Istri Kecil Tuan Muda Xavier

Istri Kecil Tuan Muda Xavier
Bab 65


__ADS_3

"Hoek… hoek… hoek." Di kamar mandi Keira menunduk di wastafel memuntahkan semua isi di dalam perutnya, namun yang keluar hanya cairan. 


Xavier yang baru saja kembali dari luar kebetulan mendengar suara muntah dari kamar mandi. Takut sesuatu terjadi pada istrinya dia berlari ke kamar mandi dan melihat Keira sedang memuntahkan sesuatu di wastafel. 


"Sayang kenapa?" Xavier memijit tengkuk Keira, kekhawatiran di wajahnya tampak kentara. 


"Aku tidak tahu, perutku terasa mual." Keira bersandar di tubuh Xavier dengan lemah, wajah cantiknya terlihat sangat pucat. 


Xavier merasa sakit melihat keadaan Keira seperti ini, dia mengangkat tubuh kecilnya seperti koala dan berjalan keluar dari kamar mandi. 


Dia dengan hati-hati meletakkan Keira di kasur, menarik selimut untuknya dan duduk di pinggir kasur. 


"Pergi ke rumah sakit, ya." Xavier mengusap surai halus Keira, membujuknya dengan lembut seperti membujuk anak kecil. 


"Aku tidak hum." Keira buru-buru menutup mulutnya, turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi lagi. Memuntahkan isi di dalam perutnya, namun seperti tadi, tidak ada apa-apa yang keluar dari mulutnya. 


Keira menatap pantulan dirinya di cermin, wajahnya yang cantik terlihat pucat dan lesu. Menepuk pipinya pelan, dia menyalakan keran dan membasuh wajahnya dengan air. 


Dia tidak mengerti, bukankah kemarin masih baik-baik saja, tetapi kenapa sekarang seperti ini. 


Tanpa kekuatan di tubuhnya dia berjalan dengan lunglai, menjatuhkan tubuhnya di kasur empuk, menatap langit-tangit kamar dengan ekspresi kosong. 


Melihat kondisi Keira seperti itu Xavier merasa tertekan, dia berjalan ke arahnya dengan teh hangat di tangannya. Kemudian mengatur bantal agar keira merasa nyaman saat bersandar, lalu membantu Keira bangun dan memberinya teh hangat untuk diminum. 


"Sayang minum teh dulu."


Dia menuangkan minyak angin secukupnya ke telapak tangan dan membalurkan di perut lembut Keira secara merata. 


"Sudah merasa baikkan?" 


"Um." Keira mengangguk lemah, lalu menyerahkan gelasnya pada Xavier. Sekarang perutnya terasa lebih baik dibandingkan tadi. 


Keira bersandar sangat nyaman sambil menikmati perawatan Xavier. Tangannya yang besar terasa kasar saat menggosok perutnya, namun itu tidak mengganggunya karena dia merasa nyaman dan hangat. 


"Mas gak kerja?"


"Bagaimana Mas bisa kerja kalau keadaanmu seperti ini." 


"Aku sekarang udah baikkan Mas kerja aja gih." 


"Mas temenin kamu ya." Dia tidak tega kalau harus meninggalkan Keira dalam keadaan yang seperti ini. Lagi pula jika dia bekerja hari ini pikirannya tidak akan fokus dan akan selalu memikirkannya. 


"Lalu Shaka?" Keira masih khawatir tentang bocah itu, takut mereka akan membawanya saat dia lengah. 


"Tidak perlu khawatir Mas akan mengantarnya." Xavier menepuk kepala Keira pelan, menenangkan semua kekhawatirannya. 

__ADS_1


Semua kecemasannya langsung hilang saat mendengar ucapan Xavier. Dia merasa tubuhnya sangat lelah meski tidak melakukan apapun, dan dengan Xavier di sampingnya kelopak matanya terasa berat, tanpa bisa dicegah dia perlahan tertidur lelap. 


Di ruang kamar itu terdengar helaan nafas lembut wanita yang tertidur, diam-diam Xavier memandang Keira dengan hangat, tanpa membuat suara dia menyelimuti tubuh Keira dan sebelum pergi Xavier meninggalkan kecupan hangat di keningnya. 


Di dalam mobil Shaka duduk dengan tenang, tatapannya terfokus pada pemandangan di luar kaca mobil. Tanpa mengalihkan perhatiannya Shaka bertanya pada ayahnya, "Ayah bagaimana keadaan Ibu?"


Tepat ketika Shaka bertanya mereka sudah sampai di sekolah. Sebelum keluar Xavier perlahan menoleh menatap Shaka yang tampak lesu. Senyum kecil muncul di wajah tampannya, dia mengulurkan tangannya menepuk kepala kecil Shaka seperti menepuk hewan peliharaan. 


"Tidak perlu khawatir, Ibu baik-baik saja."


"Oh." Jelas perkataannya tidak membuat anak kecil itu tenang, tapi dia tidak mengatakan apa-apa lagi. 


"Ayo pergi ke kelas."


"Ya."


Xavier mengantar Shaka sampai gerbang, menunggu anak itu masuk ke dalam sampai tubuh kecilnya menghilang dari pandangannya, dia berbalik menuju mobil. 


Saat Xavier akan menjalankan mobil dering ponsel menghentikannya. Mengetahui panggilan itu dari asistennya dia sedikit ragu, tapi pada akhirnya dia tetap menjawab. 


"Bos."


"Ada apa?"


"Kapan Bos datang, semua orang sudah menunggu di ruang pertemuan."


"Bisa diundur besok?"


"Tidak bisa Bos, mereka sudah jauh-jauh dari luar negeri datang ke sini. Jika kita menundanya mungkin kerja sama perusahaan kita akan gagal."


"Oke 10 menit saya akan tiba di kantor." Dia tidak punya pilihan lain selain setuju setelah menutup panggilan, Xavier menelpon bi Eli menyuruhnya menjaga Keira dan jika ada apa-apa laporkan padanya. 


°°°°


Keira tidak tahu sudah berapa lama tertidur, melihat jam dinding sudah menunjukan pukul satu siang, Keira segera bangun dan membersihkan dirinya. 


Setelah selesai mandi dan berganti baju Keira turun ke bawah mencari sosok Xavier, namun nihil Keira tidak melihat sedikit pun batang hidung Xavier di rumah ini. 


"Bi di mana Xavier?"tanya Keira saat melihat bi Eli di ruang keluarga. 


"Tuan pergi ke perusahaan ada sesuatu yang mendesak."


"Oh." Keira mengangguk mengerti, dia duduk di sofa, menyalakan TV dan menonton film kesukaannya. 


"Bibi aku mau mangga muda."

__ADS_1


"Mangga muda?"tanya bi Eli sedikit terkejut. 


"Mmm, kenapa?"


"Oh bukan apa-apa, kalau begitu Bibi akan membelinya sebentar."


"Terima kasih Bi,"ucap Keira tersenyum sangat manis, membuat hati bi Eli meleleh.


Sambil menunggu bi Eli membeli buah Keira berselonjoran di sofa, menonton serial TV dengan keripik kentang di tangannya. 


Dia tidak perlu khawatir tentang cafenya karena ada Max yang mengawasinya, sesekali Keira juga akan datang untuk melihat keadaan cafenya. 


Tak butuh waktu lama bi Eli datang membawa mangga muda yang sudah dikupas dan disimpan di piring. 


"Nyonya mangga mudanya." 


"Wow terima kasih Bi." Keira segera mengambil buah mangga dan memakannya dengan nikmat seperti memakan buah manis. 


"Bibi mau?"


"Tidak! Tidak! Nyonya makan saja,"ucap bi Eli sedikit tergesa-gesa, tanpa memakannya juga dia merasa tubuhnya bergidik karena asam. Tapi melihat nyonya nya makan dengan sangat nikmat, dia merasa curiga. 


Karena bi Eli tidak mau Keira tidak memaksa dan kembali fokus dengan filmnya. Jadi dia tidak melihat tatapan curiga pihak lain terhadapnya. 


"Nyonya saya mau tanya, boleh?" Meskipun ini sangat lancang tapi dia membutuhkan kebenaran untuk tebakan di hatinya. 


"Silahkan."


"Apa Nyonya pernah merasa mual?"


"Mual? Iya tadi pagi aku merasa mual, tapi aku tidak memuntahkan sisa makanan apapun. Kenapa Bibi bisa tahu?"


Bi Eli tersenyum misterius, ternyata tebakannya benar tapi dia tidak memberitahukannya sebelum nyonya memeriksanya sendiri. 


"Karena saya juga pernah."


"Pernah? Apa semua orang juga pernah mengalaminya?"


"Mungkin."


"Lalu apa itu berbahaya? Apa aku harus pergi ke dokter?"


"Tidak berbahaya, Nyonya juga bisa memeriksanya di rumah."


"Hah, bagaimana?"

__ADS_1


"Dengan testpack." 


__ADS_2