
Satu minggu pasca lamarannya diterima, Januar dan April melakukan prosesi pernikahan secara resmi. Acara tersebut diadakan secara tertutup agar kesakralannya tetap terjaga.
Novi baru saja pulang dari acara pernikahan April dan Januar. Dia secara tak sengaja bertemu dengan Sonia di jalan, Sonia langsung turun dari mobil saat melihat tampilan Novi yang seperti baru pulang kondangan.
"Nov, dari mana kamu? Tumben tampil rapih sekali," tanya Sonia.
"Aku baru pulang kondangan dari rumah April," sahut Novi.
"April sudah menikah lagi? Dengan orang mana?" Sonia sedikit terkejut.
"Dia rujuk lagi sama mantan suaminya," tutur Novi.
"Maksud kamu si Januar?" Mata Sonia mendelik. Dia tak terima jika Januar dan April kembali rujuk.
"Iya, betul."
Darah dalam diri Sonia mendidih, dia terbakar api cemburu karena pria yang dia suka dinikahi oleh April. Kenapa juga mereka berdua harus rujuk lagi? Seperti tidak ada wanita lain saja selain April. Pelet apa yang sudah dipakai April? Sampai sampai Januar enggan berpaling darinya. Sonia terus berceloteh di dalam hati.
"Ya sudah Bos, saya pulang dulu," pamit Novi.
"Iya," sahut Sonia ketus.
Novi tau kalau Bosnya sedang patah hati dan marah, perempuan itu memang pandai membaca isi hati dan pikiran seseorang. Terlebih pikiran dan isi hati Bosnya sendiri.
"Semoga saja, Bos tidak memiliki niat jahat pada April setelah ini," batin Novi.
🍄🍄🍄
__ADS_1
Pasca acara pernikahan selesai, Juli keluar dari rumah. Dia sengaja melakukan itu agar tidak mengganggu romantisme pasangan pengantin baru dirumah.
Juli mampir kesebuah warung kopi milik Ibu teman sekolahnya. Warung yang menjual aneka gorengan, es dan mi rebus juga.
"Bu, Indri ada?" Tanya Juli.
"Ada, sedang cuci piring di dalam. Nanti ibu panggilkan ya, duduk saja dulu," sahut wanita paruh baya itu. Dia masuk kedalam warung memanggil putrinya.
Tak lama, seorang wanita cantik berkulit sawo matang keluar dari dalam warung. Sebuah kain lap berwarna hijau melingkar di lehernya.
"Juli, tumben main ke warung. Ada apa?" Tanya Indri.
"Tidak ada apa apa, hanya sedang bosan saja dirumah," sahut Juli.
"Kalau bosan pergi liburan saja, kalau tidak jalan jalan ke Mall. Kamu kan punya Ipar kaya," celetuk Indri tanpa ekspresi rasa berdosa.
"Makannya cari pacar yang kaya, Kakakmu saja bisa dapat orang kaya masa kamu tidak. Kamu kan lebih cantik daripada dia," sindir Juli lagi.
Juli menarik nafas berat, sepertinya dia harus bisa menahan emosi karena untuk kedepannya banyak orang yang akan membandingkan dirinya dengan sang Kakak. Harusnya Juli tidak ambil pusing, karena rejeki, maut dan jodoh sudah ada yang mengatur. Tapi lama lama panas juga telinganya mendengar orang orang mulai membandingkan hidupnya dengan sang Kakak.
"Kenapa diam? Aku hanya bercanda saja, jangan diambil hati," ucap Indri saat menyadari kalau lawan bicaranya tersinggung dengan kata katanya.
"Iya, santai saja. Tolong buatkan aku es kopi, sekalian gorengan tempe mendoan tiga biji,"
"Iya, oke. Tunggu sebentar ya!"
🍄🍄🍄
__ADS_1
April merasa rumah terasa sepi, dia keluar kamar dan mencari keberadaan Juli. Namun sosok gadis muda itu tidak ditemukan, Juli memang seperti itu suka pergi pergi tanpa pamit terlebih dahulu dan membuat orang khawatir.
April membuat dua cangkir kopi, satu cangkir kopi hitam untuk Januar dan satu cangkir kopi susu untuknya. Tubuhnya terasa pegal dan linu, seharian ini Januar terus meminta jatah darinya.
Januar keluar dari kamar, dia mengikuti aroma kopi yang tercium wangi oleh hidungnya.
"Kamu memang perhatian sayang, baru bangun sudah disediakan kopi," Januar mengecup kening April lembut.
"Kamu tau tidak Juli pergi kemana?" Tanya April.
"Tidak, memang dia tidak ada dirumah?" Tanya Januar balik.
"Tidak,"
"Mungkin dia sedang main kerumah temannya karena tidak enak hati dengan kita,"
"Tidak enak kenapa?" April bingung.
"Kamu menjerit begitu keras setiap aku serang, telinga Juli mungkin ternodai dan merasa risih mendengar jeritanmu itu," celetuk Januar. April mendelik, dia mencubit pinggang Januar hingga pria itu melompat tinggi tinggi.
Pipi April merona, dia merasa malu karena diledek oleh suaminya sendiri. April memang tidak bisa menahan diri tiap disentuh oleh Januar, wajar saja jika dia mengeluarkan reaksi yang tak biasa.
"Bisa tidak jangan bahas soal itu di luar kamar, malu tau!" April marah.
"Kenapa harus malu, aku kan suami kamu sendiri bukan orang lain."
Januar merasa senang melihat wajah April tersipu, saat sedang seperti itu April terlihat lebih cantik dan menarik dari biasanya.
__ADS_1
Bersambung...