Istri Simpanan Tuan Januar

Istri Simpanan Tuan Januar
Bab 19


__ADS_3

Tiga hari berlalu...


Januar tak kunjung pulang kerumah, April memberanikan diri untuk menelfon dan menanyakan kabar pria itu. Tapi ternyata yang mengangkat telfon itu adalah Mei.


"Jangan ganggu suamiku lagi, kami sedang berbahagia karena saat ini aku sedang hamil," ujar Mei.


Kalimat itu sungguh menusuk jantung April, sakitnya sampai terasa ke organ tubuhnya yang lain. April menangis, dia tak kuat menahan sengatan cemburu yang begitu besar merangkul jiwa raganya.


Pantas saja Januar langsung mengabaikan April, ternyata Mei sedang mengandung buah hatinya. Januar pasti sangat bahagia saat ini, terlebih mereka berdua telah membina rumah tangga lumayan lama. Kehadiran anak sudah pasti sangat dirindukan oleh pria itu.


"Maafkan aku, aku menelfon hanya untuk bertanya kabar saja. Aku tidak bermaksud mengganggu siapapun," ucap April sambil menahan tangis.


"Aku tidak punya waktu untuk mengobrol lama denganmu, kami berdua sedang sibuk. Jadi maaf, aku matikan dulu ya telfonnya." Ucap Mei dengan nada sombong dan angkuh.


Klik...


Mei mematikan telfon, April langsung terduduk lemas diatas kursi. Dia mengingat janji Januar untuk menjadikan dirinya istri satu satunya, sepertinya janji itu tidak akan pernah dia tepati.


Ayolah April, apa yang kamu harapkan dari seorang Tuan muda kaya? Cinta suci, murni dan tulus? Hal itu tidak akan pernah April dapatkan.


Rasanya seperti baru saja terbangun dari mimpi indah, kenyataan itu begitu pahit April rasakan. Kecewa, perih dan sakit hati bercampur menjadi satu. Kini April tidak bisa melakukan apapun kecuali menerima nasibnya saja.


Entah dari mana, sebuah ide konyol muncul dibenak April. Apa dia lepas KB saja agar bisa hamil seperti Mei? Agar Januar perhatian dan sayang lagi pada April. Sejak awal menikah, April memang memakai alat kontrasepsi agar tidak hamil.


Tapi pemikiran itu adalah hal yang bodoh, iya kalau Januar jadi perhatian dan sayang padanya. Kalau tidak bagaimana? Bisa makin merana dan suram masa depannya.


Juli pulang sekolah, dia melihat mata Kakaknya sembab dan merah seperti habis menangis.

__ADS_1


"Kak, apa yang terjadi? Kenapa Kakak menangis?" Tanya Juli menangis.


"Aku tidak kenapa napa, hanya teringat pada mendiang orang tua kita saja," April berbohong. Tentu saja Juli tidak percaya, Juli adalah gadis pintar dan cerdas.


"Pasti karena Kak Januar kan?" Tebak Juli.


"Bukan," sahut April.


"Jangan bohong, akhiri saja pernikahan kontrak kalian kalau memang Kakak sudah tidak sanggup lagi," lanjut Juli.


"Jika waktunya tiba, aku pasti akan mengakhiri segalanya. Kamu tenang saja." Ucap April pada Juli.


Entah mengapa Juli merasa tidak percaya dengan janji April, terlebih Juli bisa melihat dengan jelas kalau April menyukai Tuan Januar.


🍄🍄🍄


Dirumahnya, Januar sibuk bermain ponsel. Dia melihat ada telfon masuk dari April dan dia tidak tau soal itu. Januar menduga kalau Mei mengangkat telfon dari April, wanita ular itu pasti telah mengatakan sesuatu yang tidak baik pada April.


Januar memakai jas kebanggaannya, menyisir rambut dan memakai sepatu berwarna hitam pekat.


"Kamu mau kemana?" Tanya Mei.


"Bukan urusanmu!" Ucap Januar.


"Tentu saja jadi urusanku, aku istrimu. Aku sedang hamil, aku rela berhenti berkarir untuk mengandung dan merawat darah daging mu," ucap Mei.


"Oh... Jadi kamu sedang mengungkit jasamu? Apa perlu aku membayar semua itu?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak, tapi temani aku disini dan jangan pergi kemanapun,"


"Kamu tidak berhak mengaturku Mei, sekalipun kamu adalah istriku. Karena kamu bukanlah istri satu satunya yang aku punya," ucap Januar pedas.


Januar melangkah keluar kamar, Mei mengamuk dengan melempar vas bunga kearah kaca.


"Aaaaaaa.... Pria brengsek! Aku benci padamu!" Maki Mei.


Januar sama sekali tidak peduli jika Mei mengamuk, dia sudah berjanji akan bersikap adil pada April. Januar harus menepati janjinya, kalau tidak April akan marah kepadanya.


Tiba dirumah April, Januar langsung mencari keberadaan wanita itu. Ternyata April sedang pergi ke luar rumah untuk membeli martabak telur kesukaan adiknya.


"Mau apa Kakak kesini?" Oceh Juli.


"Terserah aku mau kesini atau tidak, kenapa kamu sewot?" Sahut Januar ketus.


"Kalau Kakak kesini hanya untuk membuat Kak April sedih, lebih baik Kakak pulang saja. Gara gara Kakak, Kak April menangis semalaman, dia juga tidak makan dan minum sampai tubuhnya lemas," tutur Juli.


Januar terdiam, dalam diamnya dia menyalahkan dirinya sendiri. Jika sampai terjadi sesuatu pada April karena dirinya, Januar tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


"Aku pulang," ucap April sambil menenteng sebuah plastik berwarna putih. April kaget karena Januar ada disana tanpa mengirim pesan kepadanya terlebih dahulu.


"Tuan datang kenapa tidak bilang bilang?" Ucap April. Januar memeluk tubuh April erat, dia mengusap rambutnya dan mengecup keningnya mesra.


"Maafkan aku, aku terlalu sibuk mengurus Mei yang sedang hamil muda. Jadi aku tidak ada waktu untuk pulang ke rumah ini," bisik Januar.


"Tidak apa, aku bisa mengerti." Sahut April santai.

__ADS_1


Sebisa mungkin April berusaha bersikap tenang, dia tidak ingin rasa cemburu dan sakit hatinya terlihat jelas oleh Januar. Selain takut mengganggu kebahagiaan Januar, April juga tidak ingin terlihat lemah dan tak berdaya dimata suaminya itu.


Bersambung...


__ADS_2