Istri Simpanan Tuan Januar

Istri Simpanan Tuan Januar
Bab 33


__ADS_3

Menjadi janda itu tidak enak, tidur sendirian, tidak memiliki teman berbincang dan berbagi. Menjadi janda juga harus bisa memiliki kesabaran seluas samudra, khususnya saat ada tetangga, sahabat, dan saudara menggunjing dibelakang.


Terkadang jadi janda itu serba salah, tidak menegur sapa saat bertemu dibilang sombong. Tapi kalau menegur dan melempar senyum ramah dibilang genit. Mei sudah tidak mau ambil pusing dengan ocehan orang orang disekitarnya, toh dia tidak minta makan atau menyusahkan hidup mereka.


Mei duduk di teras rumahnya, dia mengamati sang Ayah yang sedang melayani pembeli roti bakar. Gerobak roti bakar milik Ayahnya akhir akhir ini lumayan ramai, hampir semua pembeli rata rata pria.


Mei bukannya tidak mau membantu sang Ayah saat pembeli sedang ramai, hanya saja ayahnya tidak membolehkan Mei membantu karena takut dia digoda oleh pria pria disana. Mei mulai merasa jenuh karena tidak memiliki aktifitas lain selain makan, tidur dan mandi. Mungkin sudah waktunya dia berwira usaha dan belajar hidup mandiri.


"Pak, itu anaknya ya?" Tanya seorang pembeli.


"Iya, itu anakku. Dia baru pulang dari Jakarta," sahut Agung.


"Suaminya mana? Kok tidak kelihatan?"


"Dia janda, baru cerai sama suaminya,"


"Suaminya pasti bodoh, wanita cantik seperti itu kok dilepas. Buat aku saja ya Pak anaknya?"


"Jangan dong, kan belum lewat masa idah. Lagi pula dia belum tentu mau sama kamu," sahut Agung dengan nada bercanda.


Sejak berita perceraian Mei tersebar, tak terhitung jumlah pria yang melamar Mei pada Agung. Tua, muda, bujang, duda, bahkan juga ada yang masih berstatus suami orang berlomba lomba mendapatkan Mei.


Latar belakang mereka pun berbeda, ada pengusaha, petani, tukang bangunan, ada juga yang mahasiswa. Semua Agung tolak secara halus karena belum setuju Mei membina rumah tangga lagi.


Dulu, Agung yang menjodohkan Mei dengan Januar. Dia tidak mau menjodohkan Mei lagi karena takut hal yang sama akan terulang lagi. Biarlah Mei yang mencari jodohnya sendiri, jika sudah waktunya pasti akan bertemu juga.


Selesai berjualan, Agung menemui Mei yang sedang menyiram tanaman di halaman belakang. Dia mengajak Mei makan siang bersama dan wanita itu menyetujuinya.


"Nak, kamu masak apa hari ini?" Tanya Agung pada Mei.

__ADS_1


"Ayah kan tau aku tidak bisa memasak, aku hanya membuat ceplok telor saja,"


"Hah, kamu ini. Belajar masak dong, masa wanita tidak bisa memasak!"


"Ya... Mau bagaimana lagi? Aku takut kulitku terkena cipratan minyak dan bumbu dapur,"


"Nak, kamu tidak tau jodohmu nanti akan seperti Januar apa tidak. Kalau kamu bertemu dengan pria biasa, kamu harus bisa memasak dan beres beres rumah. Kalau tidak bisa ditinggal suamimu lagi nanti, zaman sekarang modal cantik saja tidak cukup!" Agung memberi nasihat.


"Iya, besok Mei akan belajar masak,"


🍄🍄🍄


Sore harinya, seorang tetangga datang ke rumah. Namanya Bu Harti, istri kepala RT setempat. Dia berniat menawari Mei bekerja di toko bajunya, Bu Harti berpikiran jika yang menjaga toko bajunya seorang wanita cantik pasti tokonya akan laris.


"Permisi," ucap Bu Harti ramah.


"Kamu mau tidak, kerja ditempat Ibu? Daripada dirumah terus," bujuk Harti.


"Kerja apa Bu?"


"Jaga toko baju, khusus buat kamu mah Ibu gaji UMK pokoknya deh. Mau tidak?"


"Mau Bu, mau. Jadi kapan aku bisa mulai kerja?"


"Besok pagi, jam delapan Ibu jemput ke rumah. Oke?"


"Oke Bu."


Kesepakatan telah terjalin, obrolan keduanya selesai. Mei masuk kedalam rumah saat Bu Harti pergi, dia ikut bergabung dengan Ayahnya yang sedang asyik menonton acara televisi.

__ADS_1


"Siapa yang datang Mei?" Tanya Agung.


"Bu Harti, dia nawarin kerjaan ke Mei,"


"Kerja apa?"


"Jaga toko baju punya dia, lumayan gajinya UMK,"


"Kapan mulai kerja?"


"Besok,"


"Toko Bu Harti ada di pasar, disana banyak laki laki. Kamu harus pandai pandai membawa diri, pakai pakaian yang tertutup agar tidak digoda oleh mereka. Mengerti?"


"Iya, aku mengerti,"


Mei paham betul kekhawatiran Ayahnya, memang setelah menjadi janda banyak pria yang mencoba menggoda dan mendekatinya. Bahkan teman teman kerja dan sekolahnya dulu ada yang sering menelfon dan mengajaknya berpacaran.


Mei harus berhati hati, dia tidak boleh masuk ke dalam lubang yang sama. Cukup sekali dia merasakan sakit karena kesalahannya sendiri hingga kehilangan pria yang dia cintai.


Meskipun Mei merasa menjadi janda itu sulit, terlebih jika dia sedang menginginkan itu. Tiba tiba saja Mei teringat pada Justin dan merindukan sentuhannya. Andai dia ada disisinya saat ini, dia pasti tidak akan merasakan kedinginan dan kesepian.


"Mei," panggil Agung saat melihat putrinya melamun.


"Apa ada yang sedang kamu pikirkan?"


"Tidak ada," Mei berbohong. Dia melakukan itu agar Ayahnya berhenti menginterogasinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2