Istri Simpanan Tuan Januar

Istri Simpanan Tuan Januar
Bab 24


__ADS_3

Januar terus mengabaikan Mei ketika berada dirumah, dia bahkan terus menutup matanya dan berbaring diatas tempat tidur agar Mei tidak memiliki kesempatan untuk mengajaknya mengobrol. Mei tau kalau Januar marah kepadanya, semua karena Mei terus memaki dan menghina April tadi.


Mei sedih karena Januar hanya memikirkan perasaan April, dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan Mei saat ini. Pria itu terlalu egois, atau memang Mei yang egois karena memaksa terus bersama setelah ketahuan berselingkuh. Bahkan, mei sampai rela menipu Januar dengan kehamilan palsunya.


Mei meraih ponsel, dia keluar ke balkon dan menghubungi Justin secara diam diam.


Tut... Tut... Tut...


Bunyi suara telfon tersambung, tak lama suara Justin muncul dari balik speaker ponsel itu.


"Hallo, Mei. Ada apa malam malam kamu menelfon ku?" Tanya Justin.


"Rencanamu gagal, aku memang batal bercerai dengan Januar tapi aku tidak bisa meraih hatinya lagi,"


"Apa maksudmu?"


"Januar terlanjur membenciku, dia mengalihkan semua cinta yang ada didalam dirinya kepada April seorang. Tidak ada lagi tempat dihatinya untukku, walaupun itu hanya sedikit saja. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Bersabarlah, dibanding April, kamu lebih lama menjadi istrinya. Lakukan sesuatu yang membuatnya senang dan buat dia merasa kasihan padamu, berhenti marah marah dan bersikap kasar pada April,"


"Apa aku harus melakukan itu semua?" seketika Mei merasa ragu.


"Harus lah, demi mendapatkan hati Januar lagi," Justin terus memberi dukungan.


"Bagaimana kalau gagal?" Ucap Mei.


"Belum mencoba sudah menyerah, dasar payah!" Maki Justin.


"Baiklah, aku akan mencobanya. Terimakasih atas saranmu."

__ADS_1


Klik...


Mei menutup telfonnya, dia kembali masuk kedalam kamar dan berbaring disisi suaminya. Diam diam Mei merangkul pinggang Januar dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu, Mei menangis terisak dan membuat Januar terbangun.


"Aku tidak jahat Mei, kamu sendiri yang membuat aku berubah seperti ini. Tapi, apa aku sudah terlalu keras padamu?" Ujar Januar dalam diamnya.


🍄🍄🍄


Sarapan pagi biasanya digunakan oleh keluarga untuk mengobrol dan berbincang ringan tentang rencana yang akan mereka lalui hari ini. Tapi bagai Mei hal itu tidak berlaku, ruang makan sepi bak kuburan. Januar mematung dan hanya memandang makanan yang disajikannya seperti mayat hidup.


Biasanya, Januar sangat serang jika Mei memasak dan menyiapkan makanan untuknya. Tapi kalo ini berbeda, dia seolah tak berselera untuk menyantapnya.


"Aku sudah bersusah payah memasak ini untukmu, makanlah," pinta Mei.


"Kamu sendiri yang mau memasaknya, aku tidak pernah menyuruhmu," ucap Januar ketus.


Hati Mei kembali sesak, dia menangis tanpa bersuara. Melihat itu Januar jadi merasa kasihan padanya, tapi rasa benci pada wanita itu lebih besar dari segalanya.


Pada akhirnya, ego Januar menurun. Dia mau membalik piring dan mengambil makanan yang telah disediakan oleh Mei lalu menyantapnya secara perlahan. Mei sama sekali tidak melirik kearah Januar, dia sibuk dengan garpu dan sendok yang sedang dipegangnya.


Sementara itu di rumahnya...


April sibuk mengecek ponselnya terus menerus, dia menunggu pesan dan telpon masuk dari Januar suaminya. Hatinya gelisah, karena semenjak dijemput oleh Mei Januar sama sekali belum menghubunginya.


"Pasti sedang menunggu kabar dari Kak Januar ya?" Tebak Juli.


"Iya, dia belum mengirim pesan padaku," ucap April.


"Dia sedang berada dirumah istri pertamanya, bukan dirumah selingkuhannya. Harusnya Kakak tidak perlu cemas seperti itu, mungkin saja Kak Januar sedang sibuk," celetuk Juli.

__ADS_1


Sibuk? Arti dari kata sibuk yang diucapkan Juli begitu banyak. Sibuk mengerjakan pekerjaan kantor, sibuk mengurus rumah, atau sibuk memanjakan istri yang sedang hamil. Ah, April tidak boleh cemburu. Dia harus sadar diri dengan posisinya sebagai istri kedua.


Jika sudah waktunya, Januar pasti akan pulang kerumahnya dan menemuinya seperti biasa. Mana mungkin pria itu melupakannya begitu saja, apa lagi Mei sudah berselingkuh dibelakangnya.


Meski begitu sebenarnya April menginginkan Januar dan Mei kembali menjalin hubungan baik. Tiap orang pernah melakukan kesalahan, termasuk Januar dan Mei. Harusnya mereka mau belajar dan semakin memperbaiki diri masing masing.


"Kak, bagaimana kalau pada akhirnya kalian berdua bercerai?" Tanya Juli.


"Tidak masalah, pada awalnya aku dan Tuan Januar menikah untuk bercerai," April berusaha bersikap santai walau hatinya terasa nyeri.


"Yakin, Kakak akan baik baik saja?"


"Yakin,"


"Aku tidak yakin Kakak akan baik baik saja, Kakak menyukai Kak Januar, aku tau itu,"


"Jangan sok tau deh!"


"Kelihatan sangat jelas kalau Kakak menyukainya, bahkan orang buta saja bisa tau apalagi aku?"


April terdiam, ekspresi wajahnya berubah datar. Dia mencoba merenungkan apa yang dikatakan oleh Juli. Kalau dia dan Januar benar benar bercerai, sepertinya April memang tidak akan baik baik saja.


Januar memang pernah berjanji tidak akan meninggalkannya, tapi janji seorang pria tidak selamanya bisa dipegang teguh. April harus tetap bersiap menyambut kenyataan pahit yang mungkin saja akan datang secara tiba tiba.


Mei akan mengandung, dia akan segera melahirkan seorang bayi lucu untuk Januar. Jika Januar benci pada Mei, dia tidak akan mungkin benci pada darah dagingnya sendiri. Bayi itu mungkin saja bisa memalingkan perhatian Januar pada siapapun, termasuk April.


"Jangan melamun Kak, nanti kesurupan loh!" Canda Juli.


"Bercanda mu itu tidak lucu!" April menoyol kepala adiknya pelan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2