Istri Kecil Tuan Muda Xavier

Istri Kecil Tuan Muda Xavier
Bab 60


__ADS_3

"Akh sial! Apa maksud ayah tidak mengganggu mereka, apa menurutnya aku seorang pengganggu!"


"Lagi pula apa salahnya, aku hanya ingin merebut kembali apa yang pernah menjadi milikku!"gerutu Clara kesal ketika memikirkan  perkataan ayahnya. 


Karena suasana hatinya sedang buruk dia tanpa sadar menambah kecepatan mobilnya. Untung saja jalanan di sini cukup sepi tidak banyak kendaraan yang lewat, kalau tidak mungkin dia akan kecelakan.


Saat perhatiannya tidak fokus mendadak dua orang muncul di depannya Clara secara reflek menginjak rem dan menekan klakson. Karena pengaruh inersia kepalanya secara tidak sengaja membentur setir mobil membuat dia mendengus kesakitan. 


"Sialan!"


Dengan tampang geram Clara turun dari mobil memandang dua orang yang duduk di tanah dengan tubuh gemetar. 


"Apa kalian tidak lihat, buta hah! Bagaimana kalau mobilku rusak kalian bisa ganti rugi?!"ucap Clara dengan nada menghina saat melihat pakaian lusuh mereka. 


"Sialan!"


Tidak memperhatikan mereka lagi Clara segera memeriksa body mobil depannya, melihat tidak ada yang salah dia menghela nafas lega. Ini adalah mobil kesayangannya, dan dia harus menunggu beberapa tahun untuk mendapatkannya. 


Tommy membantu istrinya berdiri, tubuh mereka masih terasa lemas, jantung mereka seakan berhenti berdetak saat hampir tertabrak oleh mobil tapi untungnya mereka baik-baik saja. 


Mendengar perkataan menghina wanita modis di depannya Maya merasa terhina, apa-apaan wanita ini mentang-mentang dia kaya seenaknya berbicara seperti itu pada mereka. 


"Ayo pergi,"ajak Maya pada suaminya tidak ingin mempedulikan wanita itu. 


"Oke, kita tidak punya banyak waktu." Tommy membantu memapah istrinya pergi.


Melihat mereka akan pergi Clara buru-buru menghalangi jalan mereka dengan wajah tidak puas. 


"Jangan mencoba kabur cepat minta maaf!"


"Maaf? Maaf apa! Kamu yang harusnya minta maaf bukan kami!" Maya memandang wanita yang menghalangi jalannya dengan tidak senang. 


"Aku? Hah…" Seperti mendengar lelucon Clara menunjuk dirinya sendiri sambil tertawa terbahak-bahak. 


"Kualifikasi apa yang kamu milik hingga aku harus minta maaf padamu, hah? Lihat gara-gara kalian dahi ku terluka." Clara menunjukkan dahi mulusnya yang terluka kepada mereka. 


"Cepat minta maaf apa susahnya itu tidak seperti aku memintamu untuk membayar ganti rugi,"cibir Clara. 

__ADS_1


"Kamu!" Tunjuk Maya dengan tangan  gemetar karena marah. Dia benar-benar ingin mencakar wajah arogan wanita ini. 


Tommy segera menenangkan istrinya sebelum dia bertindak terlalu jauh. Meskipun dia  tidak puas dengan perilaku arogan wanita di depannya dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena dilihat dari penampilan wanita ini, dia bukan orang yang mudah diprovokasi oleh mereka. 


Dan bagaimanapun juga, sekarang mereka tidak punya waktu untuk mengurus hal sepele seperti ini. Mereka harus segera menemukan anak itu! 


"Nona ini kami minta maaf, ini salah kami karena tidak hati-hati dalam menyeberang, sekali lagi kami minta maaf." Tommy memaksa istrinya untuk membungkuk agar terlihat lebih tulus dan permasalahan ini cepat selesai. 


Walaupun Maya tidak senang dia tidak punya pilihan lain selain membungkuk pada wanita itu dengan penuh kebencian bersama suaminya. 


Clara sangat puas melihat kedua orang ini patuh, tunduk padanya dan suasana hatinya yang buruk sedikit membaik. 


"Bagus, kalian bisa pergi." 


"Terima kasih."


Clara berjalan menuju mobilnya tapi sebelum sampai di mobilnya dia seperti menginjak sesuatu, melihat ke bawah sebuah poto kecil terinjak di kakinya. Dengan sedikit penasaran Clara membungkuk mengambil poto itu, melihat wajah yang dikenalnya senyum miring muncul di wajah cantiknya dengan cahaya licik di mata indahnya. 


"Karena aku tidak bisa membuat masalah, mungkin mereka bisa." 


"Berhenti!"perintah Clara sedikit berteriak pada dua orang yang berjalan tidak jauh darinya. 


Mendengar teriakan di belakangnya mereka sama sekali tidak berhenti dan terus melanjutkan langkah mereka. 


"Di mana lagi kita harus mencari anak itu?"keluh Maya sedikit kesal, sudah dua hari mereka mencari anak itu di tempat terakhir kali mereka meninggalkannya. 


"Aku tidak tahu, ayo cari sampai dapat."


"Jika aku tau anak ini berguna, aku tidak akan meninggalkannya."


Melihat mereka tidak berhenti Clara mengerutkan keningnya tidak senang, jika bukan karena ini dia tidak akan repot-repot memperhatikan urusan mereka. 


"Jika kalian tidak berhenti, aku tidak akan memberitahu di mana anak ini!" Tepat setelah ucapannya selesai Clara melihat mereka  berhenti dan menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung. 


"Aku tahu di mana anak yang kalian cari!"katanya dengan senyum licik. 


°°°°

__ADS_1


"Bu kamu kembali!" Shaka segera berlari ke arah Keira dengan ekspresi bahagia meninggalkan pamannya bersama mainannya di ruang keluarga. 


"Ya, lihat apa yang Ibu bawa." Keira menyodok pipi Shaka yang sangat lembut dan menggantung kue yang dibungkus rapi di hadapan Shaka untuk menggodanya. 


Mencium wangi harum dari tas itu Shaka langsung ngiler, dia tidak sabar untuk segera membukanya dan melihat apa yang ada di dalamnya. 


"Baunya sangat enak, Bu ayo buka aku ingin melihat isinya,"ujar Shaka semangat sambil menatap ibunya dengan mata berbinar. 


"Oke." Keira menuntut putranya menuju ruang makan dan membuka kantong plastik itu dibawah tatapan penasaran Shaka. 


"Wow Bu apa kue ini untuk aku,"kata Shaka saat melihat kue coklat kecil yang dihiasi strawberry di atasnya.


"Mm, kamu bisa memakannya bersama paman William,"balas Keira mengusap lembut surai pendek putranya. 


"Aku juga akan berbagi dengan Ibu."


"Tidak perlu Ibu sudah memakannya, sana makan berdua sama paman."


"Benarkah?"


"Iya, cepat kembali."


"Oke, terima kasih Bu!" Sebelum Shaka pergi dia terlebih dahulu mengecup pipi ibunya dengan manis. 


Mendapat kecupan manis dari putranya Keira tersenyum tak berdaya. Saat dia hendak pergi ke kamar untuk beristirahat tiba-tiba bi Eli datang dari luar dengan ekspresi rumit. 


"Ada apa Bi?"tanya Keira ketika melihat wajah bi Eli seperti ingin mengatakan sesuatu padanya namun tampak ragu-ragu. 


"Itu Nyonya… di luar ada orang yang mencari Tuan kecil."


"Siapa? Apa teman sekolahnya?"


"I-itu… bukan, yang mencarinya dua orang dewasa."


"Orang dewasa? Siapa?"tanya Keira heran. 


"Katanya… orang tua kandung."

__ADS_1


__ADS_2