
Untuk memulai bisnisnya, saat ini Keira benar-benar sibuk. Seharian ini dia mencari ruko dengan tempat yang strategis untuk memulai usahanya, dan akhirnya dia mendapatkannya dengan banyak usaha.
Dan tanpa menunggu lama dia mulai merombak ruko itu menjadi sebuah kafe dengan nuansa anak muda yang dibantu oleh para pekerja terampil yang dia sewa.
Walaupun Xavier memberinya kartu tak terbatas, namun dia tidak ingin terlalu bergantung padanya. Keira ingin mencoba memulai usahanya dengan uang tabungannya sendiri dan tanpa campur tangan Xavier.
Meskipun Xavier sempat menentang keputusannya, Keira tidak terlalu peduli. Yang penting dia sudah memberitahu rencananya pada Xavier.
Sementara cafenya sedang dirombak, Keira juga merekrut orang yang mau bekerja dengannya. Dia juga yang mewawancarai calon karyawanya dengan ketat, Keira ingin semua pegawai yang dia pilih memiliki karakter yang baik, berperilaku jujur dan tanggung jawab.
Karena pekerja yang dia pilih sangat cepat dan efisien, akhirnya ruko yang telah dirombak menjadi kafe telah selesai dalam waktu 4 hari.
Keira membeli semua barang yang dibutuhkan untuk cafe nya dan hiasan untuk mendekorasinya agar terlihat lebih cantik dan indah. Dibantu oleh beberapa bawahan dari Xavier, meskipun dia telah menolak dengan tegas, namun Xavier tetap mengirimkan mereka.
Hanya butuh waktu 3 jam untuk menghias kafe sampai selesai dan dibantu oleh 5 orang yang bekerja dengan cepat dan tangkas.
"Sebagai ucapan terima kasih karena telah membantuku mendekor kafe, bagaimana kalau aku mentraktir kalian makan,"ucap Keira dengan tulus.
"Tidak perlu,"ucap Arthur acuh tak acuh sambil menyesap minumannya.
"Ya, ya, ya Nyo- maksudku Keira gak perlu melakukan itu, ini sudah menjadi tugas kami,"ucap Felix buru-buru.
"Ya kami melakukan ini dengan ikhlas kok,"timpal Kenzo.
Walaupun Sean dan Khenet hanya diam saja, namun penolakannya sangat jelas di mata mereka.
Melihat mereka menolak tawarannya Keira dengan gigih membujuk mereka.
"Kenapa? Apa karena Xavier? Kalian tidak perlu khawatir dia tidak akan berbuat apa-apa."
"Tidak buk-"
Tanpa ampun Keira langsung menyela ucapan Kenzo lalu berkata, "Pokoknya aku akan mentraktir kalian dan kalian jangan menolaknya."
Setelah selesai berbicara Keira segera pergi meninggalkan kelima pria itu tanpa menunggu reaksi dari mereka.
°°°°
Keesokan harinya kafe yang dia bangun resmi dibuka untuk umum, biarpun pelanggannya masih sedikit itu lebih baik dibanding tidak ada sama sekali.
Dia merekrut 5 karyawan pria dan wanita yang lolos seleksi darinya, 5 karyawan itu terlihat masih muda mungkin di bawah umurnya.
__ADS_1
"Bos," Sapa mereka ketika melihat Keira datang.
"Hm."
"Apa semuanya berjalan lancar?"tanya Keira pada wanita muda yang menjaga kasir.
"Tenang saja Bos semuanya lancar,"ucap wanita itu yang diketahui namanya Rani.
"Bagus." Keira mengacungkan kedua jempol ke arah mereka sebagai pujian.
"Jika kalian butuh sesuatu telpon saja aku, sekarang aku harus pergi lagi."
"Siap Bos!"
••••
Saat ini Keira berada di toko pakaian kelas atas, karena Xavier mengundangnya pergi ke pesta perjamuan dia harus membeli gaun baru untuk digunakan nanti.
"Kenapa kamu malah ngikutin aku ke sini?"tanya Keira pada pria tampan yang berdiri di sampingnya.
"Gak papa, Mas ingin nemenin kamu belanja,"ucapnya lalu duduk di sofa yang disediakan.
Melihat pria itu benar-benar ingin menunggunya Keira tidak punya pilihan lain, dia segera pergi mengikuti pramuniaga untuk mencari gaun yang diinginkannya.
Namun setelah beberapa lama mencari, tidak ada yang membuatnya terpesona, meskipun semua gaun di sini terlihat indah tapi dia tidak suka. Saat Keira hendak menyerah tatapannya tidak sengaja jatuh pada gaun merah yang dilindungi oleh kaca tebal.
"Tolong tunjukkan gaun itu padaku."
Melihat arah tunjuknya pelayan itu sangat bersemangat. Ini adalah satu-satunya gaun mahal yang berada di toko ini, jika wanita ini membelinya dia akan mendapat komisi yang banyak.
"Penglihatan Nona benar-benar bagus, gaun ini adalah rancangan yang dibuat oleh desainer terkenal dan pembuatannya hanya terbatas."
Keira terlalu malas untuk mendengar omong kosongnya dan dia dengan acuh tak acuh berkata, " Ya, ya cepat tunjukan padaku."
"Baik Nona." Dengan wajah semangat pelayan itu mengambil gaun yang diinginkan Keira lalu menyerahkan kepadanya.
Sebelum tangannya menyentuh gaun itu seseorang langsung mengambilnya.
"Aku ingin gaun ini." Wanita itu menyerahkan gaun di tangannya pada pelayan yang membimbingnya
"Baik Nona."
__ADS_1
Keira menatap wanita itu dengan dingin, ini benar-benar hari sial baginya karena bertemu dengan wanita yang menyebalkan ini.
"Apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu, apa karena gaun ini tapi maaf ini sudah menjadi milikku,"ucap Karina tersenyum provoksi.
"Kembalikan padaku,"ujar Keira datar, pupil matanya yang berwarna coklat terlihat dingin.
"Kalau aku gak mau kau mau apa, hah,"tantang Karina tanpa merasa takut sedikit pun.
Meskipun Keira ingin gaun itu tapi dia tidak terlalu menginginkannya, jadi ketika melihat provokasi wanita itu Keira hanya menatapnya acuh tak acuh lalu melenggos pergi. Dia terlalu malas untuk meladeni wanita ini.
Melihat komisinya pergi pelayan itu meratap sedih, dia benar-benar tidak beruntung.
Karina menginjakkan kakinya kesal ketika melihat punggung Keira pergi. Ini seperti meninju kapas, membuat dia sangat frustasi.
Selain itu di ruang tunggu, Alaric tidak menyangka akan bertemu dengan saudara laki-lakinya di toko pakaian wanita.
"Aku tidak menyangka akan bertemu dengan saudaraku di sini." Tanpa permisi Alaric langsung duduk di sebelah Xavier.
Xavier menatap sekilas pria yang duduk di sebelahnya lalu mendengus dingin dan melanjutkan bacaan majalahnya.
"Kakak aku ingin minta maaf soal kejadian masa lalu, sebenarnya itu bukan keinginan ku untuk menggantikan mu sebagai presdir tapi para investor itu yang menginginkannya. Jadi kakak bisakah kamu masukan aku kembali ke perusahaan,bagaimanapun aku masih memiliki 10℅ saham yang diberikan Ayah." Alaric memandang Xavier dengan sepasang mata polos yang tidak berbahaya.
Tanpa memperhatikannya Xavier langsung berkata dengan dingin, " Kamu salah, saham yang kamu punya sudah menjadi milikku."
Mendengar ucapan Xavier, Alaric langsung tertegun kemudian berteriak marah, "Tidak mungkin! Apa maksudmu?"
"Aku mengambilnya darimu." Tanpa menjelaskan lebih lanjut Xavier segera bangkit ketika melihat Keira datang.
Setelah mendengar ucapan Xavier tubuh Alaric membeku kemarahan yang menumpuk di dalam hatinya akan meledak, dan cahaya kejam melintas di matanya.
"Ayo pergi."
"Kenapa, apa gaunnya tidak bagus?"tanya Xavier lembut ketika melihat wajah kesal istrinya.
"Hm."
"Kalau begitu Mas akan meminta desainer merancang gaunmu."
"Oke." Xavier merengkuh pinggang Keira dan membawanya pergi meninggalkan toko pakaian, tanpa memperhatikan tatapan licik dari seseorang.
Melihat dua orang itu pergi cahaya ganas melintas di mata suram Alaric.
__ADS_1