Istri Kecil Tuan Muda Xavier

Istri Kecil Tuan Muda Xavier
Bab 45


__ADS_3

Ibu dan anak itu menatap ponsel secara bersamaan. Mereka melihat wajah Xavier yang suram dan dingin di layar. 


"Halo Ayah,"sapa Shaka tersenyum manis, berharap Xavier membalas sapaannya. 


Namun bukan sapaan yang dia dengar, tapi ancaman dingin darinya. 


"Tunggu aku menangkap kalian, dan lihat bagaimana aku menghukum kalian berdua!"


Mendengar ancaman dari ayahnya Shaka menoleh ke samping menatap ibunya dengan cemas. 


"Ibu bagaimana ini, Ayah akan menghukum kita, ayo kita kabur sebelum Ayah datang,"ucap Shaka dengan nada rendah takut didengar oleh Xavier. 


"Ba-" Sebelum Keira selesai bicara, dia disela oleh suara dingin dari ponsel. 


"Kabur lagi! Percaya atau tidak aku akan mematahkan kaki kalian berdua!"


"Ayah bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu pada kami,"ucap Shaka marah kakinya dia hentakan ke tanah, pipinya mengembung seperti ikan buntal. 


"Jika Ayah mematahkan kaki kita, Shaka akan bawa Ibu kabur lagi!"


"Berani!"


Dari awal hingga akhir Keira tidak pernah berbicara dengan Xavier, perhatiannya hanya tertuju pada pintu keluar di mana banyak pengawal berjaga di luar. Tanpa berpikir pun Keira tau itu suruhan Xavier. 


"Tsk sial, kenapa harus tertangkap sih, bagaimana aku kabur dari sini coba." 


Meskipun dia ingin kabur dari sini, dia tidak bisa, apalagi melihat banyak sekali pengawal yang mengepung taman ini. 


Keira menyerahkan ponsel itu pada Shaka, dia hendak berjalan namun dihalangi oleh Keenan. 


"Mau kemana, jangan coba-coba kabur dari sini. Kalaupun iya kamu tidak bisa keluar,"ucap Keenan waspada, dia takut Keira akan kabur lagi dan membuat mereka kerja lembur. 


Keira memutar bola matanya malas, dia mendorong Keenan ke samping dengan sedikit kekuatan. 


"Minggir, siapa juga yang mau kabur." Ketika Keira hendak melangkah, tangan lembut Shaka memegang jarinya. 


"Ibu mau kemana, jangan tinggalin Shaka." Shaka memegang jari Keira erat, matanya yang bulat menatap Keira dengan menyedihkan seperti kucing kecil yang ditinggalkan. 


"Keira jika kamu kabur lagi, aku akan menangkapmu dan mengurungmu di kamar!"

__ADS_1


Keira tak menghiraukan ancaman Xavier, tangannya mengelus rambut Shaka yang halus. 


"Ibu mau pergi ke toilet, kamu tunggu Ayah di sini." Setelah memberi penjelasan pada Shaka, Keira langsung pergi ke toilet. 


Setelah kepergian Keira, beberapa saat kemudian Xavier datang bersama rombongannya. 


"Akh Tuan Muda kecil, akhirnya kami menemukanmu." Kenzo mengangkat Shaka tinggi-tinggi, wajahnya penuh kebahagian. Akhirnya dia tidak perlu lagi duduk di depan komputer untuk mencari mereka siang dan malam. 


"Paman Kenzo turunkan aku, aku pusing." 


"Oke,oke." Kenzo buru-buru menurunkan Shaka ke tanah, karena takut dengan tatapan bosnya. 


"Tapi di mana Nyonya?"tanya Felix ketika dia tidak melihat keberadaan Keira. 


"Dia pergi ke kamar mandi,"jawab Keenan. 


"Kalian pergi bawa juga Shaka,"perintah Xavier mutlak tidak ingin dibantah. 


"Baik Bos." David hendak membawa Shaka pergi, namun bocah itu sudah berlari ke sisi Xavier. 


"Tidak mau! Ayah aku ingin menunggu Ibu di sini." Shaka memandang Xavier dengan keras kepala. 


"Bawa dia pergi."


"Aku tidak mau! Ayah aku mau Ibu, paman Kenzo lepaskan aku!" 


Xavier menghiraukan teriakan putranya, dia menyandarkan punggungnya yang lelah di pohon lalu memejamkan matanya, menunggu Keira datang. 


Selang beberapa menit kemudian, Xavier mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Mencium wangi yang familiar, Xavier  perlahan membuka matanya dan melihat wanita cantik yang selama ini dia rindukan berdiri di hadapannya. 


Xavier ingin memeluk wanita itu, namun Keira yang mengetahui niatnya segera mundur beberapa langkah. 


Keira menatap pria di depannya dengan acuh tak acuh, tidak ada pasang surut di mata indahnya, hanya keterasingan dan sorot mata dingin. 


"Ayo pergi." Keira berjalan terlebih dahulu keluar dari taman hiburan meninggalkan Xavier yang berada di belakang. 


Hatinya sangat terluka ketika dia melihat sorot mata Keira saat menatapnya, seolah melihat orang asing dan tidak penting. 


Dengan senyum kecut Xavier mengikuti Keira pergi dari taman, di bawah tatapan semua pengunjung yang penasaran. Bagaimana tidak, gerakannya yang menggemparkan membuat semua pengunjung terheran-heran. Hanya bos besar yang mampu mengerahkan semua pengawal untuk mengepung taman bermain ini. 

__ADS_1


••••


Di dalam mobil suasananya sangat dingin dan sepi, membuat supir di kursi depan tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun. 


Keira menurunkan topi bisbolnya sedikit lalu memejamkan matanya dan tertidur lelap. Dari awal sampai akhir Keira sama sekali tidak pernah memperhatikan Xavier. 


Mendengar suara nafas lembut di sampingnya, Xavier perlahan menoleh, tatapannya menjadi lembut saat melihat Keira sudah tertidur. Dia ingin menjangkau dan membawanya kepelukannya, namun ketika dia memikirkan bagaimana Keira menatapnya, dia langsung mengurungkan niatnya. 


Tangannya mengepal erat dengan aura membunuh yang kental, menakuti pengemudi di depan. 


Setelah beberapa menit di perjalanan, kini mereka sudah sampai di villa mewah. 


"Tuan kita sudah sampai."


"Hm."


Xavier segera turun dari mobil, dia ingin membantu membawa Keira ke dalam rumah. Namun sebelum tangannya mencapai pintu, pintu itu terbuka sendiri dan seorang wanita keluar dari mobil berjalan menuju rumah, mengabaikan dia yang berdiri di samping. 


Sudah cukup! Kesabarannya sudah habis, dengan aura dingin dan berbahaya Xavier melangkahkan kakinya yang panjang menyusul Keira. 


Melihat Keira hendak masuk ke kamar, Xavier langsung mencekal pergelangan tangannya, menyeretnya ke dalam dan menyematkan tubuhnya ke dinding, mengungkungnya di dalam pelukannya. 


"Apa yang ka-" Sebelum ucapannya selesai Xavier langsung memblokir mulut kecilnya yang akan protes. 


Ciumannya sangat kasar dan mendominasi, menjarah semua yang ada di dalam tanpa melewatkan sedikit pun. Membuat Keira kewalahan. 


Tanpa melepaskan ciumannya, Xavier membawa Keira menuju kasur lalu menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk. 


Setelah ciuman itu lepas Keira langsung menghirup udara dengan rakus, bibirnya terasa perih dan bengkak membuat dia mendengus kesakitan. 


Melihat pria itu melepas kemejanya, Keira sangat ketakutan, dia ingin segera kabur dari sini namun kakinya dicekal erat oleh tangan kasar Xavier. 


"Kabur lagi, lihat bagaimana aku menghukummu!" Dengan ekspresi muram Xavier mengungkung Keira di bawah tubuhnya lalu mencium bibirnya dengan ganas seperti binatang buas yang kelaparan. 


Setelah waktu yang lama Keira tidak tahan, dia sangat kesakitan bibirnya terasa perih dan mungkin terluka, dia juga bisa merasakan bau karat di mulutnya. Pada saat ini Keira rasanya ingin menangis sekarang juga. 


Dengan sekuat tenaga dia mendorong Xavier menjauh lalu menampar wajahnya dengan kuat. 


"Dasar brengsek!" Dengan pakaian yang berantakan Keira berlari ke kamar mandi lalu mengunci pintunya mencegah Xavier untuk masuk. 

__ADS_1


Setelah mengatur nafasnya, tubuh Keira merosot ke lantai, dia memeluk tubuhnya yang terasa lelah. Air mata yang selama ini dia tahan pecah tak terhenti, semua keluhan, rasa sakit, kekecewaan yang dia pendam di hatinya tidak bisa lagi dia tahan. 


__ADS_2