Istri Kecil Tuan Muda Xavier

Istri Kecil Tuan Muda Xavier
Bab 62


__ADS_3

Ini pertama kalinya Shaka diantar ke sekolah oleh kedua orang tuanya seperti teman sekolah lainnya. Biasanya saat ibu tidak bisa mengirimnya, Shaka akan pergi bersama supir yang biasa mengantar jemputnya. 


Tapi sekarang itu tidak perlu lagi, karena orang tuanya yang mengantar dia sekolah dan dia tidak akan iri lagi saat melihat semua temannya dikirim oleh orang tua mereka. karena saat ini dia juga merasakan apa yang dialami oleh temannya. 


Keira melirik kaca spion mobil menatap Shaka yang sedari tadi senyumnya tidak pernah luntur dari wajah imutnya, dan tampak sangat bahagia. 


"Ada apa? Sangat senang?" Keira bertanya pada Shaka dengan senyum hangat yang terukir di sudut bibir indahnya. 


"Ya!"balas Shaka cepat dengan penuh semangat. 


"Karena hari ini orang yang mengantar Shaka ke sekolah adalah Ibu dan Ayah sama seperti teman lainnya, dan Shaka tidak perlu iri lagi sama mereka"lanjut Shaka penuh kepolosan dengan binar di mata bulatnya yang indah penuh dengan kebahagiaan yang terpancar. 


Mendengar perkataan lugu Shaka mereka sedikit terdiam terutama Xavier, sejak hubungan ayah dan anak mereka baik dia sekalipun tidak pernah mengantar Shaka sekolah. Meskipun ada sopir dan Keira yang selalu mengantarnya, tapi yang anak kecil itu inginkan adalah ingin orang tuanya mengantarnya bersama, seperi orang tua lainnya. 


Keira merasa tertekan saat mendengar ucapan putranya, dia kemudian menoleh ke belakang melihat Shaka yang anteng duduk di kursi khusus anak. 


"Nah apakah Shaka ingin Ibu dan Ayah mengantar Shaka setiap hari?"


Shaka buru-buru menggelengkan kepalanya dan berkata masuk akal, "Tidak usah, hari ini Shaka sudah puas kok, Shaka tidak ingin mengganggu Ayah kerja." 


Walaupun di dalam hati kecil Shaka ingin ayah mengantarnya setiap hari, dia tidak boleh egois, ayah sangat sibuk dengan pekerjaannya, shaka tidak bisa memaksa ayah. 


"Sayang…." Keira merasa sedih melihat putra kecilnya masuk akal dan tidak ingin mengganggu ayahnya. 


Setelah memarkirkan mobilnya di tempat aman Xavier diam-diam melirik kaca spion dan menghela nafas tak berdaya di dalam hatinya. Xavier merasa terharu mendengar ucapan putranya, sejak tadi dia terus mendengarkan pembicaraan Ibu dan anak mereka tanpa menyela. 


"Oke Ayah dan Ibu akan mengantar Shaka setiap hari." Xavier menepuk kepala putranya lembut sebelum keluar. 


"Hah?" Shaka langsung tercengang dengan perkataan ayahnya yang tiba-tiba, sebelum otak kecilnya bisa memahami Shaka sudah di bawa oleh Xavier. 


Keira sangat geli dengan ekspresi bodoh Shaka yang tampak lucu, dia juga ikut keluar sambil membawa tas sekolah Shaka. 


Mereka berjalan berdampingan menuju gerbang sekolah dengan Shaka yang berada digendongan Xavier. Karena tampang mereka yang mempesona banyak orang yang memperhatikan mereka dengan tatapan kagum dan iri. 


"Ayah…."


"Hm?"

__ADS_1


"Apa maksud Ayah tadi?"bisik Shaka lembut di telinga ayah, tangan gemuknya melingkar di leher Xavier. 


"Ayah akan mengantar Shaka terlebih dahulu sebelum ayah pergi kerja, oke?" Xavier membalas Shaka dengan berbisik di telinga kecil putranya yang memerah. 


Shaka langsung terkikik bahagia mendengar ucapan ayahnya. 


"Oke."


Shaka diam-diam melirik wajah Xavier yang sedikit lembut, dengan penuh keberanian dia secepat kilat mencium pipi Xavier lalu menyembunyikan wajahnya yang memerah di pundak ayahnya. 


"Terima kasih Ayah."


Xavier langsung tertegun ketika mendapat kecupan basah putranya, ini pertama kalinya Shaka berinisiatif mencium dirinya. 


Senyum lembut muncul di wajah tampannya, Xavier kemudian membalas dendam pada putranya dengan ciuman lainnya. 


Keira yang memperhatikan interaksi mereka dari samping berpura-pura marah, "Oke kalian ayah dan anak melupakan aku!" 


Segera ayah dan anak itu saling memandang dan dengan pemahaman yang diam-diam mereka mencondongkan tubuhnya pada Keira kemudian mencium pipi Keira secara bersamaan. 


"Nah Ibu tidak marah lagi, kami tidak melupakan Ibu,"bujuk Shaka manis. 


"Oke."


Setelah sampai di gerbang Xavier menurunkan Shaka di tanah lalu berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Shaka. 


"Nah pergi ke kelas jangan nakal, sebelum Ayah dan Ibu menjemputmu kamu jangan berlarian, jika ada orang asing mengajakmu jangan ikut tahu?"nasihat Xavier pada putranya yang polos. 


Shaka sangat serius mendengarkan nasihat ayahnya lalu mengingatnya di dalam hati dan mengangguk cepat. 


"Ya Ayah Shaka tahu!"


"Pintar." 


Keira menyerahkan tas sekolah putranya lalu mengecup kening Shaka lembut. 


"Pergi."

__ADS_1


"Dah Ayah, dah Ibu!" Sebelum masuk Shaka melambai pada orang tuanya kemudian masuk bersama Lucas yang baru saja datang. 


Keira memperhatikan Shaka masuk ke dalam sekolah dengan seksama, kekhawatiran di dalam hatinya tidak berkurang dan malah bertambah.


"Apa tidak papa?"


"Jangan khawatir Shaka akan baik-baik saja, Mas sudah menyuruh beberapa pengawal untuk menjaganya dalam kegelapan. Jika sesuatu terjadi padanya mereka akan segera melindungi Shaka." Xavier menenangkan istrinya yang cemas. 


"En." Semua kekhawatiran di hatinya berkurang banyak ketika mendengar kata-kata Xavier. 


"Ayo pergi." Xavier merangkul pinggang ramping istrinya, berbalik dan berjalan menuju mobil. 


°°°°


Selain itu di daerah kumuh dan terpencil David memperhatikan rumah kecil di depannya dengan ekspresi rumit. Ada ya orang yang tinggal di rumah yang hampir runtuh ini. Lihat saja pintunya, atapnya, dan fondasi di rumah itu hampir rusak. Mungkin jika ada angin kencang rumah ini akan hancur. 


Sean dengan dingin melirik David  yang hanya berdiri diam di depan pintu tanpa bergerak. 


"Cepat ketuk pintunya,"perintah Sean tidak sabar. 


"Ya-ya-ya." David segera mengetuk pintu dibawah desakan Sean setelah beberapa kali ketukan akhirnya pintu dibuka oleh sang pemilik. 


"Siapa?" Tommy memandang pria rapi di hadapannya, sedikit kerutan muncul di keningnya. 


"Halo saya David asisten Tuan Xavier, kami ada urusan dengan anda bisa berbicara sebentar?"tutur David sopan, tapi pupil matanya sangat dingin saat menatap pria yang berdiri di depannya. 


 "Orang ini adalah ayah kandung tuan muda? Ckckck aku merasa kasihan untuk tuan muda kecil karena memiliki ayah buruk seperti itu." 


"Tidak! Saya tidak ada urusan dengan kalian, silahkan pergi." Tommy langsung membanting pintu dengan kencang, memblokir mereka di luar. Sekilas dia tahu orang-orang elit ini pasti dikirim oleh wanita itu untuk berurusan dengannya. 


Maya menatap Tommy yang baru saja menutup pintu, kedua alisnya sedikit mengkerut heran. 


"Ada apa? Siapa yang datang?"


"Tidak ta-" Sebelum ucapannya selesai, gedoran pintu di luar terdengar sangat kencang hampir merobohkan rumah ini. 


"Tuan Tommy jika anda tidak segera membuka pintu saya akan mendobraknya secara paksa!"

__ADS_1


Ketika mendengar ancaman di luar, wajah Tommy langsung hitam, dan dengan tidak sabar melangkah keluar membukakan pintu untuk mereka. 


"Masuk!"


__ADS_2