
Juli pulang dari sekolah, dia sedikit kaget April ada dirumah. Apa lagi melihat ekspresi wajahnya yang berbunga dan selalu mengukir senyum, Juli curiga sesuatu telah terjadi pada Kakak perempuannya.
"Kak, kenapa jam segini sudah ada dirumah? Bukannya Kakak bilang hari ini sudah mulai kerja?" Tanya Juli beruntun.
"Aku tidak jadi kerja disana, ternyata salon itu adalah salon plus plus. Hampir saja aku dilecehkan oleh Febri, mantan pacar Ibu. Untung saja Mas Januar datang menolongku," sahut April.
"Salon plus plus? Kenapa Kakak tidak hati hati sih melamar kerjanya? Kenapa juga Febri bisa ada disana?" Juli terbakar emosi.
"Febri langganan salon itu," sahut April.
"Hi.... Menggelikan sekali!" Ucap Juli.
"Ngomong ngomong, bagaimana dengan Tuan Januar? Dia tidak marah sama Kakak karena kebodohan Kakak tadi?" Lanjut Juli. Dia duduk disisi April sambil menaruh tas punggungnya.
"Tentu saja dia marah, tapi mau bagaimana? Aku terlalu polos jadi tidak tau apa itu salon plus plus," April memutar bola matanya.
"Polos? Mana ada wanita polos suka minta jatah duluan pada suaminya," sindir Juli. Kamar mereka sebelahan, jadi Juli bisa mendengar aktifitas April dan Januar saat malam hari.
"Juli, bisa bisanya kamu menggoda Kakak sendiri!" Pipi April bersemu merah.
"Ini bukan menggoda, tapi kenyataan. Ha... Ha... Ha..." Juli tertawa geli melihat ekspresi wajah malu sang Kakak.
Sentuhan Januar memang selalu berhasil membuat April menggila, hal itu membuatnya kecanduan dan gemar meminta jatah terlebih dahulu pada Januar. Tidak ada salahnya bukan? Toh mereka berdua sama sama menyukainya.
🍄🍄🍄
__ADS_1
Tiba dirumah, Januar menyandarkan kepalanya di bahu sofa. Dia terus mengingat bayang wajah mantan istrinya yang terlihat semakin cantik dan menggoda.
April mungkin sudah mulai mengalami kesulitan ekonomi, uang pemberiannya mungkin sudah habis. Perlukah Januar membuka sebuah usaha untuk April? Lagi pula Januar takut kejadian buruk itu terulang lagi jika April melamar kerja ditempat asing.
Mei keluar dari dapur sambil membawa secangkir kopi, dia melempar senyum meski dia tau Januar tidak akan pernah membalasnya.
"Aku buat kopi spesial untukmu," ucap Mei sambil menaruh gelas kopi diatas meja. Dia mengukir senyum manis seperti madu, tapi sayang Januar tidak pernah menyambut senyum manis itu.
"Terimakasih," ucap Januar.
"Sama sama," balas Mei.
Mata Januar tak sengaja menangkap adanya noda merah di bagian belakang rok Mei. Apa Mei sedang datang bulan? Bukankah dia sedang hamil? Januar kaget bukan main. Jadi selama ini dugaannya benar, Mei hanya berpura pura hamil saja.
"Mei, ada apa dengan rok belakangmu? Kenapa ada noda merah?" Tanya Januar.
Rasa marah dan kecewa menyelimuti hati Januar, dia tak menyangka kalau Mei nekat membohonginya. Apa dia lupa efek buruk karena telah berani membohongi seorang Januar? Hantu saja takut padanya, Mei kelewat berani.
Didalam kamarnya...
Mei marah pada dirinya sendiri, bisa bisanya dia mendapatkan datang bulan secara tiba tiba. Januar pasti curiga padanya, cepat atau lambat kebohongannya akan terbongkar. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Kabur dari rumah? tidak mungkin.
Mei mencari stok pembalut yang ada didalam lemari dan memakainya, dia juga mengganti pakaiannya dengan yang baru. Dia harus segera mencari alasan yang pas untuk menjawab pertanyaan dan keraguan Januar padanya.
Januar masuk kedalam kamarnya, dia mendekati Mei dan berpura pura bersikap manis padanya. Mei was was, dibalik sikap manis Januar itu pasti ada maksud tersembunyi.
__ADS_1
"Aku senang dengan perubahan sikapmu," Januar memeluk Mei dari belakang sambil menyentuh perut Mei. Dia merasa heran karena perut Mei tidak keras melainkan empuk seperti sebuah bantal kecil.
"Aku berubah demi kamu Januar," Mei menyingkirkan tangan Januar dari perutnya.
"Buka bajumu," Pinta Januar.
"Apa kamu menginginkan itu dariku? Akhirnya setelah sekian lama kamu menginginkan aku juga," ucap Mei sambil mendekati tombol lampu.
"Mau kemana kamu?" Tanya Januar.
"Aku mau matikan lampu," sahut Mei.
"Tidak perlu dimatikan, cepat lepas bajumu sekarang juga!" Nada bicara Januar meninggi.
"Aku... Aku..." Mei merasa gugup dan sedikit tertekan.
"Aku tau kamu membohongi aku, kamu pura pura hamil kan?"
Mei bersimpuh dibawah kaki Januar, dia menangis berharap Januar merasa iba dan kasihan padanya. Tapi sayang, hadapannya itu pupus. Januar malah makin benci pada Mei.
"Mei, detik ini juga kamu aku talak tiga!" Ucap Januar.
"Tidak, aku tidak mau," Mei menangis.
"Aku benci padamu!" Januar mendorong Mei dari bawah kakinya hingga jatuh tersungkur. Kemudian dia pergi entah kemana.
__ADS_1
"Januar, jangan tinggalkan aku!" Teriak Mei.
Bersambung...