Istri Kecil Tuan Muda Xavier

Istri Kecil Tuan Muda Xavier
Bab 27


__ADS_3

Setelah beberapa jam istirahat, kini Keira terbangun dari tidurnya dia ingin buru-buru membersihkan tubuhnya yang lengket oleh bau keringat. Badannya juga terasa lebih baik, mungkin karena obat yang diberikan oleh dokter sangat manjur.


Saat Keira ingin bangun dari tempat tidur, dia merasa tangan kirinya sangat kaku dan berat. Menoleh ke samping, Keira melihat Shaka yang sedang tertidur pulas di sisinya. Wajahnya yang imut membuat dia merasa gemas, bulu matanya yang panjang terlihat lentik dengan pipi gembulnya yang terlihat merah merona, bibirnya yang berwarna pinknya terbuka sedikit saat tertidur.


Melihat putranya yang tertidur sangat nyenyak, Keira tidak tega untuk membangunkannya. Sebelum beranjak dari kasur, Keira mencium kening putranya sekilas. Dia kemudian dengan hati-hati turun dari ranjang, karena takut membangunkan anaknya. Lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang basah oleh keringat.


Setelah beberapa menit di kamar mandi, kini Keira berjalan keluar dengan tubuh yang segar dan fresh. Pakaiannya pun sudah diganti menjadi yang lebih nyaman, piyama pendek berwarna hitam dengan garis putih di sisi-sisinya. Yang menampilkan tangannya yang ramping dan kaki jenjangnya yang putih bersih seperti susu.


"Ibu…." tangis Shaka pecah saat melihat Keira berdiri di hadapannya. Wajahnya yang lucu saat ini berlinang air mata.


Saat Shaka bangun, dia tidak melihat Keira berada di sisinya. Dia sangat panik dan takut, takut Keira meninggalkan dirinya dan menghilang seperti orang tua kandungnya.


Melihat putranya yang menangis, Keira langsung panik dia tidak tau alasan kenapa anaknya menangis. Tapi, Keira dengan cepat berjalan ke tempat tidur, lalu memeluk putranya dan memangkunya.


"Sayang kenapa nangis, hm?" Keira menghapus tetesan air mata di pipi Shaka dengan lembut.


"Kenapa Ibu pergi, kenapa gak bangunin Shaka, Ibukan lagi sakit, "rajuk Shaka dengan suara serak, karena sehabis menangis.


Kepalanya bersandar di pundak Keira, lalu melingkarkan tangannya yang kecil dan gemuk di pinggang ramping ibunya.


"Maaf sayang, Ibu tidak tega bangunin Shaka yang sedang tidur, lagian Ibu hanya pergi mandi sebentar," jelas Keira merasa bersalah.


Lalu mengusap punggung Shaka dengan lembut dan mencium keningnya bertubi-tubi, mencoba untuk menenangkan emosinya yang tidak stabil.


"Tapi, kenapa Ibu mandi. Ibukan lagi sakit, bagaimana kalau Ibu masuk angin. Shaka gak mau lihat Ibu sakit," ujar shaka sangat khawatir dengan kondisi Ibunya.


Mendengar perhatian dari anaknya, hati Keira terasa hangat. Dengan senyum manis, Keira membelai kepala putranya, lalu berucap lembut.


"Ibu mandi karena badan Ibu sangat gerah. Juga, sekarang ibu tidak papa, tubuh ibu sudah lebih baik. Jadi Shaka gak usah khawatir sama Ibu."


"Benarkah, Ibu sudah mendingan?" tanya Shaka memicingkan matanya curiga.


"Benar coba periksa." Keira mengambil tangan Shaka lalu meletakkannya di keningnya.

__ADS_1


"Bagaimana, panas Ibu sudah turunkan."


Keira tidak berbohong, badannya sudah lebih baik dibandingkan tadi pagi yang terasa sangat panas seperti direbus di air panas yang sudah mendidih.


"Hebat! panas Ibu sudah turun," ucap Shaka sangat bersemangat, dia memeluk tubuh Ibunya erat.


Dia senang sekarang Ibunya baik-baik saja, tidak seperti pagi tadi yang badannya sangat panas.


"Ibu jangan sakit lagi," gumam Shaka sedih.


Dia tidak mau melihat ibunya seperti tadi, terbaring lemah tak berdaya dengan wajah pucat. Seperti akan menghilang di detik itu juga.


"Ya, Ibu janji gak akan sakit lagi. Tapi, Shaka juga harus janji gak boleh sedih oke?"


"En," gumam Shaka menganggukan kepalanya.


Interaksi harmonis antara Ibu dan putranya terganggu, saat seseorang membuka pintu kamar secara tiba-tiba.


Keira dan Shaka secara kompak menoleh ke arah pintu, untuk melihat siapa yang membuka pintu tiba-tiba. Setelah membuka pintu kamar, Xavier langsung masuk dengan kursi rodanya menuju ke arah ibu dan anak itu yang sedang menatapnya dengan polos.


Dirasa panasnya sudah turun, Xavier menghela nafas lega. Dia kemudian mengusap rambut halus Keira dengan tangannya yang besar.


"Syukurlah panasnya sudah turun."


"Ke depannya jangan sakit lagi, hm. Mas khawatir kalau kamu sakit," ucap Xavier lembut.


Tersentuh oleh perhatiannya, wajah Keira terasa panas. Dia tidak menyangka, kalau pria dingin dan kejam seperti suaminya akan mengucapkan kata-kata lembut seperti itu.


Mungkin pada saat ini pipinya sudah merah merona, tidak ingin dilihat oleh suaminya Keira memalingkan mukanya ke arah lain. Namun, dia kalah cepat oleh suaminya yang sudah melihat wajahnya yang memerah.


"Ada apa dengan wajahmu, apa kamu sakit lagi?" ucap Xavier dengan raut wajah khawatir, dia menangkup pipi Keira untuk melihat ke arahnya.


Melihat wajah tampan dan sempurna suaminya dari dekat, wajah Keira lebih merah lagi seperti tomat. Dia merutuki dirinya yang terlalu bodoh.

__ADS_1


Dasar bodoh, kenapa aku harus terpesona oleh wajah tampan Xavier, sih. Bikin malu saja.


"Bu-bukan i-ini… i-ini…." Sebelum ucapannya selesai dia sudah terpotong oleh tangisan Shaka.


"Tuhkan Ibu sakit lagi, ibukan udah janji gabakalan sakit," ucap Shaka panik, matanya yang bulat mulai berkaca-kaca.


Melihat putranya akan nangis, Keira sangat panik dia buru-buru menjelaskan.


"Bukan Shaka dengarkan Ibu, Ibu…."


"Keenan!" teriak Xavier dingin, memotong perkataan Keira.


Mendengar penjelasannya terpotong lagi, Keira hanya pasrah. Biarkan kesalah pahaman ini berlanjut entah sampai mana.


...----------------...


"Panasnya sudah turun, Nyonya Keira hanya butuh istirahat untuk memulihkan tubuhnya kembali," jelas Keenan setelah memeriksa keadaan Keira.


Setelah kesalah pahaman yang terjadi, pada akhirnya Keira diperiksa lagi oleh Dokter. Dia tidak menyangka ternyata Dokter yang mengobatinya akan menjadi orang yang dikenalnya. Sebenarnya saat dia disuntik, Keira tidak tau Dokternya siapa, karena pada saat itu matanya hanya terpejam tidak mau membuka mata.


"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Keira penasaran saat melihat Keenan yang berdiri di samping ranjangnya.


"Karena aku dipanggil suamimu untuk datang ke sini," jawab Keenan tersenyum lembut.


"Maksudnya, kalian…." Keira menatap dua pria itu bingung.


"Ya, kami saling mengenal," jawab Xavier, menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh istrinya


Dia tidak suka melihat interaksi istrinya dan pria lain di depannya yang membuat hatinya terasa panas.


Mendengar nada asam Bosnya, Keena hanya memutar bola matanya malas. Dia tidak tau kalau pria seperti Bosnya akan cemburuan.


"Aku tidak menyangka ternyata kalian saling kenal." Keira merasa takjub, ternyata Dokter terkenal dan jenius itu mengenal Xavier.

__ADS_1


Kalau begitu dia akan gampang membujuk Xavier untuk mengobati kakinya. Dia bukan menyesal atau malu menikahi pria lumpuh, tapi Keira hanya ingin melihat Xavier bahagia. Dia ingin melihat Xavier yang berdiri kokoh dengan punggung yang tegak seperti sebelumnya.


Dia tidak ingin melihat Xavier yang dipandang rendah oleh orang lain. Keira ingin melihat Xavier kembali lagi menjadi Presdir yang sangat mendominasi yang pernah dia lihat di berita keuangan internasional.


__ADS_2