
"Apa semuanya sudah berkumpul ?" tanya Xavier sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 00.15 malam.
Malam ini dia akan mengunjungi markas yang di mana semua anak buahnya berkumpul dan juga tempat pelaku itu disekap.
"Ya tuan, mereka sudah berkumpul semua." jawab David sopan.
Iris matanya yang berwarna coklat menatap ke arah depan dengan fokus, karena di sekeliling mereka adalah hutan yang sangat gelap. David harus mengemudikan mobilnya dengan hati-hati, jika salah saja mungkin mereka akan tersesat dan berujung dikepung oleh binatang buas yang berkeliaran.
Yah sebenarnya dia cukup mampu untuk mengalahkan seekor hewan buas sendiri. Tapi, matanya melirik tuannya dari kaca spion yang tengah fokus melihat laptop dipangkuannya, dia takut tuannya akan berada dalam bahaya dengan kondisi kakinya yang "lumpuh".
Merasakan tatapan dari arah depan, Xavier hanya mengabaikannya. Matanya yang gelap seperti tinta hanya fokus pada laptop di pangkuannya tanpa merasa terganggu oleh tatapan dari asistennya.
Tangannya yang besar mengusap layar laptop itu yang menampilkan seorang wanita yang tengah tertidur pulas di ranjang besar. Seulas senyum tipis terukir di sudut mulutnya, matanya yang selalu tajam saat melihat orang saat ini melembut sedikit ketika melihat gadis kecil itu yang tertidur lelap.
Dasar kucing kecil, bagaimana bisa kamu tertidur nyenyak saat suamimu tidak ada di sampingmu. Batinnya, seraya tersenyum lembut saat melihat wajah polos istrinya yang menawan, meskipun tanpa riasan wajahnya tetap cantik.
Xavier sengaja memasang pemantauan di kamarnya untuk melihat bagaimana keadaan Keira saat dia tidak berada di sisi istri kecilnya. Tidak hanya di kamar, tapi di seluruh ruangan yang ada di villa itu, kecuali kamar mandi.
Setelah beberapa saat dalam perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di depan gerbang rumah mewah itu. Salah seorang pengawal yang melihat mobil tuannya segera membukakan gerbang untuk mereka.
David segera menjalankan mobilnya masuk ke halaman rumah, lalu memarkirkannya di garasi.
"Tuan kita sudah sampai."
Xavier menatap mansion mewah di depannya dengan mata menyipit, bibirnya yang tipis tersenyum sinis.
Sudah berapa lama ya, aku tidak ke sini.
David segera keluar dari mobil dan membantu tuannya untuk duduk di kursi roda. Setelah itu, mereka berjalan masuk ke dalam rumah dan melihat pemandangan ruang tamu yang sangat kacau. Sofa dan meja yang sudah terjungkal terbalik, sampah-sampah makanan yang berserakan di mana-mana. Dan dua orang pemuda yang tengah bertarung di depan mereka.
Xavier yang melihat keadaan ruang tamu yang sangat kacau hanya memijat pelipisnya pusing. Matanya yang tajam dengan aura dingin, menatap dua orang di depannya yang tengah bertarung sengit.
Melihat mata bos seperti akan membunuh mereka berdua, David buru-buru menghentikan mereka. Bisa gawat jika bosnya marah.
"Kalian berdua, hentikan!"
Mendengar teriakan seseorang yang berani menghentikan mereka, Kenzo dan Felix secara bersamaan menoleh ke asal suara itu dengan tatapan membunuh.
"Beraninya kam…" sebelum kalimatnya selesai, Kenzo sudah disela oleh nada dingin yang sangat dikenalnya.
"Apa!" potong Xavier dingin.
"Bos!" teriak mereka terkejut saat melihat bosnya ada di sini.
__ADS_1
Mereka langsung tertunduk takut, tidak berani melihat mata bos yang sangat tajam.
Sial kenapa bos bisa ada di sini, rutuk mereka.
"Kalian…bereskan semua ini dalam waktu 5 menit, jika tidak selesai… siap-siap saja." ancamnya tersenyum misterius.
Melihat senyum misterius bosnya mereka bergidik ngeri, akan gawat jika bos sudah tersenyum seperti ini. Mereka dengan pasrah menerimanya, meski waktu 5 menit tidak cukup untuk membereskan kekacauan yang mereka buat. Jika mereka berani membantah mungkin bukan ini saja hukumannya.
"Baik bos." jawab mereka pasrah.
"Di mana yang lainnya?"
"Mereka ada di ruangannya masing-masing bos."
"Jika sudah beres semua, pergi ke ruangan saya."
Setelah mengucapkan itu, Xavier menekan tombol di kursi rodanya lalu bergerak menuju lift khusus untuk ke ruangannya.
Melihat bosnya sudah pergi, mereka menghela nafsu lega.
"Huft…untung saja, ini semua gara-gara kamu." tuduh Kenzo pada Felix.
"Lah kenapa jadi aku, noh si David gak bilang-bilang si bos akan datang." dalih Felix tidak ingin disalahkan.
"Dasar David sialan!"
......................
Setelah ruang tamu beres kembali, akhirnya mereka berkumpul di ruangan bos mereka.
"Jadi Arthur bagaimana hasil interogasimu?" tanya Xavier pada salah satu pria yang duduk di sofa di hadapannya.
"Jadi, pria yang menyuruhnya untuk menabrak mobilmu itu ciri-cirinya bertubuh besar dengan tato disekujur tubuhnya. Dia bilang, dia tidak tau wajahnya seperti apa karena saat menemuinya dia memakai topeng." jelas Arthur melaporkan hasil interogasinya.
"Tubuh besar dan tato disekujur tubuhnya ya…hm tidak salah lagi." ucapnya tersenyum licik.
"Kenzo kamu sudah mencari tahu informasi yang diberikan david ?"
"Sudah bos semua informasinya sudah lengkap ada di sini." Kenzo memberikan plasdisk di tangannya pada Xavier.
"Kerja bagus."
"Tapi bos, jika dalangnya sudah ketahuan, lalu bagaimana dengan pelaku yang kita sekap?" tanya Felix penasaran.
__ADS_1
"Ya bunuhlah, memangnya mau diapain lagi. Mau dipelihara , mau dibiarin kabur." celetuk Arthur enteng.
"Enteng banget ngomongnya, kita itu manusia yang beradab yang taat dengan hukum, kita tidak boleh sembarangan membunuh orang." ceramah Felix sangat dramatis.
"Berisik! kamu yang sering nyiksa orang sampai mati. sok-sok an nyeramahin kita." cibir Kenzo.
"Itu dulu, sekarang udah tobat." ucap Felix tak terima.
"Nyenyenye…." ejek Kenzo sembari menjulurkan lidahnya.
"Kamu! ngajak ribut mulu. Tuh bos lihat, dia yang mulai duluan." adu Felix pada Xavier dengan wajah memelas.
"Cih dasar tukang ngadu." gumamnya pelan.
"Apa katamu!"
"Tukang ngadu."
Mereka sudah terbiasa melihat pertengkaran dua orang ini yang tidak pernah akur sampai kapan pun. Xavier yang melihat mereka bertengkar lagi, memijat pelipisnya pusing.
"Diam kalian!" bentaknya marah.
Felix dan Kenzo langsung terdiam saat mendengar bentakan bosnya. Melihat mereka langsung tenang, Xavier menghela nafas panjang.
Memijat pelipisnya yang pusing, dia langsung memerintahkan Khenet yang pendiam.
"Khen lepaskan pelaku itu dan biarkan dia kabur, jika dia lolos dari hutan ini mungkin itu keberuntungannya. Tapi, jika dia mati itu nasibnya." ucapnya kejam seraya tersenyum miring.
"Baik bos." Khenet langsung melaksanakan perintah tuannya.
"Lalu bos bagaimana dengan dalangnya?" tanya Sean yang sedari tadi diam saja.
"Apa perlu aku jebloskan ke penjara." lanjutnya.
"Jangan dulu, itu biarkan aku yang mengurusnya."
"Oke kalau begitu."
"Bos kata David bos udah nikah." celetuk Felix tiba-tiba.
"Bos bukan aku bos!" bantah David cepat.
"Kapan aku ngomong bos udah nikah." ujarnya geram lalu memukul belakang leher Felix.
__ADS_1
"Akh…sakit gila."