
Saat ini Keira berada di cafe dekat sekolahan Shaka sambil menunggu putranya keluar dari sekolah. Tidak banyak pengunjung yang datang ke cafe ini, hanya sebatas 6 atau 7 orang, termasuk dia sendiri.
Keira duduk di pojokan dekat jendela seraya menatap ke arah luar jendela, tepatnya gerbang sekolah menunggu sosok kecil itu keluar dari sana. Jari-jarinya yang putih dan ramping, mengetuk meja berkali-kali hingga menimbulkan bunyi ketukan.
Matanya yang indah dan mempesona sesekali beralih dari luar ke handphone yang tergeletak di atas meja, seolah menunggu sesuatu. Sudah 1 jam dia mengirim pesan pada Xavier, tapi tidak ada satu pun balasan darinya, hingga membuat dia kecewa.
Pikirannya melayang pada kejadian tadi yang dia lihat di rumah sakit. Entah kenapa hatinya terasa sakit dan sedikit tidak rela, saat melihat Xavier bersama dengan perempuan lain. Sebenarnya dia tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap Xavier, setiap Xavier melakukan pendekatan terhadapnya, Keira selalu membentengi hatinya agar tidak jatuh cinta dan terpesona akan perbuatan lembutnya dan perhatiannya.
Lamunan Keira langsung buyar ketika mendengar suara bel sekolah berdering, dia buru-buru memakai topi bisbolnya lalu mengambil handphone dan kunci mobilnya dan berjalan keluar.
"Ibu…." Shaka berlari ke arah Keira dengan gembira sambil merentangkan tangannya yang gemuk lalu memeluk paha Keira.
"Kenapa Ibu menjemputku hari ini?"tanya Shaka heran, karena biasa yang menjemputnya adalah sopir di rumah.
"Tidak papa, Ibu cuma kebetulan ada di luar jadi sekalian menjemput Shaka." Keira mengambil tas sekolah Shaka, lalu memegang tangan gemuknya dan berjalan menuju mobilnya.
°°°
Keira menuntun Shaka masuk ke toko yang menjual alat lukis di dalam pusat perbelanjaan. Karena dalam perjalanan pulang, Shaka memintanya untuk pergi ke Mall membeli alat lukis. Baru-baru ini Shaka ingin mengembangkan hobi barunya yaitu melukis.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?"ucap pramuniaga itu sopan.
"Bantu saya mencari alat lukis untuk putraku,"ucap Keira sambil menunjuk Shaka.
"Aku ingin yang bagus dengan kualitas terbaik,"imbuh Shaka.
"Baik, mari ikut saya." Mereka mengikuti pramuniaga itu untuk mencari alat lukis yang diinginkan Shaka.
Setelah selesai membeli alat lukis, kini Keira mengajak Shaka untuk makan siang.
"Ibu aku ingin makan di KFC boleh?"ucap Shaka dengan nada manja, matanya yang bulat menatap Keira berbinar.
"Sayang makan junk food gak baik, bagaimana kalau kita makan yang lain aja,"bujuk Keira lembut mencoba berkompromi dengan Shaka.
"Ta-tapi aku ingin makan itu,"ucap Shaka sedih, kelopak matanya terkulai ke bawah.
Melihat wajah sedih putranya, Keira tidak tahan untuk menolaknya. Tangannya yang ramping mengusap lembut rambut halus Shaka.
"Oke, tapi hanya kali ini saja ya."
Mendengar persetujuan Keira, Shaka langsung mengangkat kepalanya. Wajahnya yang kecewa sekarang terlihat bahagia.
"Benarkah?"tanyanya semangat.
"Hm." Keira mengangguk dengan senyum lembut.
"Wow terima kasih Bu." Shaka melompat bahagia lalu memeluk Keira erat.
__ADS_1
°°°
"Kenapa Ibu gak makan?"tanya Shaka sambil memakan paha ayamnya.
"Nanti aja, ayo cepat habisin makanannya."
"Oke."
Melihat teleponnya berdering, Keira langsung mengambilnya.
"Sayang Ibu angkat telpon dulu, kamu tunggu di sini jangan ke mana-mana."
Setelah Keira mengucapkan itu, dia langsung berjalan keluar dari restoran dan menjawab panggilan telepon dari Xavier.
"Halo sayang, maaf Mas gak baca pesanmu tadi, Mas baru selesai rapat."
"Gak papa." Keira hanya tersenyum sinis mendengar kebohongan Xavier.
"Kamu ada di mana?"
"Aku ada di kantor, kenapa?"
"Gak papa"ucap Keira acuh tak acuh, tubuhnya bersandar di pagar pembatas menatap pengunjung yang berlalu lalang di lantai bawah. Saat ini Keira berada di lantai dua pusat perbelanjaan.
"Kamu beneran ada di kantor?"tanya Keira sekali lagi saat tatapannya tidak sengaja melihat punggung seseorang yang dikenalnya tidak jauh darinya.
"Oke." Keira langsung mengakhiri panggilan teleponnya, dia menyesuaikan topi bisbolnya dan hanya memperlihatkan hidungnya yang mancung dan seringai di sudut bibirnya yang merah menggoda.
Kakinya yang ramping berjalan melintasi jembatan kaca menuju toko pakaian di depannya lalu masuk ke dalam dan duduk di sofa tunggu.
Melihat wanita asing duduk di sampingnya, entah kenapa Xavier merasa firasat buruk akan datang kepadanya. Dia melihat jam yang melingkar di tangannya dengan tidak sabar, sudah 1 jam dia menunggu di sini. Tapi wanita itu belum selesai-selesai memilih baju.
"Lagi nunggu pacarnya ya Mas?"tanya Keira menyamarkan suaranya.
"Buk-" Ucapannya terpotong saat Clara datang dengan dua pakaian di tangannya
"Xavier lihat, menurutmu bagusan yang mana?"tanya Clara sambil menujukan kedua pakaiannya.
Melihat wanita asing duduk di samping Xavier, Clara langsung waspada, dia buru-buru membawa Xavier ke sisi tubuhnya menjauhkannya dari wanita itu.
"Kamu siapa?"
Mendengar pertanyaan lucu yang dilontarkan perempuan itu, membuat Keira tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang kamu tertawakan,"ucap Clara tidak puas.
"Apa kamu sudah selesai?"tanya Xavier dingin, kesabarannya sudah habis menunggu wanita ini berbelanja. Dan dia tidak ingin mendengar keributan antar perempuan.
__ADS_1
"Sudah, aku akan membeli semuanya ayo kita bayar."
Melihat kedua orang itu akan pergi, Keira langsung berdiri menghadang mereka, dan berkata dengan dingin pada pria jangkung itu, "Kenapa ada di sini, bukannya lagi di kantor."
Tubuh Xavier langsung menegang ketika mendengar suara yang dikenalnya, tenggorokannya terasa tercekat tidak bisa berkata apa-apa.
"Katanya rapat kenapa jemput perempuan lain di rumah sakit, katanya di kantor kenapa bisa ada di sini,"ucap Keira dingin sambil melepas topinya, memperlihatkan wajah cantiknya yang mempesona.
Iris matanya yang berwarna coklat terlihat acuh tak acuh ketika melihat pria tampan di depannya.
"Kenapa? Ayo jawab."
"A-aku…" Xavier sangat gugup ketika melihat Keira berdiri di depannya. Apalagi saat menatap matanya yang acuh tak acuh. Xavier ingin memegang tangan istrinya, namun Keira langsung menghindarinya.
Melihat wanita itu, Clara langsung tersenyum sini, dia menggandeng lengan Xavier dan bersandar mesra di pundaknya.
"Memangnya kenapa? Apa hakmu untuk melarangnya."
"Oh, saya istrinya!"ucap Keira dingin.
Clara langsung tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan Keira. Dia melepaskan tangannya lalu berjalan ke arah Keira sambil mendorong pundak Keira dengan jarinya.
"Kamu bukan istrinya, tapi hanya penggantiku."
"Oh benarkah,"ucapnya tersenyum sinis lalu memelintir tangan Clara yang memegang pundaknya.
"Akhh…." Jerit Clara kesakitan.
Tanpa menghiraukan jeritan Clara yang kesakitan, Keira langsung menendang kaki Clara hingga berlutut di bawahnya dan menjambak rambut Clara hingga mendongak ke atas.
"Akhh… lepas dasar j****g!"
"Apa yang dia katakan benar?"tanya Keira pada Xavier menghiraukan jeritan Clara.
Melihat tatapan dingin Keira, suara Xavier langsung tertahan. Perasaannya pada saat ini sangat gugup dan takut.
Melihat keterdiaman Xavier, Keira langsung mengerti, dengan senyum sinis, dia kemudian melepas jambakannya dan mengambil topi yang terjatuh lalu memakainya.
"Aku tau." Keira langsung berbalik dan berjalan keluar dengan punggung rampingnya yang acuh tak acuh.
Menatap kepergian Keira, Xavier dengan panik langsung mengejarnya meninggalkan Clara yang terjatuh di lantai.
"Tunggu sayang aku bisa jelasin." Xavier mencekal pergelangan tangan Keira untuk tidak pergi.
"Lepas."
"Tidak akan! say- akhh…." Sebelum ucapannya selesai, tangannya sudah dipelintir dan kakinya ditendang hingga terjatuh, persis seperti yang dialami Clara.
__ADS_1
"Bajingan!" Setelah mengucapkan itu, Keira langsung berlari menjemput Shaka.