
Pukul 09.00 pagi April berangkat ke salon kecantikan untuk bekerja. Tiba disana, dia diminta untuk naik ke lantai dua, dilantai itu ada lima buah kamar khusus, April diminta menunggu didalam kamar nomor lima.
Tanpa banyak bertanya, April langsung masuk kedalam kamar itu. Dia sama sekali tidak menaruh curiga meskipun ada banyak alat permainan panas yang terpajang disana, juga beberapa buah busana super seksi dengan bahan jaring jaring.
Tuk... Tuk... Tuk...
Suara pintu di ketuk, April membuka pintu dan mendapati seorang pria yang dia kenal berdiri didepan sana.
"Febri, mau apa kamu disini?" Tanya April.
"Tentu saja aku mau menggunakan jasamu wanita murahan!" Ucap Febri.
"Maaf, aku hanya melayani pelanggan perempuan. Lagi pula, ini salon khusus perempuan bukan?"
"April, kamu itu polos atau bodoh? Salon ini adalah salon khusus pria hidung belang yang mencari kesenangan lewat kupu kupu cantik seperti kamu. Ha... Ha... Ha..."
"Sial, aku ditipu pemilik salon. Aku harus segera pergi dari sini," April mengambil ancang ancang untuk melarikan diri tapi Febri menahannya.
"Puaskan aku dulu, aku sudah membayar mu dengan harga tinggi,"
"Tidak, aku tidak mau!"
Febri mendorong April dan menjatuhkannya diatas ranjang, dia merobek pakaian itu dan membuangnya kelantai. Dia sama sekali tidak peduli dengan teriakan dan isak tangis April. Hasratnya sudah memuncak dan meminta untuk di tuntaskan.
Brakk...
Seseorang datang mendobrak pintu, dia adalah Januar mantan suami April. Melihat jandanya dilecehkan, Januar mengamuk dan mengajar Febri hingga babak belur.
"Ampun, ampuni aku Tuan," rengek Febri dengan wajah berdarah darah.
__ADS_1
"Cepat pergi dari sini, atau aku akan membunuh kamu!" Ancam Januar.
Febri lari terbirit birit tanpa berani menoleh kebelakang. Melihat Januar, tangis April menjadi semakin pecah. Dia sedih karena hampir saja dinodai oleh mantan kekasih mendiang Ibunya.
"Terimakasih, terimakasih karena kamu sudah mau datang untuk menolongku. Terimakasih karena kamu masih peduli padaku. Hiks... Hiks... Hiks..." Ucap April terpotong potong.
Januar mencopot jas yang dikenakannya dan memakaikannya kepada April. Kemudian dia membopong April ala bridal style dan memasukannya kedalam mobil pribadinya.
"Jadikan ini pelajaran, jangan sembarangan mencari pekerjaan!" Ucap Januar. April mengangguk sambil menyeka air mata yang terus mengalir ke pipi.
"Tapi, bagaimana kamu bisa tau kalau aku ada ditempat itu?" April memasang wajah penasaran. Dia tidak menceritakan kepada siapapun soal salon itu kecuali adiknya.
"Selama ini aku meminta Pak Anton untuk mengawasi kamu dari jauh, aku khawatir akan terjadi sesuatu padamu selepas kita berpisah," sahut Januar.
April terharu, untuk pertama kalinya dalam hidup dia merasa dihargai oleh seseorang. Seorang pria yang telah meninggalkannya dan seharusnya tidak memiliki hubungan apapun lagi setelah itu. April reflek memeluk lengan Januar, dia juga memberikan sebuah ciuman manis di pipi.
"April, jangan mencoba untuk meruntuhkan imanku yang sudah setipis tisu dibagi tujuh." Januar melayangkan sebuah peringatan keras.
Tiba dirumah, April meminta Januar untuk duduk sebentar. Dia ingin mengajak Januar mengobrol tentang kejadian naas yang hampir menimpanya tadi.
"Tolong jangan ceritakan kejadian tadi pada Juli ya Mas," ucap April sambil menyuguhkan secangkir kopi pada Januar.
"Kamu panggil aku apa?" Januar sedikit syok.
"Mas, kenapa memangnya? Tidak suka ya, aku panggil kamu Mas?" Tanya April.
"Aku suka kok," Januar senyum senyum.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan menceritakan kejadian tadi pada Juli," ujar Januar lagi.
__ADS_1
April diam diam mengamati Januar, tubuhnya jadi kurus, garis halus sudah mulai muncul di dahinya. Apa dia baru sembuh dari sakit? Atau dia terlalu banyak pikiran hingga tak bisa makan enak dan tidur nyenyak?
April penasaran dengan keberlangsungan hubungan Januar dan Nona Mei. April memberanikan diri untuk bertanya kepadanya.
"Bagaimana kabar Nona Mei dan anak yang ada diperutnya?" Tanya April.
"Dia baik, perutnya juga sudah mulai membesar," Januar menyeruput kopi dan meletakkannya diatas meja tamu.
"Syukurlah kalau begitu, kalau hubungan kalian berdua bagaimana?" Tanya April lagi. Januar tau kalau April sangat penasaran pada hubungan Mei dan dirinya, apalagi mereka sudah lama tidak berjumpa.
"Kami masih tinggal satu rumah, tapi... Hanya sampai anak itu lahir dan bisa melakukan tes DNA,"
"Aku berharap hubungan kalian bisa kembali seperti dulu, tapi ternyata tidak bisa,"
"Jadi itu alasan kamu minta berpisah dariku? Kamu memikirkan perasaan Mei dan masa depan anak yang ada didalam perutnya?"
"Iya," sahut April singkat.
"Tidak ada salahnya menjadi orang baik April, tapi cobalah untuk memikirkan dirimu sendiri. Jangan hanya memikirkan orang lain saja!"
April menunduk, salahkah dia melakukan sedikit pengorbanan untuk Januar? Lagi pula, April adalah awal mula penyebab rumah tangga Januar dan Nona Mei mengalami kisruh.
Jujur saja, sampai saat ini April masih mencintai Januar. Move on dari pria itu seperti sesuatu yang mustahil untuk dia lakukan. Januar terlalu indah untuk dijadikan kenangan, bolehkah April meminta rujuk setelah semua yang terjadi? Tidak bisa, nanti Januar menilai April sebagai wanita plin plan dan tak punya pendirian.
"April, kenapa kamu melamun?" Januar menatap mantan istrinya dalam dalam.
"Ah, aku tidak kenapa napa kok," April kikuk.
"Jangan bohong ya, aku tau kamu sedang memikirkan sesuatu," tebak Januar.
__ADS_1
"Tidak kok, aku tidak sedang memikirkan apapun. Sumpah deh!" April meringis seperti kuda.
Bersambung...