
"Ukh…." Perlahan mata yang terpejam itu terbuka sebelum Keira bisa memahami apa yang terjadi kepalanya terasa pusing, ini mungkin karena dia terlalu banyak minum di pesta.
Butuh beberapa menit untuk menjernihkan pikirannya dan mencerna apa yang terjadi padanya. Saat Keira akan bergerak tiba-tiba tubuhnya seperti terikat dan ketika melihat ke bawah sebuah tali mengikat tubuhnya di kursi.
"Bajingan mana yang berani menculikku, kalau aku bertemu dengannya akan kuhabisi sampai babak belur,"gerutu Keira kesal sambil memperhatikan sekitarnya mencari sesuatu yang bisa digunakan olehnya.
Ini sepertinya bangunan lama yang sudah ditinggalkan, baunya juga sangat busuk dan lembab banyak bangkai tikus yang tergeletak di pojokan. Juga hanya ada dia sendiri dengan tangan dan kaki terikat di kursi.
Suasana di bangunan ini terlihat gelap dan menyeramkan, untungnya Keira sudah terbiasa dengan situasi seperti ini, kalau tidak mungkin dia akan berteriak minta tolong.
Saat ini tatapannya tidak sengaja melihat pecahan kaca di atas meja bobrok yang berada tidak jauh darinya, memanfaatkan kondisi yang sepi dia bergerak ke arah meja.
Suara ketukan kursi sangat nyaring di gudang sunyi dan gelap itu, Keira dengan sekuat tenaga bergerak ke arah serpihan kaca itu berada sembari menatap pintu masuk dengan cemas takut tiba-tiba seseorang masuk ke dalam.
Ketika Keira hendak berhasil mendapatkan kaca itu, tiba-tiba pintu masuk itu terbuka. Meski sedikit terkejut, tapi untungnya kaca itu tidak terjatuh ke lantai.
Beberapa pria berjas hitam berjalan masuk dipimpin oleh sepasang pria dan wanita. Keira tau siapa wanita itu, namun pria yang berdiri di sampingnya dia tidak mengenalnya.
"Oh… apa nih? Ternyata tahanan kita sudah sadar. Bagaimana perasaanmu ketika bangun dan mendapati dirimu sendiri seperti ini?" Karina berjalan selangkah-selangkah menuju Keira dengan senyum sinis di bibirnya.
"Ah… ternyata wanita gila ini yang menculikku,"gumam Keira seraya memutar bola matanya malas ketika melihat wanita ini.
Meskipun suaranya kecil namun di gudang yang sepi ini terdengar jelas di telinga Karina dan membuatnya naik pitam.
"Apa maksudmu wanita gila hah! Apa kamu tidak tau situasimu saat ini hah?"teriak Karina di depan wajah Keira lalu menarik rambutnya hingga mendongak ke atas.
Keira sedikit meringis ketika rambutnya ditarik dengan kuat dan rasa dingin melintas di pupil matanya yang berwarna coklat.
"Aku tahu, jadi apa? Apa menurutmu aku akan ketakutan dan memohon padamu?" Keira memandang Karina dengan tampang meremehkan. Tangannya yang terikat di belakang sedang berusaha melepaskan talinya.
"Benarkah? Kalau begitu kita akan lihat sampai mana kamu bisa bertahan." Dengan seringai di sudut mulutnya, Karina melepaskan jambakan di rambut Keira lalu menampar pipinya dengan kuat.
Plak!
Suara tamparan terdengar nyaring di gudang kosong itu disertai dengan suara tawa yang tebahak-bahak seperti kepuasan.
"Lihat bagaimana aku membuatmu merangkak memohon padaku!"
__ADS_1
Plak!
"Kenapa harus wanita sepertimu yang menjadi istri Xavier, hah!"
Plak!
"Kenapa bukan aku!"
Plak!
"Bos bukannya kita tidak boleh menyakitinya?"tanya salah satu bawahan pada pria tampan yang duduk menonton kekerasan di depannya.
"Tidak papa, aku ingin melihat reaksi pria itu jika melihat wanita yang dicintainya terluka seperti itu,"ucap Alaric acuh tak acuh lalu membuang puntung rokoknya dan berjalan ke arah mereka serta menghentikan tangan Karina yang akan menampar lagi.
"Lepas sialan! Beraninya kamu menghentikan ku!"teriak Karina ingin mendorong Alaric menjauh namun sebelum bertindak dia sudah didorong terlebih dahulu hingga terjatuh ke belakang.
Tanpa memperhatikan Karina yang terjatuh, pandangan Alaric menatap perempuan itu yang wajahnya babak belur namun masih terlihat cantik. Sudut bibirnya mengeluarkan darah segar dan pipinya yang halus terlihat bengkak.
"Ck kasihan sekali, kalau saja kamu bukan wanita pria itu, aku tidak akan menculikmu. Salahkan saja priamu yang membuatku seperti ini."
Mendengar perkataan pria di hadapannya yang tak tahu malu, Keira terkekeh sinis. Dia meludahkan sedikit darah di mulutnya ke sepatu pria itu.
"Karena kamu tidak berani melawan suamiku, jadi aku menjadi sasaran balas dendammu, cih dasar pengecut!"
"Brengsek!" Alaric mencekik leher wanita di depannya, dia sudah mencoba bersabar ketika wanita itu meludahinya, namun saat mendengar penghinaan di mulutnya amarah yang dia pendam sudah tidak bisa ditahan.
Melihat wanita itu akan kehabisan nafas Alaric langsung melepaskannya dan berjalan pergi dengan wajah suram diikuti oleh para bawahannya.
"Uhuk… uhuk… uhuk." Keira langsung terbatuk keras setelah cekikan di lehernya terlepas lalu dengan rakus menghirup nafas dalam-dalam.
"Psikopat gila!"
Setelah melihat mereka pergi Karina dengan cepat bangkit dari tanah dan berjalan ke arah Keira.
"Sekarang hanya kita berdua di sini dan aku akan dengan bebas menyiksamu sampai kamu merangkak memohon padaku." Dengan itu Karina hendak melayangkan tangannya tapi langsung dicegah oleh tangan putih yang berlumur darah.
"Ka-" Sebelum Karina berteriak, Keira dengan cepat membekap mulutnya lalu membenturkan kepalanya ke meja hingga terbelah.
__ADS_1
"Akhh…,"teriak Karina histeris saat melihat darah mengalir dari atas kepalanya
"Menyusahkan!"
Setelah Keira berhasil lepas dari ikatan, dia segera berdiri lalu menyugarkan rambutnya ke belakang dan berjongkok di samping Karina kemudian membalas semua tamparan yang Karina berikan kepadanya berkali lipat sampai wajah wanita sialan ini bengkak.
"Be-beraninya ka-"
"Berisik!" Keira menjambak rambut panjang Karina lalu dengan senyum bak iblis, dia menaruh ujung kaca yang tajam di pipi Karina hingga mengeluarkan darah.
"Ini sangat menyenangkan, bagaimana kalau aku melukis pemandangan indah di wajahmu dan mempercantiknya, hm?"
Mendengar ucapan kejam Keira, tubuhnya langsung gemetar ketakutan dan wajahnya langsung pucat. Dia menahan rasa takut di hatinya, kemudian memandang wanita di depannya dengan penuh kebencian.
"Dasar gila! Percaya atau tidak aku akan berteriak dan memanggil mereka untuk datang,"ancam Karina berharap wanita gila ini takut, namun yang diharapkan bukan rasa takut tapi tawa iblis yang menggema di gudang itu.
"Alaric! Ce- akh…." Keira langsung menarik rambut wanita itu dan menyeretnya ke pojok di mana banyak sekali barang-barang yang tidak berguna.
"A-apa yang ingin kamu lakukan!" Karina dengan cepat mundur ke belakang ketika melihat wajah seringai gila Keira yang seperti iblis tengah membawa botol kaca di tangannya.
"Tebak." Setelah suara dingin itu jatuh terdengar teriakan kesakitan dan putus asa yang menggema di ruangan gelap itu.
"Kamu seharusnya tidak memprovokasiku."
°°°°
"Bos sepertinya terjadi sesuatu, apa Nona Karina benar-benar menyiksanya,"ucap salah satu bawahan Alaric. Mereka juga mendengar suara kesakitan di dalam gudang.
Alaric mengerutkan bibirnya kesal lalu berkata, "Pergi periksa."
Dengan itu Alaric memimpin bawahannya pergi ke dalam dan tubuh mereka membeku dengan wajah tercengang ketika melihat situasi di dalam yang tidak mereka harapkan.
"B-Bos situasi macam apa ini?"
Suaranya yang lantang menghentikan kegiatan Keira dan dengan wajah yang dingin dia menoleh.
"Ah… ternyata kalian di sini."
__ADS_1