Istri Kecil Tuan Muda Xavier

Istri Kecil Tuan Muda Xavier
Bab 40


__ADS_3

Keesokan paginya, Keira sudah siap dengan penampilan kasualnya. Celana panjang putih dan crop top hitam polos, rambutnya yang panjang ia ikat menjadi kuncir kuda, memperlihatkan leher jenjangnya yang indah dengan riasan tipis di wajah cantiknya. 


Tangannya yang putih dan ramping sangat sibuk menyiapkan makanan untuk di bawa ke rumah sakit.


"Astaga!" Keira tersentak kaget saat tangan seseorang melingkar di perutnya. Untung centong yang dia pegang tidak jatuh. 


"Mas!"tegur Keira saat melihat siapa pelakunya. 


"Maaf, selamat pagi sayang. Kamu mau kemana?" Xavier menghirup wangi tubuh Keira yang memabukan. 


"Aku mau ke rumah sakit, kamu mau langsung pergi ke kantor?"tanya Keira ketika melihat penampilan rapi suaminya yang terlihat tampan dengan setelah jas hitamnya. 


"Iya, tapi Mas gak bisa antar kamu, soalnya ada rapat,"ucap Xavier merasa bersalah. 


"Iya gak papa aku bisa naik mobil sendiri, Mas mau sarapan dulu?"


"Tidak, Mas makan ini aja, dah sayang Mas pergi dulu, hati-hati nyetir mobilnya." Xavier mengambil roti bakar dari piring, lalu mencium pipi Keira sekilas dan pergi keluar dengan kaki panjangnya. 


Melihat punggung tegap suaminya, keira hanya tersenyum tak berdaya. Dia kemudian melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Setelah selesai, Keira berjalan keluar sambil membawa tas berisi makanan dan kunci mobil. 


"Bi kalau Shaka bangun dan nyariin aku, bilang aja lagi ke rumah sakit,"pesan Keira ketika melewati bi Eli yang sedang membersihkan halaman. 


"Baik Nyonya."


°°°


Keira mengendarai mobil Bugattinya melewati jalan-jalan yang sangat ramai, dengan keterampilan mengemudinya yang luar biasa, Keira menyalip semua kendaraan di jalanan. 


Tak butuh waktu lama, Keira sudah sampai di rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Dia berjalan menuju lift untuk naik ke lantai atas khusus ruangan VVIP. 


Melihat pintu bangsal yang tertutup, Keira perlahan membukanya dan melihat ayahnya yang sedang menatap pemandangan di luar jendela. Punggungnya yang rapuh terlihat kesepian. 


"Ayah,"panggil Keira lembut. 


Mendengar suara lembut putrinya, Adam langsung menoleh ke belakang. Dia sangat terkejut dengan kedatangan putrinya, dia kira Keira tidak akan pernah datang lagi. 


"Kenapa kamu di sini?" 

__ADS_1


Melihat tatapan terkejut ayahnya, Keira hanya tersenyum lembut. Dia berjalan menuju bangsal dan meletakan makanannya di atas meja. 


"Tentu saja menjenguk Ayah, kenapa? Gak boleh?"


"Te-tentu saja boleh,"ucap Adam semangat, wajahnya yang keriput penuh kebahagiaan. 


"Ayo, waktunya sarapan." Keira membantu menyiapkan meja makan khusus pasien, lalu menaruh makanan yang dia bawa ke atas meja. 


"I-ini semua kamu yang buat?"ucap Adam takjub ketika melihat makanan yang menggugah selera di atas meja, membuat perutnya yang tidak lapar terasa lapar. 


"Iya, ayo makan."


"Oke, oke."


Setelah sarapan pagi, Keira membawa ayahnya untuk berjalan-jalan di taman, menghirup udara segar di pagi hari. 


"Apa hubunganmu dengan Xavier baik-baik saja."


"Ya, hubungan kami baik-baik saja, Ayah tidak perlu khawatir." 


"Bagus kalau begitu,"ucap Adam merasa lega. 


"Hahaha oke, Keira akan beritahu Ayah." Setelah menunggu waktu yang lama, ini adalah momen yang ditunggu-tunggu Keira, untuk bisa berbicara santai dengan ayahnya. 


Melihat senyum bahagia yang terpancar di wajah cantik putrinya, Adam merasa terharu. Andai dulu dia tidak mengabaikan putrinya, mungkin setiap hari dia akan melihat wajah bahagia putrinya. 


"Maaf, Ayah tidak bisa menjadi Ayah yang terbaik untukmu,"ucap Adam menyesal sambil menundukan kepalanya, matanya penuh kepahitan dan rasa bersalah ketika memikirkan bagaimana dengan kejamnya dia menelantarkan ibu dan anak itu. 


"Dan suami yang baik untuk Ibumu, maaf,"lanjut Adam. 


Keira tidak menyangka akan mendengar permintaan maaf dari ayahnya. Meskipun itu sudah masa lalu, tapi dia sangat tersentuh. 


Keira berjongkok di depan Adam, lalu memegang lengan ayahnya yang kasar. 


"Tidak papa Ayah, Keira udah maafin Ayah kok. Ibu juga udah maafin Ayah,"ucap Keira tersenyum lembut, saat Keira akan melepaskan tangannya. Dia merasakan cairan panas menetes ke punggung tangannya. 


"Kenapa Ayah nangis!" Panik Keira ketika melihat wajah ayahnya yang berderai air mata, lalu buru-buru menghapusnya dengan sapu tangan dari sakunya. 

__ADS_1


"Ayah tidak nangis, tapi air matanya aja yang ingin keluar,"ucapnya sambil menghapus air matanya yang terus mengalir. 


"Ayah,"ujar Keira tak berdaya kemudian memeluk tubuh ayah sambil mengusap punggung rapuhnya. 


Setelah beberapa menit menunggu ayahnya tenang, akhirnya dia tenang. Adam kemudian melepaskan pelukan putrinya. 


"Ayah udah tenang?"tanya Keira sambil mengusap sisa air mata di wajah ayah. 


"Em, ayo kita kembali." Suaranya terdengar serak dan parau akibat menangis terlalu lama, membuat Adam tersipu malu. 


Bisa-bisanya aku nangis di depan putriku, apa sekarang citra ayah yang kuat runtuh. 


"Oke." Keira mendorong kursi roda ayahnya untuk kembali ke bangsal. 


Setelah menunggu ayahnya tertidur, Keira mengambil tasnya lalu berjalan keluar dan menutup pintu dengan hati-hati. Dia tidak terlalu khawatir meninggalkan ayahnya sendiri, karena ini ruangan VVIP, penjagaannya sangat ketat. Keira juga menyuruh beberapa pengawal untuk menjaga ayahnya. 


Saat Keira masuk ke mobil, tatapannya tidak sengaja melihat pasangan mesra tidak jauh darinya hendak masuk ke mobil. Perlahan tangan yang tergantung di sisi tubuhnya mengepal erat, meski tidak terlalu jelas, karena mereka membelakanginya. Tapi Keira tau dari punggungnya, terutama pria tegap yang memakai jas itu. 


Adalah suaminya, Xavier! 


Untuk memastikan dugaannya, Keira mengambil ponselnya dan memutar nomor Xavier. Tatapannya tidak pernah lepas dari pasangan itu, terutama pria yang menjawab teleponnya. 


"Kamu ada di mana? Lagi ngapain?" 


"Tentu saja di kantor, aku ada rapat sayang."


Mendengar suaminya berbohong, Keira tersenyum sinis lalu menutup panggilannya langsung. Dia memotret kedua pasangan itu sebagai bukti. 


Heh, rapat apa dasar bajingan. 


Tanpa memperdulikan mereka lagi, Keira langsung tancap gas keluar dari tempat parkir. 


Tidak jauh darinya, Xavier menatap bingung telepon yang ditutup langsung oleh istrinya. 


Ada apa dengannya. 


"Xavier ayo,"ucap Clara 

__ADS_1


Hari ini dia diperbolehkan pulang oleh dokter, dan menunggu ayahnya untuk datang menjemputnya. Tapi, dia tidak menyangka Xavier datang ke rumah sakit untuk menjemput dirinya. 


Apa dia masih mencintaiku? Ya itu pasti, mana mungkin dia bisa berpaling dariku. Dan istrinya, heh dia hanya pengganti disaat aku tidak ada. 


__ADS_2