
"Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh kondisi Nona Keira sudah membaik dan Nona bisa pulang besok."
"Juga untuk berjaga-jaga tolong pola makannya dijaga sebelum benar-benar pulih dan jangan lakukan beberapa kegiatan atau olahraga yang berat."
"Baik, terima kasih Dokter." Keira dengan patuh mendengarkan nasihat dari Dr. Keenan disertai anggukan yang serius.
Melihat pasiennya sangat mendengarkannya Keenan mengangguk puas. Sangat jarang melihat pasien yang patuh dan dengan serius mendengar nasihat dokter seperti dia.
"Kalau begitu saya pergi dulu, jika kamu butuh sesuatu tekan saja bel nanti akan ada perawat yang datang ke sini."
"Terima kasih,"ucap Keira tersenyum sopan.
Tapi sebelum pergi Keenan merogoh saku jasnya, dan memberikan sebuah gantungan bintang berwarna pink yang tampak lucu pada Keira.
Keira menatap gantungan di tangannya dengan ekspresi rumit dan bingung, apa maksudnya ini.
Melihat tatapan rumit Keira, Keenan berdehem canggung lalu berkata, " Jangan salah paham gantungan ini bukan dari saya, ini diberikan Lucas untukmu. Dia berharap kamu cepat sembuh."
"Ah… seperti itu, kalau begitu tolong sampaikan padanya ucapan terima kasihku dan bilang aku sangat menyukai hadiahnya."
"Mm."
Kini hanya tersisa Keira saja sendiri di bangsal itu, Xavier yang menemaninya tadi tengah keluar untuk urusan yang sangat mendesak.
"Hah… bosannya." Keira mengambil ponsel yang menganggur di atas meja lalu mengaktifkan mode daya. Sudah lama dia tidak melihat ponselnya setelah bangun dari koma.
Keira akan menanyakan kabar perkembangan kafenya pada salah satu karyawan saat dia koma.
Setelah menunggu beberapa saat ponsel itu nyala, banyak notifikasi panggilan tak terjawab dari beberapa orang yang dikenalnya.
Keira membaca 4 pesan yang belum dibaca dari bawahannya yang mengabarkan kondisi kafenya saat ini.
[**Rani**.]
[Bos.]
[Kapan bos datang?]
[Sekarang kafe kita sangat populer dikalangan anak muda! Dan karena ini omset kafe kita makin meningkat!]
__ADS_1
[Dan kami berlima sangat kewalahan dengan pelanggan yang semakin banyak.]
^^^[Keira] ^^^
^^^[Besok saya akan datang ke kafe.] ^^^
^^^[Jangan khawatir saya akan merekrut anggota baru untuk membantu kalian.] ^^^
Tidak butuh waktu lama balasan cepat datang dari lawan.
[Rani.]
[????]
[Bos?]
[Akhirnya Bos menjawab pesanku setelah seminggu lebih!]
[Bos ke mana aja kenapa baru bales pesanku sekarang.]
Saat Keira membalas pesan dari Rani terdengar suara pintu terbuka dari luar. Tanpa melihat ke atas dia sudah menebak itu pasti Xavier yang telah kembali dari luar.
Tetapi setelah waktu yang lama tidak terdengar suara langkah kaki yang mendekat ataupun sapaan. Keira dengan curiga mengangkat kepalanya dan menatap orang di depannya dengan mata membelalak penuh kejutan.
Orang itu berjalan sambil tersenyum lalu memberikan bunga di tangannya pada gadis yang masih terkejut itu. Max menepuk kepala Keira lembut sebelum duduk di kursi.
"Bagaimana kabarmu?"ucap Max dengan bahasa indonesia yang sedikit fasih.
Dalam satu minggu ini dia bekerja keras untuk belajar bahasa Indonesia dibantu oleh Asher. Meskipun sedikit susah tapi dengan ketekunan dan kesabaran, sedikit-sedikit dia bisa berbahasa indonesia.
"Sudah mendingan, tapi kenapa Kakak datang lebih awal bukannya 1 bulan lagi,"tanya Keira pada pria tampan di hadapannya.
Max adalah pria yang selalu membantunya ketika dia dalam masalah saat berada di luar negeri. Dia juga yang mengajari semua keterampilan yang dia miliki, jika bukan karena Max mungkin dia tetap menjadi wanita lemah yang mudah diintimidasi. Dan Max juga sudah seperti keluarga baginya.
"Memang itu rencananya, tapi mendengar kamu kecelakaan Kakak langsung terbang ke sini."
"Kenapa Kakak bisa tau aku kecelakaan?"tanya Keira heran, tahu dari mana pria ini berita dia kecelakaan. Asher tidak mungkin memberitahunya karena dia tidak memiliki kontak nomornya. Kecuali pria ini mengirim orang untuk memata-matainya.
"Kakak nyuruh orang mata-matai aku ya,"tuduh Keira memicingkan matanya penuh curiga.
__ADS_1
Walau Keira sudah tahu akan jawabannya tapi dia ingin mendengar pengakuannya secara langsung dan benar saja dugaannya.
"Iya." Tidak ada rasa bersalah sedikitpun di wajah tampannya, Max bahkan tersenyum polos saat mendengar tuduhan Keira yang memang benar adanya.
"Huh, jadi kapan Kakak balik lagi ke Italia?"
"Tidak tau, mungkin sedikit lebih lama,"ucap Max setelah berpikir cukup lama. Lagian dia masih betah di sini dan merindukan gadis kecil ini sekalian liburan merefreshkan pikirannya.
Max tidak tahu apa yang dipikirkan Keira setelah mendengar dia akan tinggal lama, melalui wajah polosnya yang tidak berbahaya bagi manusia dan hewan, cahaya licik melintas di mata indah Keira.
"Kalau gitu Kakak kerja di kafe ku jadi manajer, soal gaji Kakak gak perlu khawatir aku akan menggaji Kakak sesuai prosedur."
"Apa-apaan ak-"
Keira mecubit mulut Max yang akan terus nyerocos dan berakhir menolaknya.
"Sssttt… Kakak gak usah nolak, aku tau kakak pasti butuh uang untuk biaya hidup di sini."
Max membuang tangan Keira di mulutnya dengan kesal dan marah. Gadis kecil ini selalu seperti ini, sifatnya tidak pernah berubah suka seenaknya.
"Sia-"
"Ya Kakak kan baik hati dan tidak sombong suka membantu orang. Ya, ya, ya, ya." Matanya mengerjap binar serta kedua tangannya saling menempel dan memohon dengan sedikit menyedihkan.
Jika sudah begini Max tidak bisa berkata apa-apa lagi, serangan menyedihkan ini membuat hatinya luluh, dia tidak bisa menolak keinginannya. Dan mau tidak mau dia menyetujuinya
"Oke." Dengan senyum hangat Max mengusap surai lembut Keira penuh perhatiaan.
Secara kebetulan tindakan yang dilakukan Max dilihat oleh Xavier yang baru saja kembali. Hatinya langsung panas melihat pria asing menyentuh istrinya, kakinya yang panjang mulai melangkah dengan cepat dan membuang tangan bajingan yang berani menyentuh kepala Keira.
"Siapa kamu!" Xavier membawa Keira kepelukannya, dan tanpa malu-malu mencium pipi Keira mesra di depan pria asing itu seolah menyatakan kepemilikannya.
"Mas!"protes Keira wajahnya memerah malu tidak terima dengan perilaku Xavier yang mencium seenak jidatnya, apalagi dihadapan kakaknya, mau ditaruh di mana wajahnya.
Xavier tidak menghiraukan protesan Keira, mata hitamnya yang seperti tinta menatap Max dengan tajam bagai pisau.
Sedangkan orang yang bersangkutan dengan santai bersandara di kursi dengan kaki erlang seakan tidak takut dengan tatapan tajam yang dilayangkan ke arahnya. Jari-jarinya yang ramping mengetuk kursi beberapa kali sebelum berdiri berhadapan dengan Xavier.
Atmosfer yang dikeluarkan kedua pria tampan itu membuat ruangan itu seperti berada di Kutub Utara terasa sangat dingin.
__ADS_1
Dengan tampang ceroboh Max mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Xavier.
"Saya Max kakak Keira."