
"Kamu bertengkar lagi dengan istrimu?" tanya nyonya bella sambil mengernyitkan dahinya saat melihat putranya yang baru saja turun dari lantai atas dengan wajah muram.
Mendengar pertanyaan dari ibunya Alaric hanya mengangguk sebagai respon, dia terlalu malas untuk menjelaskan padanya.
Berjalan menuju ruang keluarga, Alaric kemudian mendudukkan dirinya di sofa lalu mengambil remot dan mengganti saluran TV menjadi berita keuangan.
"Bisakah kamu kontrol emosimu, bagaimana jika keluarganya tidak membantumu untuk mengambil alih posisi presdir." omel nyonya Bella sangat geram melihat tingkah putranya yang selalu bodo amat terhadap hal yang sangat menguntungkan.
"Meski Xavier dibuang oleh ayahnya tapi dia masih tetap diposisinya sebagai presdir di perusahaannya sendiri. Dan dengan bantuan orang tua Karina kamu bisa menyingkirkannya dan menggantikan jabatan dia sebagai presdir. Meski ayah menempatkanmu di posisi sebagai direktur, namun itu tidak cukup untuk menguasai semua harta dan kekuasaan yang di miliknya."
"Percuma ibu, sejak awal keluarganya tidak menyukaiku karena aku anak haram, meskipun aku juga anak ayah namun semua orang juga tau kalau aku ini anak haram yang dibawa pulang. Semua orang berpikir, percuma bekerja sama dengan anak yang tidak akan mewarisi perusahaan keluarganya, karena ada Xavier pewaris sah sebenarnya."
"Lalu apa yang harus kita lakukan untuk bisa menggantikan posisinya." ucap nyonya bella dengan nada kesal.
"Jangan khawatir bu, aku sudah punya rencana untuk merebut posisi presdir itu menjadi milikku. Tenang saja." ucap Alaric dengan senyum licik di sudut mulutnya.
"Benarkah nak, apa rencananya ibu pasti akan membantumu."
"Tidak perlu, ibu duduk saja di rumah bersantai atau shoping aku yang akan mengurus semua ini sendiri."
"Bu aku harus pergi dulu, sampai jumpa lagi."
Setelah mengatakan itu Alaric kemudian berdiri dari duduknya lalu berjalan keluar rumah.
"Kalau begitu hati-hati."
Baru setengah jalan, tiba-tiba Alaric memikirkan sesuatu menghentikan langkahnya dia kemudian berbalik dan menghadap ibunya.
"Ada apa?" tanya nyonya Bella heran saat melihat putranya yang berhenti di tengah jalan.
"Bu tolong panggilkan dokter untuk mengobati luka wanita itu."
Mendengar perkataan dari anaknya nyonya Bella hanya menjawab asal-asalan.
"Ya ya tenang saja ibu yang akan mengurus semua ini, kamu pergi saja jangan khawatir."
"Ok." Setelah itu Alaric melanjutkan perjalannya yang terhenti.
Melihat punggung putranya yang menjauh, senyum lembut diwajahnya luntur dan digantikan dengan ekspresi datar.
"Mila!" panggil nyonya Bella sambil berteriak.
"Ya nyonya." jawab Mila dari arah dapur sambil berlari ke ruang keluarga.
__ADS_1
"Ya nyonya ada yang bisa saya bantu?"
"Panggil dokter untuk mengobati wanita itu." jawabnya ketus, lalu meninggalkan Mila sendiri.
"Baik nyonya."
......................
Di sisi lain Keira dan semua orang sudah sampai di rumah, perjalanan dari rumah tuan James dan rumah mereka hanya memakan waktu 30 menit.
"Ah…akhirnya kita bisa pulang ke rumah." ucap William bernafas lega, setelah keluar dari mobil.
"Kamu sesenang itu bisa pulang?" tanya Keira tak berdaya melihat tingkah William seolah-olah mereka habis keluar dari penjara.
"Tentu saja, karena aku tidak suka di rumah itu."
"Shaka juga tidak suka." timpal Shaka ikut menimbrung pembicaraan antara ibu dan pamannya.
"Kenapa Shaka tidak suka?" tanya Keira penasaran.
"Em…karena mereka jahat." ucapnya polos sambil memiringkan kepalanya, terlihat sangat lucu membuat siapa saja yang melihatnya sangat gemas.
Melihat wajah lucu putranya membuat Keira tak tahan, dia kemudian menggendong anaknya dan mencium pipi gembulnnya bertubi-tubi.
"Kenapa kamu sangat lucu sih."
William yang melihat interaksi ibu dan anak itu hanya mendengus cemburu.
"Huh…sudah besar masih dicium-cium."cibirnya ketus.
Keira dan Shaka yang mendengar ejekan William, saling memandang dengan tatapan penuh arti.
" Kenapa paman aku akan masih kecil jadi wajar kalau aku dicium oleh ibu, apa jangan-jangan…" ucap Shaka menjeda kalimatnya.
"Jangan-jangan apa?"
"Jangan-jangan paman cemburu ya."lanjut Shaka dengan ekspresi konyol.
" Si-siapa yang cemburu." ucapnya gugup memalingkan wajahnya yang tersipu ke samping, tidak ingin dilihat oleh mereka.
"Lihat sayang wajahnya merah." goda Keira.
"Wah iya wajah paman merah."
__ADS_1
"Kalian!"
"Kabur."
Keira membawa anaknya lari ke rumah diikuti William yang mengejar mereka. Xavier yang sedari tadi hanya memerhatikan mereka hanya tersenyum tak berdaya, terutama saat melihat istri kecilnya yang sangat akrab dengan anaknya dan saudaranya.
David yang melihat senyum tuannya juga ikut tersenyum bahagia, baru kali ini dia melihat tuan yang selalu datar dan tanpa ekspresi bisa menampilkan sisi lembutnya setelah menikah dengan nyonya Keira.
"Ayo masuk." perintah Xavier.
"Baik tuan." David mendorong kursi roda tuannya masuk ke rumah.
Saat masuk ke rumah mereka disambut dengan pemandangan yang hangat, di mana Xavier melihat istri kecilnya tengah memakai celemek berwarna pink dengan motif kucing, sedang membantu bi eli memasak di dapur bersama Shaka dan William yang juga ikut membantu.
"Makanannya belum siap, kamu bisa tunggu dulu di meja makan sama David." ucap Keira saat melihat Xavier yang baru saja masuk.
"Tidak, mas mau pergi ke ruang kerja dulu bersama David."
"Oke kalau begitu ketika makanannya sudah siap aku akan memanggilmu ke lantai atas."
"Hm."
Xavier dan David langsung pergi ke lantai atas menggunakan lift, setelah sampai di lantai atas mereka pergi ke ruang kerja paling ujung di dekat kamarnya. Xavier menyuruh David untuk mengunci ruang kerja agar tidak ada yang masuk sembarangan.
"Jadi ada berita apa?" tanya Xavier tenang sambil membuka buka dokumen di atas meja.
"Tuan pelaku yang menabrak mobil tuan pada saat itu tidak mau mengaku siapa dalang dibalik semua itu. Meskipun kami sudah menyiksanya dengan berbagai cara untuk memaksa mengungkapkannya, dia masih bersikeras untuk tutup mulut." jelas David.
"Tidak mau mengaku ya, kalau begitu David cari tau siapa saja orang yang berhubungan dengannya. Mau itu teman ataupun keluarganya." ucap Xavier dengan nada dingin.
"Baik tuan."
"Lalu bagaimana dengan pria yang mendekati istriku."
Memikirkan pria asing yang mendekati istri kecilnya membuat Xavier merasa cemburu, rasa posesif dan paranoid di dalam hatinya membuat dia gila selalu ingin mengurung istrinya di rumah.
"Oh itu, ini tuan semuanya sudah saya rangkum diberkas ini." jawab David memberikan berkas ditangannya pada Xavier.
Mebalik balikan informasi ditangannya, Xavier membaca laporan itu dengan cepat.
"Ah…ternyata dia, aku tidak menyangka dia akan balik ke sini."
"Benar tuan."
__ADS_1
"Tapi bos sampai kapan bos akan terus seperti ini, mereka sudah menunggu bos untuk kembali."
"Sampai…."