Istri Simpanan Tuan Januar

Istri Simpanan Tuan Januar
Bab 51


__ADS_3

April bangun lebih pagi dengan perasaan ceria, segar dan bugar. Dia senang karena telah memberi pelajaran pada pelakor dan berhasil membuatnya malu. Sekarang, dia tidak akan berani mendekati prianya lagi.


Juni menatap kagum pada Kakaknya, dia tak menyangka seorang April memiliki keberanian tingkat tinggi untuk menaklukan pelakor di bawah Kakinya. Rasa percaya diri dalam jiwa Juli harus lebih ditingkatkan lagi, agar kelak dia memiliki keberanian ekstra seperti April.


"Kak, aku minta uang tambahan untuk bayar les. Sebentar lagi aku mau UN," ucap Juli.


"Iya, nanti aku kasih,"


"Ngomong ngomong, video Kakak yang kemarin viral loh,"


"Bagus itu, agar kaum pelakor tidak berani macam macam pada istri sah,"


"Kakak, bisa saja." Juli tertawa geli. Ucapan Kakaknya terdengar seperti lawakan di telinga Juli.


Pagi itu, tak seperti biasanya Juli membantu April menyiapkan sarapan. Dia juga membantu mencuci piring dan gelas kotor sebelum berangkat ke sekolah. Mungkin Juli merasa tidak enak pada sang Kakak karena telah meminta jatah uang bulanan lebih banyak dari sebelumnya.


April menyodorkan sejumlah uang pada Juli, uang itu adalah pemberian Januar untuk biaya pendidikan dan uang saku Juli. Januar sangat peduli pada adik iparnya, Juli harusnya merasa sangat bersyukur bisa memiliki Kakak ipar seperti Januar.


"Kakak sudah bilang pada Kak Januar?" Tanya Juli. Dia sedikit merasa tidak enak hati.


"Sudah, kamu tenang saja,"


"Dia tidak marah kan?"


"Kenapa harus marah? Aku dan kamu adalah Tanggung jawabnya.


"Kita harus baik baik pada pria itu, jangan sampai mengecewakan dia," celetuk Juli.


"Hem... Kamu sudah mulai bisa mendewakan seseorang yang memberimu uang ya," ledek April.


"Bukan begitu, aku hanya takut dia menyetop uang bulanan ku sebelum aku lulus sekolah." Juli meringis.

__ADS_1


Juli pergi ke sekolah, suasana rumah menjadi sedikit hening dan sepi. Januar masih tidur, daripada bingung mau melakukan apa, April ikut tidur lagi dengan Januar.


🍄🍄🍄


Siang hari, Januar menggeliat dan mendapati April sedang tidur di sisinya.


"Hey, Ibu hamil tidak boleh tidur di pagi hari," omel Januar.


"Tapi kamu tidur terus sepanjang hari,"


"Aku sedang malas bekerja, aku ingin beristirahat dengan tidur dirumah seharian,"


"Ini tidak adil, bagaimana bisa kamu boleh tidur aku tidak?" April marah.


Januar memeluk April, menciumnya dan menarik hidungnya. Sebuah kebiasaan yang wajib Januar lakukan saat merasa gemas pada istrinya. Rasa cinta dan sayangnya untuk wanita itu semakin terasa saat mereka menghabiskan waktu untuk bercengkrama berdua.


"Masak apa kamu hari ini sayang?" Tanya Januar.


"Rica rica hati pelakor," sahut April asal.


"Cepat mandi, aku akan menyiapkan makanan untukmu!" Perintah April.


"Oke, siap!"


🍄🍄🍄


Pulang sekolah, Juli membawa satu porsi pentol mercon untuk April Kakaknya. Jajanan sekolahan yang sangat disukai oleh April sejak dulu. Juli memberikan itu secara diam diam pada April agar tidak ketahuan oleh Januar dan dimarahi olehnya.


"Terimakasih sayang, kamu sudah membelikan aku jajanan ini," ucap April.


"Sambalnya aku kurangi agar tidak terlalu pedas, Ibu hamil muda makannya harus hati hati," ucap Juli.

__ADS_1


"Iya, tentu saja. Kamu memang adikku yang paling perhatian." April mengukir senyum.


April menyantap jajan kesukaannya itu dengan lahap, sesekali dia menoleh kearah pintu dapur untuk mengawasi kalau kalau suaminya tiba tiba datang.


"Makannya pelan pelan, Kakak ipar sedang sibuk mengobrol dengan tetangga di teras, dia tidak akan masuk ke dapur dalam waktu cepat," ucap Juli.


"Mencegah itu lebih baik sayang daripada menyesali, kalau dia tau aku jajan sembarangan seperti ini bisa habis aku diomeli oleh pria bangkotan itu," celetuk April.


"Siapa yang dimaksud dengan pria bangkotan? Apa itu aku?" Januar masuk ke dalam dapur dan berjalan menghampiri April. Secepat kilat April melempar bungkus pentol merconnya pada Juli dan Juli berpura pura memakannya.


"Kakak ini apa apaan, datang datang sudah bicara yang bukan bukan saja!" Juli meringis. Dia mencoba untuk menutupi kesalahan Kakak perempuannya.


"Lalu, siapa pria bangkotan yang sedang kalian bicarakan jika buka aku?" Januar menatap April dan Juli secara bergantian.


"Dia salah satu guru di sekolahku," sahut Juli bohong.


April merasa bersalah karena Juli terpaksa harus berbohong untuk menyelamatkannya. Bagaimanapun, Juli adalah anak baik. Dia jarang sekali menyakiti perasaan orang lain apa lagi berbohong.


"Oh, begitu. Ngomong ngomong, kapan kamu akan UN Juli?" Januar menarik kursi dan duduk disisi April.


"Bulan depan, kenapa memangnya?"


"Setelah lulus SMA, rencananya kamu mau kuliah dimana?" Tanya Januar lagi.


"Aku mau kerja saja, biar bisa cari uang seperti Kakak," Juli memang sudah penat dengan berbagai macam tugas sekolah. Dan dia tidak memiliki cita cita selain menjadi orang yang banyak uang.


"Menikah saja dengan orang kaya, jadi kamu tidak perlu bekerja mencari uang. Dasar pemalas!" Omel Januar.


"Kamu itu masih muda, harus punya cita cita yang bagus. Lulus SMA kuliah ke univ favorit, kalau perlu ke luar negri. Buat Kakak semata wayangmu bangga dengan prestasimu," Lanjut Januar.


"Ya... Bagaimana besok saja deh, aku sungguh tidak memiliki minat untuk sekolah lagi," ucap Juli.

__ADS_1


April mengusap bahu Januar, seolah meminta pria itu untuk bersabar saat berbicara dengan Juli. Sama seperti Januar, April sangat ingin Juli sekolah lagi. Tapi mereka harus membujuk pelan pelan, tidak boleh memaksa.


Bersambung...


__ADS_2