalian terbukti orang tua kandungnya saya tidak akan memberikan putra saya!"tegas Keira, aura kuat menekan mereka berdua membuat kedua orang itu takut.
Maya menekan rasa takut di dalam hatinya akibat aura yang di keluarkan. Bagaimanapun caranya dia harus membawa anak ini.
"Itu putra saya apa hak mu melarang kami membawanya!"
"Ya Nona tolong jangan mempersulit kami, bagaimanapun Shaka putra kandung kami,"ucap Tommy tidak puas ketika mendengar wanita ini tidak mau memberikan putranya.
"Jika kalian orang tuanya kenapa membuangnya? Lalu sekarang kalian ingin membawanya. Apa niat kalian?" Keira memandang mereka dengan tajam seolah dapat melihat niat mereka.
Maya menoleh ke samping menghindari tatapan Keira seakan menembus pikiran dalamnya.
"Itu karena kami tidak menjaganya sehingga kami kehilangan Shaka dan kami tidak memiliki niat apapun padanya hanya ingin mengambil kembali anakku. Apa menurut Nona kami memiliki niat buruk sebagai orang tua kandungnya?"jelas Tommy tersenyum sinis.
"Jadi Nona bisakah kami bertemu Shaka dan membawanya kembali."
"Tidak!" Keira melipat kedua tangannya di dada dengan ekspresi tegas yang berarti ucapannya tidak bisa dibantah.
"Kamu! Kalau kamu tidak membiarkanku bertemu Shaka aku akan memanggil polisi karena telah menculik putarku!"ancam Maya ganas berharap wanita ini akan takut dan dengan patuh memberikan putranya.
Namun sayang tidak ada rasa takut sedikit pun di wajah Keira, hanya tampang sinis dan acuh seperti mendengar lelucon.
__ADS_1
"Silahkan, saya tidak takut. Kebetulan saya juga akan menuntut kalian tentang penganiayaan dan pembuangan anak,bagaimana?"ucap Keira tersenyum miring.
"Kamu!" Maya sangat marah saat mendengar perkataan wanita di hadapannya, jika Tommy tidak menahannya dia mungkin akan mencabik-cabik mulut wanita itu!
"Nona mohon jangan bicara sembarangan jika tidak ada bukti." Tommy menatap Keira dengan ekspresi suram, senyum di bibirnya tampak buruk.
"Sembarangan? Dengan kekuasan di tanganku bukti apa yang diinginkan, aku bisa mendapatkannya!" Setelah mengucapkan kalimat sombong seperti itu Keira langsung berdiri, tatapannya menyapu mereka berdua dengan dingin.
"Pengawal bawa mereka pergi jangan biarkan mereka masuk,"perintah Keira pada dua pengawal yang berdiri di pintu.
"Baik Nyonya." Dua pengawal itu segera mematuhi perintahnya dan menyeret mereka keluar.
"Tidak! Tunggu! Biarkan aku bertemu dengan putraku!"
"Nona biarkan kami membawa putra kami!"
Keira mengabaikan teriakan memohon kedua orang itu, dia tidak akan membiarkan kedua orang itu bertemu atau mengambil Shaka darinya!
°°°°°
Setelah selesai membersihkan tubuhnya Xavier melangkah menuju istrinya dengan jubah mandi yang terpasang di tubuhnya menutupi bagian-bagian penting yang tidak boleh diekspos.
"Bantu Mas mengeringkan rambut." Xavier menyerahkan handuknya pada Keira lalu duduk di lantai agar memudahkan Keira yang duduk di kasur.
Karena lantainya dipasang karpet lembut Xavier tidak perlu khawatir karena kedinginan ataupun kotor.
Keira dengan sadar dan teliti membantu mengeringkan rambut suaminya yang basah. Meski tidak ada percakapan diantara mereka namun susananya tampak harmonis, Xavier yang menikmati perawatan lembut istrinya dan Keira yang sabar merawat rambut pendek Xavier.
"Mas…."
"Hm?"
"Bisakah kamu menyuruh pengawal melindungi Shaka saat di sekolah?"tanya Keira sedikit ragu.
__ADS_1
"Kenapa? Bukannya keamanan Sekolah di sana sangat ketat."
"Aku tau, tapi aku ingin berjaga-jaga saja. Takut orang acak akan membawa Shaka pergi."
Xavier tau ada yang salah dengan nada Keira saat mengatakan kalimat terakhir, dia segera berbalik berhadapan langsung dengan istrinya. Xavier bisa melihat kekhawatiran dan kegelisahan di mata indahnya.
"Ada apa?" Xavier memegang dan mengusap kedua tangan Keira dengan lembut dan hangat.
Keira segera menceritakan semua kegelisahannya akibat kedatangan dua orang itu, dia takut mereka akan dengan nekat membawa Shaka saat dia lengah.
"Jadi bisakah Mas memerintahkan pengawal untuk menjaga Shaka?"
"Jangan khawatir, Mas akan menyuruh beberapa pengawal untuk menjaga putra kita."
Hatinya yang gundah dan risau langsung tenang setelah mendengar ucapan Xavier. Dia memeluk tubuh tegap Xavier dan menyembunyikan wajah kecilnya di leher suaminya.
Xavier tidak tahan dengan kelengketan Keira apalagi saat merasakan nafas hangat menyemprot leher sensitifnya.
Dengan wajah muram dia berkata rendah,
"Oke biarkan Mas memanjakan mu."
Xavier langsung mendorong tubuh Keira hingga terlentang di atas kasur empuk dan menindihnya, mengurung Keira di bawah tubuhnya.
"Mas?" Keira memandang pria tampan di atasnya dengan bingung, kenapa tiba-tiba jadi seperti ini. Bukankah mereka sedang membahas Shaka.
Melihat ekspresi bodohnya Xavier merasa cakar kecil menggaruk hatinya, membuat dia terasa gatal.
"Yah Mas merindukan mu, biarkan Mas menyenangkan mu malam ini."
Tanpa menunggu tanggapan Keira, Xavier langsung menyerang istrinya terlebih dahulu.
Malam itu seekor kelinci kecil bodoh yang tidak bisa melawan dimakan habis oleh serigala berekor besar.
__ADS_1