
Esok harinya.
"Hah…." Keira merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk, matanya menyipit penuh kegembiraan pagi-pagi sekali dia sudah merecoki Xavier untuk segera pulang ke rumah, dia tidak tahan harus tinggal terus di rumah sakit, sangat membosankan.
"Sangat senang?" Netranya menatap Keira hangat, Xavier berjongkok di depan kaki Keira yang menjuntai ke bawah, membantu melepas sepatu istrinya dan menggantinya dengan sepasang sandal merah muda yang lembut dan nyaman dipakai.
"Mm."
"Mas akan minta Bi Eli bawa sarapannya ke sini."
"Oke."
Sebelum pergi ke dapur Xavier terlebih dahulu menaruh sepatu kets Keira di rak yang seharusnya.
Tidak butuh waktu lama bi Eli datang membawa makanan, namun Keira tidak melihat Xavier yang seharusnya mengikuti di belakang.
"Bi, Xavier ada di mana?"
Bi Eli menaruh sarapannya di atas meja dan berkata, " Tuan sedang menemui tamu Nyonya."
"Tamu? Siapa yang bertamu?"
"Nyonya Bella bersama Tuan Besar,"jawab bi Eli sopan.
"Ada urusan apa mereka di sini?"tanya Keira sedikit penasaran, setaunya mereka tidak pernah datang ke sini meski hanya sekedar melihat atau menjenguk putranya. Kalaupun ada sesuatu pasti kedua orang tua itu akan memanggil mereka. Tapi sekarang, orang tua itu sendiri yang ada di sini, pasti ada sesuatu yang membuat mereka terburu-buru ke sini.
"Kalau itu saya tidak tahu Nyonya."
"Hm… aku akan memeriksanya sendiri." Tepat saat Keira hendak berjalan keluar bi Eli langsung memblokir langkahnya menuju pintu.
"Bi?"
"Maaf Nyonya, Tuan bilang Nyonya harus makan sarapannya sampai habis jika tidak Tuan akan melarang Nyonya pergi ke luar."
Keira mendengus kesal saat mendengar perkataan bi Eli, dengan enggan berbalik berjalan menuju sofa dan memakan sarapannya dengan wajah cemberut di bawah pengawasan bi Eli.
Di ruang tamu Xavier duduk di single sofa dengan anggun, memandang dua orang tamu tak diundang dengan tatapan dingin dan acuh tak acuh.
Nyonya Bella menatap pria itu dengan penuh kebencian, bagaimana bisa dia mentolerir pria ini yang duduk santai di rumah sedangkan putranya harus duduk dan tinggal di balik jeruji besi untuk selamanya
__ADS_1
"Apa kamu masih manusia! Dia adikmu! bagaimana bisa kamu menjebloskannya ke penjara, apa salah putraku! Dia rela keluar dari perusahaan hanya karena tidak ingin kamu menganggapnya sebagai pesaing untuk memperebutkan posisimu! Tapi apa balasanmu, hah! Kamu dengan kejam memasukkannya ke penjara!"
Bella menutup wajahnya yang penuh air mata, menangis dengan sedih membuat James merasa sakit di hatinya. Dan dengan wajah yang penuh amarah James mengetuk kruknya ke lantai, menunjuk Xavier dengan tangan gemetar.
"Apa yang masih kamu tunggu cepat biarkan Alaric keluar dari penjara, jika tidak percaya atau tidak aku akan mengambil perusahan itu dari tanganmu,"ancam James dengan kejam.
"Silahkan, kalau kamu bisa,"cibir Xavier dengan nada remeh.
"Ka-kamu!"
"Ayah jangan terlalu emosional, bagaimanapun kamu sudah tua tidak baik bagi jantungmu." Xavier menatap pria paruh baya itu dengan cuek, tidak ada rasa kasih sayang sedikit pun di dalam mata hitamnya hanya ada rasa keterasingan seperti melihat orang yang tidak penting.
James memegang dadanya yang terasa sakit, dia tidak bisa membantah perkataan Xavier, wajahnya terlihat sangat pucat.
"Mas!" Bella buru-buru mengeluarkan obat di dalam tasnya dan menuangkannya di telapak tangan James sambil menyodorkan air minumnya.
Setelah meminum obat rasa sakit di dadanya menghilang perlahan, James menyandarkan punggungnya di sofa sambil menarik nafas panjang.
"Lihat apa yang kamu lakukan, dia ayahmu apa kamu begitu acuh tak acuh melihat keadaan ayahmu seperti ini."
"Kalau iya kenapa?"
Bella hampir tersedak oleh perkataan Xavier, ini benar-benar seperti yang dikatakan rumor terhadap pria ini, pria dingin dan kejam tanpa belas kasihan.
Entah kenapa saat melihat senyum pria itu Bella merasakan firasat buruk akan datang padanya.
"Tapi apa?!"tanyanya tidak sabar.
"Dia terbukti melakukan pencucian uang, penggelapan uang perusahaan dan penculikan orang yang hampir menghilangkan nyawa." Ketika mengatakan ini wajahnya menjadi suram mengingat bagaimana Keira hampir kehilangan nyawanya.
"Mustahil! Tidak mungkin putraku melakukan kejahatan itu semua, itu pasti ulahmu yang menjebak putraku!"tuduh Bella tidak masuk akal.
"Jika menurutmu begitu, kamu bisa ajukan banding di pengadilan nanti dan lihat siapa yang menang." Setelah itu Xavier berbalik dan berjalan menuju lift.
Bella menjatuhkan tubuhnya yang lesu di sofa, wajahnya yang selalu dirawat dengan baik tampak pucat dan tua dengan kecepatan yang terlihat.
"Apa yang harus kita lakukan Mas, putraku dia… dia dipenjara oleh bajingan itu." Bella menutupi wajahnya yang sedih, meski mereka menyewa pengacara yang hebat, jika Xavier memiliki bukti kejahatan anaknya mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Mendengar keluhan istrinya James tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya, dia tidak punya kekuatan dan kekuasaan untuk melawan putranya yang pemberontak.
Semuanya sudah diberikan pada putranya ini, yang tersisa hanya rumah mewah yang dia tinggali bersama istrinya.
__ADS_1
Xavier tidak lagi peduli dengan kedua orang itu, sejak ayah membuang mereka hubungan ayah dan anak itu sudah lama retak dan tidak bisa diperbaiki.
Saat pintu lift terbuka perhatiannya tidak sengaja jatuh pada tubuh kecil yang berjongkok di lantai, melihat ke bawah dari celah pagar pembatas. Dia tidak perlu menebak apa yang dilakukan gadis kecil ini.
Xavier mengusap dahinya tak berdaya lalu berjalan ke arahnya.
"Sudah puas nontonnya, hm?"
Mendengar suara rendah di atas kepalanya Keira dengan kaku mendongak ke atas lalu memberi senyum manis pada pria dingin itu.
"Sejak kap-" Sebelum ucapannya selesai tiba-tiba tubuhnya terasa ringan, Keira secara reflek melingkarkan tangannya di leher Xavier.
Dengan lengan kuat Xavier mengangkat tubuh Keira yang terasa enteng, kakinya yang panjang dan kuat melangkah dengan mantap menuju kamar.
"Kenapa kamu tidak patuh, hm?"ucap Xavier dengan nada rendah lalu merendahkan kepalanya dan mematuk bibir Keira sekilas.
"Bukannya Bibi memberitahumu untuk makan sarapannya sampai habis?"
"Aku memakannya kok,"balas Keira cepat.
"Benarkah?"
Keira memutar bola matanya malas dan berkata cuek, " Kalau Mas tidak percaya periksa aja sendiri."
Xavier menurunkan Keira di kasur dengan hati-hati dan dengan senyum hangat dia mengusap rambut Keira penuh kasih sayang.
"Yah Mas percaya,"ucapnya dengan nada memanjakan.
"Kedua orang itu bagaimana nasibnya?"tanya Keira penasaran, setelah mendengar perbincangan mereka.
Dan dia yakin nasib kedua penculik itu tidak akan jauh lebih baik.
"Jangan khawatir Mas akan mengurus semuanya." Xavier menepuk kepala Keira lembut.
"Terima kasih,"ucap Keira lembut dibarengi senyum manis yang menghiasi wajah cantiknya.
Dia perlahan berdiri di atas kasur dan memandang Xavier dengan saksama, ketergantungan di mata indahnya tidak bisa disembunyikan.
"Ada apa?"tanya Xavier bingung mengangkat sebelah alisnya.
Keira tidak berbicara, dia mengalunkan lengannya di leher Xavier dan dengan wajah memerah kepala kecilnya mendekat lalu mencium bibir Xavier.
__ADS_1
Keterkejutan melintas di mata gelapnya ketika melihat inisiatif istrinya, dan sebelum Keira menjauhkan kepalanya Xavier menekan tengkuk Keira lalu memperdalam ciuman mereka.