
Januar mengantar April hingga ke tempat kerja, melihat kedatangan pria yang di incar olehnya Sonia langsung keluar dari dalam toko. Dandanan menor ala ondel-ondel khas Betawi, pakaian mini seperti kurang bahan sangat mengganggu siapa saja yang menatap Sonia.
Jangankan manusia, melihat tampilan Sonia yang seperti itu hantu saja mungkin akan lari ketakutan. Benar benar diluar nalar akal manusia normal, ada wanita yang berpendidikan dan berwawasan luas mau merubah penampilannya seperti wanita nakal.
"April, masuk kedalam. Novi sudah menunggu!" Perintah Sonia. Wajahnya terlihat judes, jelas sekali dia tidak suka April dekat dekat dengan Tuan Januar.
"Baik Bos," ucap April. April langsung melangkah masuk ke dalam toko meninggalkan Januar dan Sonia berduaan di teras.
Januar hendak masuk ke dalam mobil, tapi Sonia segera menahannya. Tangan Sonia menarik lengan Januar dan pria tampan itu langsung menepisnya.
"Tunggu!" Seru Sonia.
"Ada apa nona?" Tanya Januar sambil mengerutkan dahi. Dia sangat tidak suka ada seseorang yang menyentuh tubuhnya secara sembarangan.
"Apa boleh aku meminta nomor ponselmu?" Tanya Sonia dengan nada genit.
"Maaf Nona, sepertinya Anda harus minta ijin terlebih dahulu pada istri mudaku," ucap Januar.
"Istri muda mu?" Sonia kebingungan.
"April maksudku," jelas Januar.
"Apa? April adalah istri muda mu?" Sonia terkaget kaget. Jantungnya sampai hampir lepas dari tempatnya.
"Ya," jelas Januar.
"Eh, apa Anda tertarik untuk memiliki istri lagi? Aku ingin mendaftar," celetuk Sonia.
"Maaf Nona, anda bukanlah tipeku." Tolak Januar tegas.
Pria itu masuk kedalam mobil, meninggalkan Sonia yang mendengus kesal sendirian. Tak terima diabaikan begitu saja, Sonia langsung menghampiri April dan melampiaskan kekesalannya kepada wanita itu.
"Sini kamu April," Sonia menyeret lengan April kasar.
__ADS_1
"Ada apa Bos?" April kebingungan.
"Pelet apa yang kamu gunakan untuk memikat Tuan Januar? Kenapa pria berkelas itu mau menikah dengan wanita seperti kamu?" Sentak Sonia.
"Pelet? Aku tidak menggunakan pelet apapun, mungkin karena rejekiku saja yang bagus," sahut April.
"Alah, ngaku saja kamu. Wanita dekil dan miskin seperti kamu mana ada pria yang mau kalau tidak pakai pelet!" Cibir Sonia.
"Maaf Bos, kalau kalah saing perbaiki diri, bukannya merendahkan lain. Biar begini, aku masih punya harga diri. Mulai hari ini juga aku berhenti menjadi karyawan mu!" Ucap April tegas.
🍃🍃🍃
Sepanjang jalan menuju rumah, April memonyongkan bibirnya ke depan. Pengemudi Taxi yang dia tumpangi sampai ketakutan, karena April mirip dengan orang gila.
"Baru kali ini aku bertengkar dengan orang lain karena seorang pria, sampai keluar dari tempat kerja lagi!" Gerutu April pada dirinya sendiri.
April membuka pintu rumah, kemudian mengurung diri didalam kamar. Untuk beberapa waktu ke depan, dia akan menjadi seorang pengangguran. Jenuh memang, tapi bukankah ini yang diinginkan oleh Januar?
Waktu bergeser, Juli pulang dari sekolahnya. Dia kaget karena sang Kakak sudah ada dirumah, padahal belum jam pulang kerja.
"Tidak, kenapa memangnya?" Tanya April balik.
"Tumben jam segini sudah ada dirumah?" Yuli melempar tasnya keatas sofa.
"Aku keluar dari tempat kerja," sahut April.
"Keluar? Kenapa memangnya?" Juli terkejut.
"Aku bertengkar dengan Bos gara gara Tuan Januar,"
"Lah, kok bisa?" Juli lebih terkejut lagi.
"Sepertinya Bos ku suka pada Tuan Januar lalu di tolak," tutur April.
__ADS_1
"Astaga Nona Sonia, seperti tidak ada pria lain saja. Suka kok sama suami karyawan sendiri." Juli menggerutu heran.
Malam harinya, Januar kembali datang ke rumah. Dia membawa sebuah koper berukuran besar berisi pakaian dan barang barang pribadinya. April panik, apa pria itu mau pindah rumah?
Tak lama, ketua RT setempat datang kerumah April. Sudah jelas kalau pria tua berjenggot itu ingin menanyakan soal pria yang sering mondar mandir ke rumahnya sampai menginap.
"Permisi April, Bapak mau tanya pria ini siapa? Bapak dapat laporan dari warga kalau kamu menerima tamu asing bahkan sampai menginap,"
"CCTV terbaik yang ada didunia ini memang tetangga," ucap Juli lirih.
"Aku suaminya," Januar mengeluarkan selembar surat dari dalam tasnya. Surat itu adalah surat keterangan kalau April dan Januar telah menikah secara siri.
"Oh... Kamu sudah menikah? Kenapa tidak lapor?" Tanya Pak RT.
"Maaf, belum sempat Pak," April meringis.
"Ya sudah kalau begitu, Bapak pulang dulu. Maaf sudah mengganggu waktunya," pamit Pak RT.
"Iya Pak,"
Rupanya yang dikatakan Januar benar, dia selalu membawa surat nikahnya dengan April kemanapun dia pergi. Sepertinya surat itu sangat berharga untuknya.
"Tolong buatkan aku secangkir kopi, buatkan juga makan malam yang enak," pinta Januar.
"Uangnya buat belanja mana?" April menengadahkan tangan kanannya.
"Ini, ambil sendiri di tasku." Januar memberikan sebuah tas berisi uang dan surat surat penting pada April lalu berlalu pergi kearah kamar mandi.
"Kak, ambil yang banyak. Aku juga mau buat jajan seblak, tiga ratus ribu saja," bisik Juli.
"Seblak apaan harganya tiga ratus ribu?"
"Kan buat jajan seblak selama satu bulan. Hi... Hi... Hi..."
__ADS_1
Bersambung...