Istri Kecil Tuan Muda Xavier

Istri Kecil Tuan Muda Xavier
Bab 42


__ADS_3

Keira terus berlari menuju parkiran sambil menggendong Shaka dibawah pengejaran beberapa pria kekar berjas hitam. 


"Ibu, kenapa pengawal itu mengejar kita? Apa mereka orang jahat?"tanya Shaka bingung, ketika melihat beberapa pengawal mengejar mereka di belakang. 


"Shaka pintar, mereka orang jahat, jadi gak usah dilihatin oke." Keira mendudukkan Shaka di kursi depan, lalu membantunya memakai sabuk pengaman dan menutup pintu. 


Ketika Keira menoleh ke belakang, tidak jauh darinya, Xavier memimpin beberapa pengawal berlari ke arahnya. Tidak ingin tertangkap, Keira bergegas masuk ke kursi kemudi dan menjalankan mobilnya. 


Melihat wanita itu akan pergi bersama putranya, Xavier menambahkan kecepatan larinya sehingga bisa sejajar dengan mobil Keira. 


"Keira! Berhenti oke, dengerin dulu penjelasan Mas!"teriak Xavier sambil memukul jendela kaca mobil dengan kencang. 


"Keira!"


"Ibu, Ayah masih ada di luar kenapa kita tidak berhenti?"tanya Shaka saat melihat Xavier mengetuk jendela di sisinya. 


"Karena kita sedang bermain permainan. Kalau kita tertangkap, Ayah yang akan menang, Shaka ingin Ayah menang?"


"Tidak, aku ingin kita yang akan menang,"ucap Shaka semangat. 


"Bagus." Keira membelai rambut Shaka, tatapannya yang dingin menatap pria di luar dengan cuek. Lalu dengan seringai di sudut mulutnya, dia menambahkan kecepatan lajunya, meninggalkan asap knalpot di belakangnya. 


"Sialan!"umpat Xavier marah saat melihat mobil itu menjauh. 


"Apa yang kalian lakukan! Kejar mobil itu!"bentak Xavier pada para pengawal. 


"Baik Bos."  Segera beberapa mobil hitam melesat keluar dari parkiran. 


"Bagus, bagus sekali Keira, beraninya kamu kabur membawa putraku." Memikirkan bagaimana wanita itu menendangnya dan kabur darinya, membuat Xavier menggertakan giginya penuh amarah. 


Sebuah mobil sport mewah berhenti di depannya, Xavier yang penuh dengan amarah segera masuk ke dalam. 


"Cepat jalan!"perintahnya dingin, iris matanya yang gelap penuh permusuhan. 


"Baik Bos." Tanpa basa-basi Felix segera menancapkan gasnya dengan kecepatan penuh, diikuti oleh mobil hitam lainnya. 


°°°


Di sisi lain, Keira melihat beberapa mobil mengikutinya di belakang, yang dipimpin oleh mobil sport mewah yang diyakini adalah Xavier. 


Tanpa raut panik sedikit pun di wajah cantiknya hanya ekspresi tenang dengan senyum sinis di bibirnya.


"Sayang, Ibu akan menambah kecepatan mobilnya, jika kamu takut pejamkan mata oke,"ucap Keira lembut

__ADS_1


"Aku tidak takut,"bantah Shaka cepat, matanya yang bulat penuh semangat tanpa rasa takut sedikit pun. Membuat Keira tersenyum bangga. 


"Bagus." 


Tanpa ragu Keira langsung menambahkan kecepatan mobilnya, melewati semua kendaraan yang menghalangi jalannya untuk mengecoh mobil yang mengikutinya. Karena ini jalan satu arah, Keira dengan lihai mendahului beberapa kendaraan di depannya. 


"Gila! Bos Istrimu jago di jalanan,"ucap Felix kagum, baru kali ini dia melihat seorang wanita sangat liar di jalanan. Jika wanita itu bukan istri bos mungkin dia akan mendekatinya.


Seolah tau apa yang dipikirkan pria di sampingnya, Xavier langsung menembak Felix dengan tatapan berbahaya. 


"Jangan pernah memikirkan Istriku! Cepat kejar dia, bukankah kamu pembalap profesional." 


"I-iya." Felix tidak percaya bosnya seperti cenayang. Tidak hanya itu, dia juga meremehkan kemampuan mengemudinya, membuat harga dirinya terluka. Tanpa ragu dia langsung menyalip semua kendaran dan berhasil berada di sisi mobil Keira. 


"Buka jendelanya!"


"Baik Bos."


Setelah kaca mobil dibuka, Xavier bisa melihat wajah bahagia Shaka yang terlihat konyol dan ekspresi acuh tak acuh istrinya. 


"Ayah!"teriak Shaka semangat ketika melihat Xavier di samping mobil mereka, lalu melambaikan tangannya ke arah Xavier. 


Melihat wajah konyol putranya, Xavier memijat pelipisnya pusing, apa anak ini tidak takut dibawa kebut oleh ibunya. 


"Gak mau, Ibu bilang kalau kita tertangkap, Ayah akan menang. Shaka gak mau Ayah menang!"


"Shaka!"


Keira langsung tertawa renyah ketika mendengar perkataan konyol putranya, dia tidak menyangka Shaka cukup pintar dan penurut. 


"Kenapa Ibu ketawa?"


"Gak papa,"ucap Keira sambil menepuk kepala Shaka. 


Melihat ibu dan anak itu mengabaikannya, membuat Xavier sangat marah dan frustasi. 


"Keira aku bilang berhenti!" 


Mendengar teriakan marah di sampingnya, Keira hanya menatap Xavier dingin dan cuek. Sebelum menutup jendelanya, Keira melambaikan tangannya seraya tersenyum sinis. 


"Bye."


Melihat persimpangan di dekatnya, Keira langsung membanting setir ke kiri, melaju dengan kecepatan tinggi dan menghilang dari pandangan mereka. 

__ADS_1


"Bos apa yang harus kita lakukan, kami kehilangan jejaknya,"ucap Felix cemas, ketika mobil itu menghilang dengan cepat. Seorang pembalap terkenal seperti dia, kalah oleh seorang wanita. Dia tidak bisa menerima ini! Mau taruh di mana mukanya kalau orang tau dia kalah dari seorang wanita. 


Xavier menghiraukan ocehan di sampingnya, punggungnya yang tegap bersandar di kursi, dengan aura membunuh yang kental dan tangan yang mengepal erat memperlihatkan pembuluh darah biru yang menonjol. 


"Bagaimana?"tanya Xavier pada seseorang di telepon. 


"Bos pelacaknya menghilang di tempat kami berhenti, kemungkinan Nyonya sudah tau pelacak yang  ditempatkan di mobilnya lalu menghancurkannya."


Mendengar penjelasan Kenzo, Xavier memijat pelipisnya yang pusing. Matanya yang gelap menyembunyikan sifat kekerasan di dalamnya. 


"Cari lokasinya sampai dapat!" 


"B-baik Bos."


"Ayo kembali."


••••


Selain itu, di sebuah apartemen mewah. 


Shaka berlarian dengan kaki telanjangnya menyusuri semua tempat di apartemen mewah ibunya dengan rasa ingin tahu. Kata ibu, ini adalah tempat tinggal kita untuk sementara, bersembunyi dari ayahnya. 


"Ibu, aku tidur di kamar mana?"tanya Shaka masuk ke dapur dan melihat Keira tengah memasak. 


"Terserah Shaka mau tidur di mana,"ucap Keira lembut sambil mengelus rambut pendeknya. 


"Emm… bisakah Shaka tidur bersama Ibu?"tanya Shaka hati-hati. 


"Tentu saja."


"Terima kasih, Bu!" Shaka langsung memeluk paha Keira dengan senyum bahagia. 


Melihat wajah polos putranya yang tidak tau apa-apa, Keira merasa bersalah. Dia seharusnya tidak melibatkan anak ini dalam permasalahan orang dewasa. Dan membawanya kabur ke rumahnya, menjauhkannya dari ayahnya sendiri. 


"Shaka mau kembali ke rumah Ayah?" Keira berjongkok di depan putranya sambil menatap mata polosnya.


Bagaimanapun dia tidak bisa egois untuk kepentingannya sendiri. Meskipun dia enggan untuk bertemu dengan pria itu, tapi demi putranya Keira akan mencoba memaafkan kebohongan Xavier. 


"Gak mau,"tolak Shaka tegas lalu memeluk leher Keira. 


"Kenapa?"tanya Keira lembut sambil menggendong putranya lalu duduk di kursi. 


"Karena Ayah… jahat sama Ibu."

__ADS_1


"Hah?"


__ADS_2