
Keesokan harinya, April menyimpan barang pemberian sang adik didalam tas. Rasanya aneh sekali kemana mana harus membawa alat pelindung diri seperti lada bubuk dan tongkat listrik, tapi Juli akan marah kalau April menolak membawanya.
Di sudut jalan, saat April sedang menunggu angkutan umum lewat. Mobil milik Januar tiba tiba muncul dan berhenti didepannya. Januar membuka pintu dan memberi kode pada April untuk masuk, April tak berani menolak, dia menuruti perintah suami rahasianya itu.
"Nanti jangan berhenti didepan toko ya, aku takut teman dan Bos ku curiga," ucap April.
"Iya." Sahut Januar singkat.
"Sudah sarapan belum?" Tanya Januar.
"Sudah, Tuan sendiri bagaimana?" Tanya April balik.
"Sudah,"
Pandangan mata April mengarah pada leher Januar yang dipenuhi oleh bekas tanda merah. Tubuh April mendadak panas, dadanya terasa sesak hingga sulit untuk bernafas. Jelas sekali Januar dan istrinya habis bermain panas semalam, April memasang wajah tidak suka.
"Ada apa?" Tanya Januar saat melihat ekspresi wajah April berubah.
"Apa istri Anda ada dirumah semalam?" Tanya April.
"Ada, dia baru saja pergi ke luar kota tadi," sahut Januar.
"Kenapa memangnya?"Tanya Januar lagi.
"Pantas banyak tanda kepemilikan dimana mana," April melipat kedua tangannya di perut sambil cemberut.
Januar tersadar, semalam Mei menggigitnya beberapa kali diarea leher pasti banyak meninggalkan bekas disana. Januar tersenyum, dia senang karena sepertinya April cemburu.
"Kenapa aku harus marah padanya? Aku kan hanya istri simpanannya saja!"
April membuang muka, dia menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi kegelisahan yang sedang melanda jiwanya. Diluar dugaan, Januar membawa mobilnya ke suatu tempat yang sepi dan memarkirkannya disana.
"Loh, kenapa kita jadi kesini? Bukannya Tuan mau mengantar aku ke tempat kerja?" April menatap wajah Januar lekat lekat.
__ADS_1
Tanpa basa basi, Januar menyambar bibir April dan menghujaninya dengan ciuman panas. April tak bisa melawan, dua hari tak di jamah oleh Januar membuatnya rindu pada sentuhan pria itu.
"Aku suka melihat wajahmu yang cemburu, sangat seksi," bisik Januar.
"Untuk apa aku cemburu? Aku ini... Hanya istri kontrak Anda... Tuan," ucap April terputus putus.
Pertempuran kilat antara Januar dan April terjadi, meski tempat dan situasi kurang memadai, keduanya masih bisa menuju puncak langit ke tujuh bersama sama.
🍄🍄🍄
Tiba di toko, April melangkah lemas. Beberapa tetes keringat masih menempel di kulitnya, sisa permainan panasnya dengan Januar tadi. Pria itu memang gila, pagi hari, ditempat terbuka, masih saja mencuri waktu untuk menikmatinya. Dan parahnya, April suka.
April senyum senyum sendiri seperti orang gila, dia terus membayangkan permainan kilatnya dengan Januar tadi.
"Habis kesambet setan mana kamu?" Celetuk Novi sambil menepuk pundak April.
"Sembarang saja kalau bicara," April kesal.
"Lah itu senyum senyum sendiri, apa namanya kalau bukan kesambet setan?" Novi tertawa.
Keduanya berhenti bercanda saat Bos mereka masuk kedalam toko. Sonia menatap April dan Novi tajam, memastikan dua pegawainya itu bekerja dengan serius. Dua sahabat itu langsung berpura pura rajin dengan mengelap dan menata barang jualan yang ada di rak display.
"Dia judes sekali," bisik April lirih.
"Mungkin dia kesambet setan kuyang dijalan tadi," seloroh Novi. April tertawa geli, bekerja dengan teman kelewat lawak memang sangat menyiksa kewarasan otaknya.
Di dalam ruangan pribadinya...
Sonia merasa April ada main dengan pria kaya suami dari langganan tokonya itu. Sepertinya pria itu mata keranjang, pasti sangat mudah untuk mendekatinya.
Jujur saja, Sonia tertarik pada pria yang belum dia ketahui namanya itu. Sayang dia sudah beristri dan membuat Sonia kecewa. Tapi melihat Pria itu bersama April membuat Sonia bersemangat untuk mencoba menjadi seorang pelakor.
"Aku jauh lebih cantik dan lebih berpengalaman dari April, harusnya pria itu akan mudah aku taklukan," Sonia tertawa lirih.
__ADS_1
Terlalu lama sendiri dan kesepian membuat otak Sonia geser, dia selalu iri melihat kebahagiaan teman teman dan pegawainya bersama pasangan mereka. Saking irinya, Sonia sampai ingin merebut dan merusak kebahagiaan mereka.
Tok... Tok... Tok...
April mengetuk pintu, dia mengantar secangkir kopi untuk bosnya itu.
"Masuk," ucap Sonia. April masuk dan meletakan kopi untuk Sonia diatas meja.
"April, pria yang tempo hari mengantarmu ketempat kerja siapa namanya?" Sonia terang terangan.
"Tuan Januar," sahut April.
"Oh... Januar," Sonia manggut manggut.
"Ada apa memangnya?" April penasaran.
"Tidak apa apa, kamu kembali saja bekerja." Usir Sonia.
April memiliki firasat buruk, jangan jangan Bosnya menyukai Januar dan memiliki niat tertentu padanya. Ah, kenapa juga April menjadi over protektif pada Januar? Jangan jangan April memang mulai jatuh cinta pada pria itu?
Novi meminta April membantunya menyusun barang dagangan di rak display, mereka bekerja sama dan bahu membahu dalam merapihkan isi toko itu. Harusnya Sonia merasa bersyukur karena bisa memiliki karyawati yang kompak seperti mereka, mencari pegawai seperti itu di zaman sekarang ini cukup sulit.
April dan Novi sama sama tahan banting, meski Sonia sering memarahi dan mencaci mereka tetap saja dua sejoli itu betah bertahan bekerja pada Sonia.
"Dia tanya apa sama kamu tadi? Wajahmu jadi cemberut seperti itu," seloroh Novi.
"Dia bertanya soal Tuan Januar, mantan majikan mendiang Ibuku. Sepertinya dia suka pada pria itu," sahut April.
"Seperti tidak ada pria lain saja yang masih lajang, Bosmu itu aneh,"
"Dia juga Bosmu tau, bukan hanya Bosku saja,"
April dan Mei tertawa bersama sama.
__ADS_1
Bersambung...