
Sore itu, Mei pamit pulang lebih awal pada Bosnya, dia ingin menjemput Justin di terminal Bus kota dan membawanya untuk mencari penginapan. Mei tidak mungkin membawa Justin pulang ke rumah, Ayahnya akan marah kalau dia membawa pulang laki laki sembarangan. Terlebih laki laki itu adalah mantan selingkuhannya.
Suasana terminal lumayan ramai, banyak bus yang hilir mudik keluar terminal juga beberapa penumpang dengan banyak barang bawaan. Hanya dengan mencium aroma parfumnya saja Mei bisa dengan cepat menemukan Justin, pria itu sedang menunggunya di depan pintu masuk terminal.
"Cepat sekali bisa menemukan aku, padahal aku tidak bilang aku sedang menunggumu disebelah mana," Justin meringis.
"Untuk apa kamu datang kesini?" Mei berterus terang.
"Aku merindukan kamu," sahut Justin.
"Apa?" Mei terkaget kaget.
"Mei, sepertinya aku jatuh hati padamu dan tidak bisa hidup jauh darimu," Justin memberanikan diri mengatakan perasaanya.
"Jangan bicarakan soal perasaan disini, kita langsung cari penginapan saja," ujar Mei.
"Penginapan? Kenapa kita tidak ke rumah kamu saja?"
"Mana mungkin aku mengajakmu kerumah, bisa dipotong leherku oleh Ayahku," ucap Mei lantang.
Keduanya menaiki Taxi, mereka pergi mencari penginapan yang letaknya tak jauh dari terminal bus. Lama mencari, akhirnya dua manusia itu menemukan sebuah penginapan sederhana dengan biaya sewa murah.
Di dalam Hotel...
Justin langsung memeluk Mei erat, dia mencium pipi wanita itu lembut lalu membelai rambut panjangnya.
"Apa kamu tidak pernah sekalipun merindukan sentuhanku Mei?" Bisik Justin.
"Tentu saja aku pernah merindukan sentuhan mu," sahut Mei malu malu.
"Apa kita bisa melakukan itu sekarang?"
"Bisa."
Pergumulan dua insan akhirnya terjadi, keduanya benar benar memanfaatkan waktu kebersamaan mereka dengan baik. Tidak ada yang dilewatkan oleh Justin sedikitpun, dia memperlakukan Mei seolah olah Mei adalah tuan putri dari sebuah kerajaan dan dia adalah pangerannya.
Dua jam melakukan penyatuan, keduanya terkapar dan sama sama kelelahan.
__ADS_1
"Rasanya masih sama seperti dulu, benar benar candu bagiku," puji Justin.
"Kamu, bisa saja!"
"Mei, aku ingin hubungan kita melangkah ke jenjang serius. Kamu mau kan menikah denganku?" Justin menatap wajah Mei lekat lekat.
"Entah lah, aku bingung. Lagi pula Ayah belum tentu mengizinkannya,"
"Kita coba saja dulu bicara padanya secara pelan pelan,"
"Aku mandul, apa kamu mau menerima kekuranganku yang satu itu?"
"Aku mau, itu bukan masalah besar bagiku. Aku mau menerima kamu apa adanya sayang,"
Suasana sekitar berubah jadi hening, Mei benar benar dibuat berpikir keras oleh Justin. Pria itu terlihat begitu tulus padanya, tapi Mei merasa tidak percaya diri karena kekurangannya.
Bagaimana jika suatu saat nanti Justin berpaling dan mengungkit kekurangannya? Tapi apa wanita mandul seperti dirinya tidak boleh membina rumah tangga? Boleh kan?
"Jadi bagaimana Mei? Kamu mau tidak menikah denganku? Kalau mau, aku akan memperjuangkan izin dari Ayahmu,"
"Aku..."
"Janji ya, hanya untukku seorang?"
"Ya, aku janji."
🍄🍄🍄
Agung mulai uring uringan, hari sudah malam tapi Mei belum juga pulang ke rumah. Dia menebak Mei mampir ke suatu tempat bersama temannya, tapi kenapa dia tidak meminta izin terlebih dahulu atau mengabari orang rumah?
Agung mondar mandir di depan pintu, sesekali dia melirik kearah jam dinding yang telah menunjukan pukul 21.30 menit. Samar samar Agung melihat bayangan Mei diujung gang, dia berjalan pelan dengan langkah seperti orang kelelahan.
"Kemana saja anak itu, masa jam segini baru pulang," gerutu Agung kesal.
Mei melempar senyum kecil, Agung tak langsung membalasnya.
"Kamu dari mana saja?" Tanya Agung.
__ADS_1
"Maaf, aku dari rumah teman tadi,"
"Kenapa tidak mengabari Ayah? Ayah kan jadi khawatir," omel Agung.
"Aku kehabisan pulsa," Mei meringis.
"Masuk sana, cepat mandi dan makan," perintah Agung. Dia memperlakukan Mei seperti anak SMP.
"Iya." Ucap Mei lirih.
Pulang telat saja seperti ini, apa lagi dia meminta izin untuk menikah dengan Justin sepupu Januar?
Selesai makan, Mei mendekati Agung yang sedang menonton Tv sambil minum kopi.
"Kenapa tidak langsung tidur?" Tanya Agung.
"Ada yang mau aku bicarakan,"
"Soal apa?"
"Besok temanku ada yang mau datang kesini, Ayah jangan galak galak ya. Malu," ucap Mei.
"Teman yang mana?"
"Justin, sepupu Januar,"
"Oh... Justin. Dia kesini sendiri?"
"Iya, sendiri."
"Mau apa dia kemari?"
"Besok juga Ayah tau, sekarang aku mau pergi dulu. Selamat malam Ayah,"
"Malam."
Mei melangkah menuju kamarnya, dia tau Agung masih penasaran karena dia tidak memberi tahu secara gamblang alasan Justin datang ke rumahnya. Hati Mei berdebar menunggu hari esok, membayangkan bagaimana reaksi Ayahnya saat mendengar omongan Justin.
__ADS_1
Bersambung...