
Setelah makan siang selesai dan minum obat, kini Keira berbaring di tempat tidur untuk istirahat. Sebenarnya dia ingin pergi ke halaman belakang untuk jalan-jalan menghirup udara segar, terlalu sumpek berada di kamar terus.
Tapi Xavier sangat melarangnya, dengan alasan dia masih sakit harus banyak-banyak istirahat dan tidak boleh ke mana-mana.
"Huh…." Menghela nafas bosan, Keira menatap langit-langit di kamarnya dengan pikiran yang kacau. Memikirkan perkataan Xavier.
Ternyata alasan anak itu, Lucas autis bukan karena Bawaan sejak lahir. Tapi, karena trauma yang mendalam yang dialaminya sejak kecil. Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana anak sekecil itu, yang baru saja berumur 2 tahun harus menerima kekerasan dari ibu kandungnya sendiri.
Apalagi harus melihat bagaimana ayahnya sendiri membunuh ibunya di depan mata kepalanya.
"Hah…." Keira tidak menyangka masa lalu mereka akan setragis ini.
Tapi untungnya sekarang Lucas baik-baik saja, katanya alasan dulu mereka pergi ke luar negeri adalah untuk membawa Lucas berobat ke psikiater terkenal, yang dibantu oleh xavier.
Karena trauma yang dialaminya, membuat Lucas sangat takut terhadap orang asing dan juga ayah kandungnya sendiri. Tapi jika dilihat sekarang Lucas sudah tidak takut lagi terhadap ayah kandungnya sendiri.
Tapi, kenapa Keenan tidak dipenjara setelah dia membunuh istrinya sendiri? Alasannya adalah karena pada saat itu Xavier datang membantunya menghilangkan jejaknya. Dan seolah-olah pembunuhan itu, terjadi karena ada perampok yang masuk ke rumah mereka. Dan pada saat itu kondisi rumah juga sangat berantakan seolah-olah mendukung alasan kuat mereka.
Aku sangat kasian pada anak itu. Anak sekecil itu harus mengalami luka yang sangat mendalam dan membekas di hatinya dan juga ingatannya. Batinnya merasa sedih.
"Ah… kepalaku pusing, sebaiknya aku tidur dulu aja." Kepalanya terasa berdenyut sakit, mungkin karena terlalu banyak pikiran. Aku harus segera istirahat.
......................
Selain itu, di sebuah bangsal rumah sakit VVIP yang dijaga oleh beberapa pria berbadan besar, seorang gadis cantik tengah terbaring lemah di tempat tidur, dengan beberapa pasang alat yang menempel di tubuhnya.
Wajahnya yang cantik terdapat selang oksigen yang menutupi mulut dan hidungnya. Matanya yang indah saat ini terpejam, seolah dia tidak akan bangun dari mimpinya yang panjang.
"Sayang, kapan kamu bangun. Ayah merindukanmu nak, ayo buka matamu lihat Ayah. Apa kamu tidak merindukan Ayah, hm." Baron menggenggam tangan mungil anaknya, wajahnya yang sangar terlihat kuyu dan putus asa saat melihat penampilan putrinya.
Setelah kecelakaan itu, anaknya mengalami koma selama dua bulan dan tidak pernah bangun sampai sekarang. Membuat Baron sangat frustasi dan putus asa, dia adalah putri kesayangannya yang dia manja dan jaga di telapak tangannya sendiri seolah takut dia terluka. Tapi apa, putri yang dia jaga sekarang terbaring koma di hadapannya.
Henry yang melihat tuannya sedih juga ikut sedih. Tapi mau bagaimana lagi, sekarang nasi sudah menjadi bubur. Karena cinta, orang bisa berbuat apa saja untuk mendapatkannya.
"Tuan, ayo istirahat dulu dari kemarin Tuan belum istirahat,"ajak Henry saat melihat wajah lelah tuannya.
Mendengar ajakan dari Henry, Baron menggelengkan kepalanya lesu.
" Tidak, aku akan menjaga putriku di sini. Kamu pergilah istirahat jika kamu lelah, jangan pedulikan aku."
Bagaimana bisa dia beristirahat sendiri, jika tuannya saja tidak istirahat. Dia tidak tega meninggalkan tuannya sendirian di sini.
Menghela nafas kasar, Henry membuka mulutnya lalu berkata.
__ADS_1
"Jika Nona Clara bangun dan melihat tuan dalam keadaan seperti ini, Nona Clara akan merasa sedih. Tuan tidak inginkan melihat Nona Clara sedih."
Mendengar bujukan Henry, Baron merasa ada benarnya.
"Ya kamu benar, bagaimana bisa aku memperlihatkan keadaan menyedihkanku pada putri kecilku."
Melihat tuannya mudah dibujuk, Henry menghela nafas lega.
Akhirnya kita istirahat.
"Sayang, Ayah pamit dulu. Jangan khawatir nanti Ayah akan ke sini lagi menemanimu." Baron mencium kening putrinya sejenak.
Setelah itu, dia akan melepaskan pegangan tangannya. Namun, pada saat ingin melepaskannya, sesuatu yang mengejutkan terjadi, tubuhnya membeku saat melihat jari mungil putrinya menggenggam tangannya.
Dia tidak menyangka pada saat ini harapan yang selalu dia inginkan selama ini terjadi. Tubuhnya bergetar tak terkendali, dia kemudian mengalihkan pandangannya dan melihat wajah putrinya. Matanya yang selama ini menutup kini bergerak seolah akan membukanya.
"Sa-sayang…," Panggil Baron suaranya sangat gemetar dan gugup.
Melihat tubuh tuannya yang gemetar hebat, Henry mengangkat alisnya bingung. Saat ini dia berada di belakang pintu ingin membukakan pintu untuk tuannya, tapi dia melihat tuannya masih terpaku di tempatnya.
"Tuan? "
"Henry cepat panggilkan dokter! putriku dia sudah bangun! " Teriak Baron semangat.
"Dokter! "
......................
Saat ini suasana di ruang makan sangat sunyi dan senyap, tidak ada yang berani memulai percakapan di meja makan. Karena aura yang dikeluarkan Xavier membuat mereka takut.
Aku ingin Ibu di sini, Ayah terlihat sangat menakutkan. Gumam Shaka sedih sembari mengaduk-aduk makannya.
"Shaka apa yang kamu lakukan, makan makanannya!" tegur Xavier saat melihat putranya tidak memakan makanannya.
Terlonjak kaget saat mendengar teguran ayahnya Shaka buru-buru memakan makanannya, takut dengan tatapan tajam ayahnya yang mengarah padanya.
Aku ingin ibu. Bisiknya sedih sambil menyuapkan makanannya dengan getir.
Melihat suasana makan malam yang tenang dan sepi dan tidak seperti biasanya, yang akan ramai dengan celetukan Shaka dan Keira. Menghembuskan nafas tak berdaya, dia tidak tahu kenapa mereka sangat takut padanya.
Hatinya sangat terluka oleh perilaku mereka, dia butuh pelukan dari istri kecilnya.
"Aku sudah selesai makan, kalian habiskan makanannya,"ucap Xavier tiba-tiba.
__ADS_1
Mendengar perkataan Xavier yang sangat tiba-tiba, membuat mereka mengangkat kepalanya dan melihat ke arahnya.
Menghiraukan tatapan mereka, Xavier mengusap mulutnya dengan tisu.
"Oh ya, saya sudah menyuruh Bi Eli membersihkan kamar kosong di sebelah kamar William. Kamu bisa tinggal di sana,"ujarnya pada Asher.
"Ah… te-terima kasih Kakak ipar, maaf merepotkanmu." Asher akan menginap untuk sementara di sini, karena dia diusir oleh ayahnya.
"Hm, anggap saja seperti rumahmu." Selepas mengucapkan itu Xavier mendorong kursi rodanya menuju lift.
**
Keira merasa tubuhnya terperangkap oleh sesuatu yang mengurungnya, dia tidak bisa menggerakkan seluruh badannya. Karena kesal, dia perlahan membuka matanya dan terkejut saat disuguhi pemandangan yang sangat indah. Dada bidang yang kuat dan kekar ada dihadapannya.
Melihat ke atas, Keira melihat wajah suaminya yang sudar tertidur pulas. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dia langsung beraksi.
I-ini terlalu vulgar. Keira tidak bisa membiarkan pemandangan indah ini dianggurkan.
Dengan wajah yang memerah, perlahan tanganya menyentuh dada putih kekar itu dan meraba-rabanyameraba-rabanya seperti orang mesum.
Aku tidak menyangka dadanya akan sangat keras dan kuat seperti ini.
Seolah tidak puas perlahan tangannya turun ke bawah, namun sebelum tangannya menyentuh perut suaminya dia sudah di cegah oleh tangan kuat dan kasar seseorang.
"Belum puas, hm?" tanya Xavier suaranya sangat rendah dan serak.
Mendengar suaranya yang tiba-tiba, Keira tersentak kaget tubuhnya lansung membeku, dia tidak menyangka akan terciduk seperti ini.
"A-apa maksudmu aku tidak puas," elak Keira dia ingin mengambil tangannya dari genggaman Xavier, namun apa daya tenaganya jelas berbeda dengan tenaga Xavier.
"Lalu apa yang dilakukan tangan kecil nakalmu, hm." Xavier menatap wajah menawan istrinya yang sedang memerah karena malu.
"Apa! aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya ingin membenarkan kancing bajumu yang terbuka saja. " Keira tidak akan mengakuinya, kalau dia sangat terpesona oleh dada bidang suaminya.
"Benarkah." Memicingkan matanya berbahaya, perlahan Xavier mendekatkan wajahnya.
Melihat wajah Xavier yang mendekat, Keira langsung mundur tapi tangan Xavier mencegah kepalanya.
"A-apa yang ingin kamu lakukan, " ujarnya gugup.
"Apa lagi." suaranya sangat rendah dan seksi terdengar menggoda.
Mata gelapnya yang tajam bersinar dengan cahaya aneh, saat menatap bibir mungil Keira yang terlihat sangat menggoda.
__ADS_1
"Tentu saja menghukum istriku." Tanpa menunggu reaksi Keira, Xavier langsung menyambar bibir istrinya.